RSS
email
0

Konsistensi Adalah Salah Satu Kunci Branding


Hari ini lagi ngajak maknyak makan kwetiaw goreng di RM. Surya. RM. Surya ini adalah warung yang menyediakan makanan-makanan umum dengan citarasa China. Ada kwetiaw, bakmi, bihun, nasi, bistik, capcay, fuyunghay, dan sebagainya.

Pas lagi menunggu hidangan disajikan, pikiran melayang memikirkan betapa nama Surya ini sudah lumayan nempel di otak. Dulu pas tinggal di Bekasi ada RM. Surya dengan varian jenis makanan yang serupa, di Pademangan, Jakarta Utara juga ada. Di Jakarta Timur pun ada. Kayanya di setiap lokasi tinggal saya selalu ada RM. Surya terdekat yang bisa disambangi. Jadi secara perspektif pemasaran, bisa dibilang RM. Surya ini strategi place nya cukup oke.

Mengapa saya sampai rela-rela ngebelain nulis tentang RM. Surya ini, well u can call me they biggest fans. Nah saya makan berdua dengan maknyak saya, karena cuma berdua kita hanya pesan 1 porsi kwetiaw goreng. Seperti saya bilang sebelumnya, bahwa 1 porsi ala carte itu sangat banyaaaak. Jadi 1 porsi kwetiaw goreng pun sudah lebih dari cukup untuk kita nikmati berdua dengan total tagihan yang saya bayar sebesar 34 ribu rupiah. Seporsi menu makanan ala carte RM. Surya itu kisarannya dari 10 ribu sampai 50 ribuan, dan bisa dimakan untuk 3 orang. See, jadi secara price pun si RM. Surya ini juga cukup punya "taji" untuk menarik hati sang konsumen.

Meski secara place, sebuah brand eksis di mana-mana, dan memiliki harga yang menarik, namun jika secara kualitas produk itu mengecewakan, pastilah konsumen lari meninggalkan brand. Itu adalah hukum "alam" marketing. Nah RM. Surya ini memiliki keunggulan di kedua faktor (Place dan Price), ditambah lagi rasanya yang gurih dan lezat membuat saya rela memutar rute perjalanan pulang untuk mampir dengan ibu saya. Secara produk pun RM. Surya mampu menggenerate produk yang oke.

Lalu bagaimana dengan promosi? Well, untuk kasus RM. Surya ini sepertinya waktulah yang menjadi ukurannya. Maksudnya karena konsisten untuk menjalankan 3 faktor: Place, Price, dan Product untuk jangka waktu yang lama maka loyal consumen pun rela memberitakan kepada relasinya. Apalagi jaman 3.0 ini, RM. Surya pun goes online. Tidak percaya? Tulisan ini buktinya!


Sumber gambar: www.google.com


Read more
0

Manusia Dan Hewan


Tahu arti kata hewan? Pernah memperhatikan hewan? Mungkin kucing atau anjing. Kedua hewan ini buang hajat sembarangan, kencing sembarangan, reproduksi di sembarang tempat dan sembarangan lawan jenis. Hewan ini melakukan hal-hal demikian karena menuruti hasrat dagingnya. Kalo lapar ya makan, kalo kebelet buang hajat segera dilakukan.

Mengapa? Karena hewan tidak mempunyai akal budi seperti manusia. Dengan akal budi yang diberikan TUHAN, seharusnya manusia dapat menundukkan hasrat dagingnya dengan berpikir jernih menggunakan akal budi. Berbeda dengan hewan, karena tidak memiliki akal budi, hewan segera meresponi stimulus hasrat dirinya dengan tindakan; tanpa menundanya atau menahan diri. Karena hewan tidak memiliki akal budi.

Sebenarnya jika kita dalam melakukan suatu tindakan karena bersumber dari stimulus hasrat daging, kita tidak berbeda dengan hewan. Parahnya banyak manusia yang hidupnya setiap hari memuaskan hasrat dagingnya yang tiada habisnya ini tidak sadar dengan keadaan dirinya. Mungkin karena dibalut dengan sederet gelar kehormatan atau bertumpuk-tumpuk deposito dan surat-surat berharga. Atau mungkin juga karena terlalu putus asa akan pemenuhan 3 hal pokok jasmani (sandang, papan, pangan), yang kerap kali sukar didapat, sehingga menjadi pembenaran untuk melakukan apa pun demi hal ini. Nah situasi menghamba pada keinginan daging dan hasrat diri ini jika tidak disadari, maka akan menuju kondisi matinya akal budi.

Jadi, dengan modal yang diberikan TUHAN ini, seharusnya kita menjadi bijaksana dalam menjalani hidup. Masalahnya adalah bagaimana mendayagunakan akal budi ini semaksimal mungkin. Satu-satunya cara agar akal budi kita bekerja maksimal adalah dengan memburu pengenalan dan pemahaman yang benar akan TUHAN, Sang Sumber Kebijaksanaan. Itu hal pertama yang harus menjadi keinginan kita.

Sumber gambar: http://nowpublic.net
Read more
4

Korupsi adalah Mencari Makan?


Hari Kamis (8 April 2010) saya mencukur rambut di tukang cukur dekat rumah. Iseng-iseng saya melakukan tanya jawab dengan beliau :


Saya : Pak pelanggannya siapa aja di sini?

Bapak : Wah banyak mas.

Saya : Petugas pajak ada? Kan lagi rame-ramenya kasus pajak nih.

Bapak : Ada, tapi dia gak banyak omong. KPK juga ada, Bank swasta nasional juga ada. Di sini mah banyak.

Saya : Oh gitu…wah parah yah yang korupsi pajak itu, padahal gajinya udah gede lho. 12 juta/sebulan. Itu kalo di swasta udah level manajer tuh.

Bapak : Yah meski gaji gede juga, kalo liat ada duit nganggur, siapa yang gak ngiler.

Saya : Iya, namanya juga manusia, gak pernah puas.

Bapak : Iya kan namanya manusia. Lagian juga cari makan lah. Menurut saya kalo korupsi itu jangan tanggung-tanggung, sekalian yang gede, terus kabur ke luar negeri. Gak usah balik-balik.

Saya : ???? *bengong sambil mengurut dada, betapa mental anak Negeri sudah rusak sampai ke level akar rumput*


Duh korupsi itu bener-bener penyakit lho, berawal dari ketidakmampuan manusia untuk menahan hasrat memuaskan keinginan dagingnya, sehingga segala cara pun dilakukan. Dan repotnya, rakyat di tataran akar rumput yang sebenarnya adalah korban dari korupsi itu justru mempunyai pikiran bahwa korupsi termasuk kegiatan mencari makan, yang artinya wajar-wajar saja untuk dilakukan. Kalau orang seperti ini suatu ketika mendapat jabatan yang strategis, bukankah mungkin saja ia juga melanjutkan tradisi korupsi dan kolusi yang menurutnya adalah kegiatan mencari makan?


Duh Indonesia, kita bisa ngapain ya?


Sumber foto : xcavator.net

Read more
0

Social (moral) campaign


Bail out Century yang dicurigai terdapat unsur korupsi, penggelapan pajak, makelar kasus adalah kata-kata yang banyak bersliweran di koran terakhir-terakhir ini. Pusing juga karena setiap hari urat-urat di otak dibetot untuk membaca dan merasakan keprihatinan akan keadaan bangsa ini.

Sebenarnya menurut saya, kunci untuk tiadanya korupsi, penggelapan pajak, ataupun makelar kasus adalah setiap manusia kembali kepada TUHAN. Mungkin akan timbul pertanyaan, "Memang saat ini manusia belum kembali pada TUHAN? Belum!" Buktinya berita tentang kejahatan ini masih banyak. Manusia memang melakukan ritual ibadah keagamaannya, namun sepertinya itu hanya sekedar formalitas belaka. Khotbah yang disampaikan pengkhotbah hanya masuk kuping kiri untuk kemudian mental keluar lagi. Ritual keagamaan yang dilakukan menjadi kewajiban (yang mungkin membebani?) saja. Maka tidak heran, kegiatan beragama jalan terus, korupsi juga ogah berhenti.

Lalu ini perbaikan ini tanggung jawab siapa? Pemuka agama? Tanggung jawab kita semua dong! Secara individu, itu adalah tanggung jawab manusia masing-masing. Menjadi tanggung jawab saya, Anda dalam mempergunakan kehendak bebas (free will) -yang dianugerahkan TUHAN kepada kita- untuk memilih melakukan kehendak TUHAN : Menolak kejahatan, melakukan kebaikan.

Namun secara skills, sebagai manusia yang diberikan berkat dari TUHAN untuk mempelajari lingkup komunikasi pemasaran, seperti ada beban kepada saya untuk mengkomunikasi pemasaran-kan nilai-nilai ini kepada sesama manusia melalui saluran massal yang efisien dan efektif. Yup! Sebuah campaign untuk membujuk, mempersuasi, mempengaruhi manusia untuk kembali kepada TUHAN. Melakukan perintah-NYA, menjauhi larangan-NYA. Itulah produk yang akan saya komunikasikan kepada sesama manusia. Semoga banyak yang tertarik dan 'membelinya'. Setidaknya saya mau hidup saya bermakna bagi TUHAN melalui pembelajaran saya selama ini.

Sebagai langkah pertama, saya komunikasikan hal ini kepada Anda. Syukur-syukur ada praktisi Marketing Communications yang juga tertarik untuk membuat
campaign-campaign sejenis.

Read more
0

Tahu Campur khas Surabaya


Saat ini saya lagi nunggu warung Tahu Campur Surabaya buka, saat saya datang sekitar 20 menit dari waktu buka.


Warung ini sederhana, terbuat dari bilik kayu di samping jejeran gedung-gedung pertemuan dan showroom mobil-mobil mewah yang berada di boulevard Kelapa Gading. Setiap main ke Kelapa Gading pasti saya mampir ke sini. Memang makanan yang disajikan enak sih. Harganya pun terjangkau, Tahu Campur dan Tahu Tek2 9 ribu. Meski demikian yang ke sini ini biasanya bermobil lho. Dan sepertinya warung ini gak menyasar pekerja-pekerja di lokasi ini, waktu bukanya aja sekitar jam setengah 5 sore sampai jam 10an malam, tergantung stok persediaan hidangan.


Saya membayangkan kalau warung ini berpindah lokasi dan 'packaging' di mall atau trade center, atau di sebuah ruko. Apakah akan tetap saya kunjungi? Kok kayanya males ya...meski pun yang menjual tetap orang yang sama. Mengapa? Saat pertanyaan ini muncul jawaban yang hadir di otak saya sih sebagai berikut :


1. Orisinalitas

Kalo pindah ke mall atau ruko serta berganti packaging, sepertinya kok gak orisinal ya. Karena pas mau makan tahu campur ini bukan sekedar menghilangkan lapar namun juga merasakan hidangan khas Surabaya. Jadi kalo ganti packaging kok jadi seperti kehilangan keasliannya. Dan bisa jadi karena ganti packaging ini, sentuhan yang humanis dari si penjual juga akan berkurang kepada si pembeli.


2. Persepsi

Meski mungkin ada juga pelanggan yang berpikir. "Ah kan bentuk luarnya doang yang beda, rasa hidangannya kan sama aja." Tapi tetap aja ada pelanggan yang merasa kehilangan suasana kaki lima dari sebuah warung Tahu Campur khas Surabaya, sensasinya beda. Memang persepsi sebagian besar masyarakat adalah hidangan Tahu Campur khas Surabaya adalah di kaki lima dan bukan di mall atau ruko.


Saat ini sih itu yang kepikir. Sekedar menuangkan pikiran. Eh iya, ternyata saya sudah menjadi PR bagi si warung ya.... :D


Salam,

Erick Sowong


Sumber foto : Warung Tahu Campur khas Surabaya daerah boulevard Kelapa Gading.

Read more
0

Ngobrol Soal Copywriting dan Kebaikan Yuk!


Sebuah contoh kekuatan copywriting secara harfiah dicampur dengan moral kebaikan di dalam sebuah artikel.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Seorang anak laki2 tunanetra duduk di tangga sebuah bangunan dengan sebuah topi terletak di dekat kakinya. Ia mengangkat sebuah papan yang bertuliskan: 'Saya buta, tolong saya.' Hanya ada beberapa keping uang di dalam topi itu.

Seorang pria berjalan melewati tempat anak ini. Ia mengambil beberapa keping uang dari sakunya dan menjatuhkannya ke dalam topi itu. Lalu ia mengambil papan, membaliknya dan menulis beberapa kata. Pria ini menaruh papan itu kembali sehingga orang yang lalu lalang dapat melihat apa yang ia baru tulis. Segera sesudahnya, topi itu pun terisi penuh. Semakin banyak orang memberi uang ke anak tuna netra ini. Sore itu pria yang telah mengubah kata-kata di papan tersebut datang untuk melihat perkembangan yang terjadi. Anak ini mengenali langkah kakinya dan bertanya, 'Apakah bapak yang telah mengubah tulisan di papanku tadi pagi? Apa yang bapak tulis?'

Pria itu berkata, 'Saya hanya menuliskan sebuah kebenaran. Saya menyampaikan apa yang kamu telah tulis dengan cara yang berbeda.' Apa yang ia telah tulis adalah: 'Hari ini adalah hari yang indah dan saya tidak bisa melihatnya.'
Bukankah tulisan yang pertama dengan yang kedua sebenarnya sama saja?

Tentu arti kedua tulisan itu sama, yaitu bahwa anak itu buta. Tetapi, tulisan yang pertama hanya mengatakan bahwa anak itu buta. Sedangkan, tulisan yang kedua mengatakan kepada orang-orang bahwa mereka sangatlah beruntung bahwa mereka dapat melihat. Apakah kita perlu terkejut melihat tulisan yang kedua lebih efektif?

Moral dari cerita ini:
Bersyukurlah untuk segala yang kau miliki. Jadilah kreatif. Jadilah innovatif. Berpikirlah dari sudut pandang yang berbeda dan positif.
Ajaklah orang-orang lain menuju hal-hal yang baik dengan hikmat. Jalani hidup ini tanpa dalih dan mengasihi tanpa rasa sesal. Ketika hidup memberi engkau 100 alasan untuk menangis, tunjukkan pada hidup bahwa engkau memiliki 1000 alasan untuk tersenyum.
Hadapi masa lalumu tanpa sesal.
Tangani saat sekarang dengan percaya diri.
Bersiaplah untuk masa depan tanpa rasa takut.
Peganglah iman dan tanggalkan ketakutan.

Orang bijak berkata, 'Hidup harus menjadi sebuah proses perbaikan yang terus berlanjut, membuang kejahatan dan mengembangkan kebaikan... Jika engkau ingin menjalani hidup tanpa rasa takut, engkau harus memiliki hati nurani yang baik sebagai tiketnya.

Hal yang terindah adalah melihat seseorang tersenyum..
Tapi yang terlebih indah adalah mengetahui bahwa engkau adalah alasan di belakangnya! !!

Sumber foto : xcavator.net
Read more
1

Philantrophy Mindset in Branding Strategy???


Setiap orang memiliki rasio, perasaan, dan juga hasrat/nafsu. Yang secara teori selalu berkembang sesuai pertambahan usia; mencapai puncaknya pada usia 45-an, untuk kemudian menurun lagi. Kembali seperti masa kanak-kanak.

Dengan menyentuh salah satu dari ketiga hal tersebut, maka tindakan pun tercipta. Kalau dalam konteks komunikasi pemasaran, Stimulus yang datang ke Organism (manusia) menghasilkan Response; salah satu teori komunikasi favorit saya yang saya usulkan dalam skripsi saya yang berjudul “Strategi Komunikasi Pemasaran Online CV. Cahaya Abadi Indonesia” adalah teori S-O-R ini namun ditolak oleh dosen pembimbing. :(

Nah sekarang kita mau sentuh yang mana? Kalau pribadi saya, sebenarnya lebih elegan untuk menyentuh perasaannya Target Audience, karena pertimbangan rasio akan dilupakan, bahkan ada kepuasan di hati TA; yang berbeda setelah melakukan anjuran stimulus dari merek yang melancarkannya. Merasa lega, tanpa beban. Berbeda kalau menyentuh titik hasrat/nafsunya, mungkin efektif untuk mendorong terciptanya transaksi, namun biasanya setelah transaksi ada perasaan ‘aneh’ yang timbul : Perasaan bersalah (aduh duit cicilan mobil bulan ini kepake beli Hp baru....gawaaat!!!), dibodohi (wah padahal gak butuh barang ini nih???). Namun jika menyentuh perasaannya, setelah melakukan transaksi bukan tidak mungkin, si TA akan merasa berjasa. Meski memang harus dilihat terlebih dulu karakteristik merek dan produk yang bersangkutan.

Contoh kasus :
Selama ini ‘what to say’ yang diangkat merek-merek operator selular kebanyakan adalah :
“Termurah (karena tarifnya telp/GPRS/sms, gratisannya banyak) dan Terbaik (jangkauan jaringan terluas, mencakup banyak wilayah, sinnyal kuat)”. Lebih banyak menyentuh titik hasrat/nafsu si TA.

Coba kalo saya ‘pelintir’ agar menyentuh titik perasaannya, ‘what to say’ nya menjadi :
“Dengan menggunakan operator selular C, kamu bisa menghemat biaya pemakaian pulsa kamu, sehingga bisa beramal ke korban bencana alam, anak yang putus sekolah, gelandangan, atau pengemis” Rada nge-blend antara pemasaran sosial dan pemasaran komersil. Bisa dikategorikan Filantrophy Marketing kan tuh. Ada nilai tambah dari komunikasi pemasaran yang dilakukan, sehingga bukan tidak mungkin si TA menilai merek operator selular (opsel) C adalah merek yang berbudi, yang karena budinya itu tidak mungkin bermain-main dengan perkataan soal tarif murah dan kualitas hebat. Lugasnya : Opsel C adalah merek yang kredibel dan berintegritas!

Note : Artikel ini tidak akan ditemukan di mana pun kecuali di blog ini! Setidaknya untuk saat ini. :)

Sumber foto : xcavator.net
Read more
0

Ada Cinta di Tahun Baru Cina


Ada cinta di Tahun Baru Cina


Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, di tahun 2010 ini Imlek dan Valentine berbarengan harinya. Kalau tafsiran ‘ngawur’ saya, di tahun ini seharusnya kemakmuran yang diharapkan dan dihasilkan bisa mendukung upaya dan kegiatan kita dalam menyebar cinta kasih. Hehehehe...bisa connect kan?


Meski sebenarnya sih tidak usah menunggu mendapatkan kemakmuran dulu baru menyebar cinta kasih, karena jika demikian, kita tidak akan pernah bisa menyebar cinta kasih. Kecendrungan manusia selalu ingin naik ke level yang lebih tinggi. Jika sudah punya mobil 1, ingin punya 2. Jika sudah pernah ke Bali, bercita-cita ingin ke Singapura. Memang gak salah sih semua cita-cita keinginan itu. Namun kalau menunggu semua itu tercapai niscaya kita tidak akan pernah menyebar cinta kasih.


Banyak cara sebenarnya. Di sekeliling kita banyak orang yang membutuhkan cinta kasih kita. Coba aja naik bis reguler, pasti banyak deh tuh pengemis, pengamen yang mencari uang dari belas kasih pengunjung bis. Meski menurut saya, tidak semuanya pengemis dan pengamen itu layak kita bantu. Karena ada juga yang mengemis, dan mengamen untuk hal-hal yang buruk : Mabuk-mabukan, Narkoba, dsb. Namun memang lebih banyak lagi yang melakukan itu (baca : Mengemis dan Mengamen) untuk menyambung hidup diri dan keluarganya. Di kala pemerintah dan institusi-institusi lainnya tidak berdaya untuk menjangkau mereka.


Atau ke orang terdekat kita namun sering kali kita lupakan. Ibu kita misalnya, seorang wanita yang di tangannya TUHAN mempercayakan diri kita untuk diperlihara, dilindungi, dibimbing sampai seperti saat ini. Sudah seberapa sering kita membahagiakan Ibu kita di rumah? Seminggu sekali? Sebulan sekali? Itu cukup? Dulu pas kita bayi, dia menghabiskan waktunya tiap hari bersama kita lho (menurut cerita Ibu saya).


Kalau di lingkungan kantor kita mungkin OB yang setiap hari senantiasa setia menanti suruhan kita untuk membeli makanan atau sekedar mengambil kertas faks yang masuk. Di kantor saya yang terdahulu, seorang OB merangkap supir, juga cleaning service setiap pagi, dan kalau ada barang masuk si OB ini selain ditugaskan mengangkat barang-barang kiriman plus ditambah tugas melakukan inventory gudang. Coba tebak gajinya? Rp. 500an ribu + Rp. 20 ribu/hari untuk uang makan dan uang transportnya.


Jadi sebenarnya kita tidak perlu menunggu menjadi makmur dahulu baru menyebar cinta kasih, selalu ada orang-orang di sekeliling kita yang TUHAN pertemukan untuk kita menyalurkan energi cinta kasih itu.


Yuk lakukan sekarang!


Sumber foto : xcavator.net

Read more
0

Keburukan sosok Ibu di rumah


Sosok Ibu di rumah mungkin memasak makanan yang kalah lezat daripada resto-resto favorit kita. Namun menikmati makanan Ibu tidak hanya kelezatannya yang kita rasakan, tetapi juga kasih sayang yang melimpah tiada akhir pun turut kita rasakan.


Sosok Ibu di rumah mungkin tidak selalu membuatmu ceria seperti teman-teman kita, namun saat ia berusaha menghibur kita ia melakukannya dengan tulus karena ingin melihat anak kesayangannya melupakan kesedihannya.


Sosok Ibu di rumah seringkali membuat kita kesal akan kecerewetannya, namun kita tahu bahwa kecerewetannya mengandung kebenaran, ia tidak ingin kita melakukan kesalahan dan menyesalinya.


Sosok Ibu di rumah mungkin tidak sesempurna para rohaniwan yang hafal luar dalam dan mematuhi isi Kitab Suci, karena nalurinya hanya menginstruksikan hal ini : “Supaya anakku bahagia dan nyaman” Meski untuk itu ia harus melakukan dosa.


Sosok Ibu di rumah seringkali membuatmu malu akan penampilannya berpakaian, itu karena ia tidak mementingkan dirinya. Baginya asalkan anaknya bahagia, tidak mengapa ia melupakan penampilan dirinya.


Sosok Ibu di rumah selalu berusaha sok kuat walaupun tubuhnya sudah renta. Itu karena ia tidak ingin anaknya khawatir, meski ia mengidap penyakit yang menahun, ia akan berkata, “Ibu tidak apa-apa anakku”. Ia tidak ingin kekhawatiran diri kita akan dirinya menghilangkan keceriaan di wajah kita.


Sosok Ibu di rumah hobi begadang, itu kaena ia selalu berdoa kepada TUHAN Semesta Alam di malam dan dini hari agar diri kita selalu berada dalam penyertaan TUHAN.


Sosok Ibu di rumah selalu saja berbohong kepada tetangga sekitar. Ketika bercerita dengan tetangga sekitar selalu saja kita menjadi nomor satu dalam ceritanya, meski kenyataannya tidak demikian.


Sosok Ibu di rumah selalu saja sok mandiri, meski dirinya sedih, ia tetap tersenyum saat sang anak mengirim Ibu ke panti jompo untuk bertemu bersama dengan orang tua lainnya. Ia malah berkata, “Asyiikkk Ibu bisa dapat banyak teman ngobrol di sini!!!” Itu karena ia tidak ingin anaknya merasa kerepotan harus mengurus dirinya


Well, demikianlah sosok Ibu di mata saya. Mari kita responi keburukan sosok Ibu di rumah dengan benar!!!


Bagaimana di mata rekan-rekan?

Read more
0

Merek Narsis?


Beberapa waktu lalu saya berkunjung ke sebuah Trade Mall di wilayah Jakarta Timur. Berkeliling dari lantai paling atas sampai lantai satu. Di lantai satu ini, kembali saya menyusuri sudut-sudut lantai itu, sampai saya menuju ke sebuah toko sepatu yang menjual sepatu-sepatu merek nasional kelas menengah ke bawah. Berikut percakapan saya dengan SPB di sana :


SPB : Bagus Pak sepatu itu, kuat, dipakai juga keren. Murah lagi…

Erick : Berapa harganya?

SPB : Harga normalnya sekian ratus ribu, lagi promo jadi sekian puluh ribu…

Erick : Ooo…*sambil berjalan melihat-lihat* Lha kalo ini *sambil menunjuk kea ah sepatunya* kok namanya sama kaya nama tokonya?

SPB : Iya Pak ini sepatu bikinan toko…bagus itu Pak…kuat lagi…murah cuma sekian puluh ribu aja…

Erick : Oooh gitu ya….*Lalu melihat sepatu yang lain*

SPB : Nah yang itu juga bagus Pak…merek nya –tiiittt- murah cuma sekian puluh ribu…kuat lagi..mereknya –tiiitt- sih Pak.

Erick : Ooo… (padahal saya baru kali ini mendengar merek itu) Makasih ya Mas…saya muter-muter dulu.


Saya meninggalkan toko itu, meski sempat ada ketertarikan untuk melakukan transaksi, namun melihat narsisnya merek toko sepatu itu yang diperagakan oleh SPB yang bersangkutan, membuat saya mengurungkan niat. Saat itu pikiran saya begini, “Kalo seseorang terlalu getol melebih-lebihkan dirinya pasti ada sesuatu yang gak beres!”


Dalam kasus ini merek toko sepatu itu sudah bertindak narsis yang diwakili melalui SPB nya. Tidak ada yang salah sih dengan narsis, namun mungkin harus melihat karakteristik TA (Target Audience yang bersangkutan). Daripada narsis lebih baik ngelawak kan? TA menjadi tertawa dan tanpa sadar sudah tercipta chemistry yang baik.


Pelajaran yang saya ambil sih gini :


Kalo ketemu klien yang narsis, jangan terima mentah-mentah briefnya. Turba dulu ke TA untuk paham bagaimana persepsi tentang brand klien di mata mereka. Supaya bisa memberikan hasil yang terbaik untuk klien. Usahakan sih sedetail dan objektif mungkin. Sekalian melakukan edukasi brand ke TA juga.


Sumber foto : xcavator.net

Read more
0

Percakapan Erick dan iblis dalam pikiran


Saya pasti dibenci iblis nih, karena mempublish hal ini. :)

Suatu ketika di malam hari yang sejuk, kucuk-kucuk datanglah si iblis lengkap dengan tongkat trisula nya ke pikirannya Erick.

iblis : Rick, gw punya ide bagus n 'baik' nih buat lo pikirin...

Erick : Gak mau!

iblis : Ayo dong...lo pikirin dulu...gak lo lakuin juga gak papa...yang penting lo pikirin dulu....

Erick : Gw gak mau! Bandel nih ya! Kalo gw gak mau emang kenapa? Lo mau ngapain gw???.... *sambil berteriak* PAPA....si iblis gangguin Erick lagi nih....

PAPA : Hmmmm....iblis pergi kau!!!!

Erick : Hajar aja PA...iya PA...jitak aja!!!

iblis : Wadaaaaoowwww....iya ampun!!!!!

Si iblis pun lari ketakutan karena diusir, dihajar n dijitak PAPA nya Erick.

Namun si iblis sempat-sempatnya berkata : i will back!!!

----------------------------------------THE END-----------------------------------------------
Read more
0

Konsisten untuk Bersikap Kreatif


Karena kebiasaan tidur larut, bahkan menjelang dini hari, maka jam 00.00 pun seakan-akan jam 8 malam. Kebiasaan tidur malam membentuk 'sifat' dalam diri saya menjadi kuat dan hobby begadang. Kalo melihat dari sini seharusnya dapat ditarik hal umum : Kebiasaan membentuk sesuatu!

Menjadi hasrat saya untuk menjadi orang yang kreatif dan inovatif (dari sudut pandang yang positif) dalam menjalankan hidup, termasuk diantaranya bekerja. Maka saya mencoba melakukan teori ini. Jika saya ingin kreatif maka saya harus membiasakan diri untuk bersikap kreatif dan juga inovatif!

Saya hobby menikmati nasi goreng, karena itu saya mencoba untuk bersikap kreatif pada saat membeli nasi goreng. Tidak hanya sekedar membeli, namun juga melihat proses pengerjaan nasi goreng, beragamnya pembeli yang lain, dan juga kebiasaan baik yang dilakukan si penjual pada konsumen. Saya melakukan analisis yang diusahakan menyeluruh kepada si penjual nasi goreng. Nah menurut saya ini termasuk kebiasaan kreatif yang positif, jadi tidak sekedar membeli nasi goreng, menikmatinya lalu selesai. Namun terdapat proses pembelajaran bagi saya ketika membeli nasi goreng itu.

Sedikit tantangannya adalah konsistensi untuk bersikap kreatif. Karena konsistensi membutuhkan penguasaan diri dari rasa malas, jenuh yang acap kali menyerang pikiran kita. Dan penguasaan diri ini diawali dengan mengalahkan keinginan diri yang cenderung mencari hal yang instant, nyaman, mudah, murah, nikmat, berkualitas dan juga dalam kuantitas yang besar.

Wah ngelantur ya? Atau ada benarnya? Hahahaha...namanya juga belajar ngobrol....

Read more
0

Belajar Branding dari Penjual Nasi Goreng (II)


Hari Rabu (13/01) kembali saya presensi ke Bapak untuk membeli nasi goreng. Kebetulan sedang tidak banyak orang yg mengantri. Meskipun giliran pesanan saya adalah yang ketiga untuk dibikin. Nah coba-coba saya ngobrol deh sama Bapak. Panjang lebar dari soal bumbu sampe soal sejarah Mie Surabaya yang ternyata dikenal juga dengan nama "Dog-dog". Sampai pada dialog ini :

Erick : Bapak ada juragannya lagi gak? Maksudnya Bapak masih nyetor lagi sama bozznya?
Bapak : Oh gak Mas, ini punya saya sendiri. Gak nyetor sama siapa-siapa. Paling sama istri (saya : geeerrrr).
Erick :Oooh gitu...berarti bumbu n semua2nya juga siapin sendiri dong Pak
Bapak : Iya Mas.

Nah, si Bapak menjalankan usahanya sendiri. Dia gak punya beban untuk 'nyetor' sama juragannya lagi, selain sama istrinya. Dari sini saya jadi mengambil kesimpulan :
1. Pantes aja si Bapak semangatnya tinggi untuk berjualan, dia harus kreatif dan menyapa pelanggannya dengan konten lokal sang pelanggan karena tanggung jawabnya sama keluarga, dan juga bagi dia menjadi Penjual Nasgor adalah jalan hidupnya. Pilihan profesi yang dia lakoni. (Meski saya tidak tahu apakah si Bapak memiliki usaha lainnya, namun perkiraan saya kalau si Bapak harus mempersiapkan segala kebutuhan berjualan dari siang, makan waktu yang dia miliki untuk menjalankan usaha lainnya sangatlah terbatas)
2. Dengan menjalankan usaha Nasi Goreng itu sendiri, si Bapak mempunyai kebebasan dalam 'berekspresi' menentukan komposisi bumbu, minyak goreng, sampai ukuran porsi yang diberikan sehingga menjadi nasi goreng yang digemari oleh para pelanggan.

Berbeda dengan penjual nasi goreng yang harus 'nyetor' ke juragan, jika si penjual lainnya ini diberikan 1 bakul nasi yang direncanakan oleh si juragan untuk 100 porsi, maka penjual lainnya ini akan berupaya untuk menjadikannya 120 atau 150 porsi. Dengan harapan mendapatkan keuntungan lebih.

Ternyata nilai sebuah brand juga berangkat dari nilai-nilai positif yang kalo diambil dari potret si Bapak tujuannya adalah :
1. Anak istri mendapat nafkah.
2. Pelanggan senang dan puas.

Sekedar berbagi, CMIIW.
Read more
2

Belajar Branding dari Penjual Nasi Goreng (I)

Judul yang panjang bukan? Namun ada hal menarik memang yang saya ingin ceriterakan. Hari Minggu (10/01), di malam hari, perut saya konser minta pemenuhan bahan pangan. Lalu saya bergegas menuju ke depan jalan untuk menjumpai Penjual Nasi Goreng -ala Mie Surabaya- yang kebetulan dia sudah ada di depan jalan yang jaraknya 50 meter dari kediaman saya.

Untuk menuju kesana saya sudah melewati seorang Penjual Nasi Goreng juga, namun karena saya belum pernah mencoba racikan masakannya, saya tetap berjalan menuju tujuan saya semula. Sesampainya disana, sudah terlihat antrian di sekeliling gerobak, belum lagi yang sudah memesan terlebih dahulu untuk kemudian mengambil pesanannya. Namun para penggantri dengan setia tetap berdiri menunggu giliran pesanan mereka diselesaikan. Waktu masih menunjukkan pukul 21.00 namun nasi goreng sudah habis. Setelah mengamati cara si Bapak dalam melayani konsumennya, saya jadi mengerti alasan mengapa Mie Surabaya ini laris manis.

1. Si Bapak ramah dalam melayani pembeli, dia berbahasa Sunda jika pembelinya adalah dari suku Sunda. Berbahasa Jawa (halus) jika pembelinya berasal dari suku Jawa. Dn berlogat Betawi jika pembelinya diketahui berlogat Betawi. Sebagai sebuah brand, si Bapak mampu mengenali siapa pelanggannya (atau calon pelanggannya) dan menyapa mereka dengan ramah berdasarkan latar belakang mereka. Hal ini menimbulkan kedekatan personal antara brand dengan penggemarnya.

2. Porsi yang diberikan lebih banyak dari Penjual Nasi Goreng lainnya. Jika dibandingkan sekitar 1 1/2 berbanding 1. Sebagai brand, si Bapak memberikan lebih dari standar kuantitas kompetitor lainnya. Dan hal ini disukai banget sama konsumen pada umumnya.

3. Rasanya juga mantap. Nah ini berhubungan dengan kualitas produk. Sebagai brand, si Bapak telah berhasil memennuhi atau memuaskan ekspektasi pelanggannya yang datang kepadanya dengan motivasi mencari 'alat' penghilang rasa lapar yang nikmat namun juga terjangkau.

Jadi brand memang tidak hanya sekedar nama, namun juga harus memiliki karakteristik personal yang positif agar dapat merebut hati 'pasangan' yang dituju.
Read more
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Konsistensi Adalah Salah Satu Kunci Branding


Hari ini lagi ngajak maknyak makan kwetiaw goreng di RM. Surya. RM. Surya ini adalah warung yang menyediakan makanan-makanan umum dengan citarasa China. Ada kwetiaw, bakmi, bihun, nasi, bistik, capcay, fuyunghay, dan sebagainya.

Pas lagi menunggu hidangan disajikan, pikiran melayang memikirkan betapa nama Surya ini sudah lumayan nempel di otak. Dulu pas tinggal di Bekasi ada RM. Surya dengan varian jenis makanan yang serupa, di Pademangan, Jakarta Utara juga ada. Di Jakarta Timur pun ada. Kayanya di setiap lokasi tinggal saya selalu ada RM. Surya terdekat yang bisa disambangi. Jadi secara perspektif pemasaran, bisa dibilang RM. Surya ini strategi place nya cukup oke.

Mengapa saya sampai rela-rela ngebelain nulis tentang RM. Surya ini, well u can call me they biggest fans. Nah saya makan berdua dengan maknyak saya, karena cuma berdua kita hanya pesan 1 porsi kwetiaw goreng. Seperti saya bilang sebelumnya, bahwa 1 porsi ala carte itu sangat banyaaaak. Jadi 1 porsi kwetiaw goreng pun sudah lebih dari cukup untuk kita nikmati berdua dengan total tagihan yang saya bayar sebesar 34 ribu rupiah. Seporsi menu makanan ala carte RM. Surya itu kisarannya dari 10 ribu sampai 50 ribuan, dan bisa dimakan untuk 3 orang. See, jadi secara price pun si RM. Surya ini juga cukup punya "taji" untuk menarik hati sang konsumen.

Meski secara place, sebuah brand eksis di mana-mana, dan memiliki harga yang menarik, namun jika secara kualitas produk itu mengecewakan, pastilah konsumen lari meninggalkan brand. Itu adalah hukum "alam" marketing. Nah RM. Surya ini memiliki keunggulan di kedua faktor (Place dan Price), ditambah lagi rasanya yang gurih dan lezat membuat saya rela memutar rute perjalanan pulang untuk mampir dengan ibu saya. Secara produk pun RM. Surya mampu menggenerate produk yang oke.

Lalu bagaimana dengan promosi? Well, untuk kasus RM. Surya ini sepertinya waktulah yang menjadi ukurannya. Maksudnya karena konsisten untuk menjalankan 3 faktor: Place, Price, dan Product untuk jangka waktu yang lama maka loyal consumen pun rela memberitakan kepada relasinya. Apalagi jaman 3.0 ini, RM. Surya pun goes online. Tidak percaya? Tulisan ini buktinya!


Sumber gambar: www.google.com


Read More......

Manusia Dan Hewan


Tahu arti kata hewan? Pernah memperhatikan hewan? Mungkin kucing atau anjing. Kedua hewan ini buang hajat sembarangan, kencing sembarangan, reproduksi di sembarang tempat dan sembarangan lawan jenis. Hewan ini melakukan hal-hal demikian karena menuruti hasrat dagingnya. Kalo lapar ya makan, kalo kebelet buang hajat segera dilakukan.

Mengapa? Karena hewan tidak mempunyai akal budi seperti manusia. Dengan akal budi yang diberikan TUHAN, seharusnya manusia dapat menundukkan hasrat dagingnya dengan berpikir jernih menggunakan akal budi. Berbeda dengan hewan, karena tidak memiliki akal budi, hewan segera meresponi stimulus hasrat dirinya dengan tindakan; tanpa menundanya atau menahan diri. Karena hewan tidak memiliki akal budi.

Sebenarnya jika kita dalam melakukan suatu tindakan karena bersumber dari stimulus hasrat daging, kita tidak berbeda dengan hewan. Parahnya banyak manusia yang hidupnya setiap hari memuaskan hasrat dagingnya yang tiada habisnya ini tidak sadar dengan keadaan dirinya. Mungkin karena dibalut dengan sederet gelar kehormatan atau bertumpuk-tumpuk deposito dan surat-surat berharga. Atau mungkin juga karena terlalu putus asa akan pemenuhan 3 hal pokok jasmani (sandang, papan, pangan), yang kerap kali sukar didapat, sehingga menjadi pembenaran untuk melakukan apa pun demi hal ini. Nah situasi menghamba pada keinginan daging dan hasrat diri ini jika tidak disadari, maka akan menuju kondisi matinya akal budi.

Jadi, dengan modal yang diberikan TUHAN ini, seharusnya kita menjadi bijaksana dalam menjalani hidup. Masalahnya adalah bagaimana mendayagunakan akal budi ini semaksimal mungkin. Satu-satunya cara agar akal budi kita bekerja maksimal adalah dengan memburu pengenalan dan pemahaman yang benar akan TUHAN, Sang Sumber Kebijaksanaan. Itu hal pertama yang harus menjadi keinginan kita.

Sumber gambar: http://nowpublic.net
Read More......

Korupsi adalah Mencari Makan?


Hari Kamis (8 April 2010) saya mencukur rambut di tukang cukur dekat rumah. Iseng-iseng saya melakukan tanya jawab dengan beliau :


Saya : Pak pelanggannya siapa aja di sini?

Bapak : Wah banyak mas.

Saya : Petugas pajak ada? Kan lagi rame-ramenya kasus pajak nih.

Bapak : Ada, tapi dia gak banyak omong. KPK juga ada, Bank swasta nasional juga ada. Di sini mah banyak.

Saya : Oh gitu…wah parah yah yang korupsi pajak itu, padahal gajinya udah gede lho. 12 juta/sebulan. Itu kalo di swasta udah level manajer tuh.

Bapak : Yah meski gaji gede juga, kalo liat ada duit nganggur, siapa yang gak ngiler.

Saya : Iya, namanya juga manusia, gak pernah puas.

Bapak : Iya kan namanya manusia. Lagian juga cari makan lah. Menurut saya kalo korupsi itu jangan tanggung-tanggung, sekalian yang gede, terus kabur ke luar negeri. Gak usah balik-balik.

Saya : ???? *bengong sambil mengurut dada, betapa mental anak Negeri sudah rusak sampai ke level akar rumput*


Duh korupsi itu bener-bener penyakit lho, berawal dari ketidakmampuan manusia untuk menahan hasrat memuaskan keinginan dagingnya, sehingga segala cara pun dilakukan. Dan repotnya, rakyat di tataran akar rumput yang sebenarnya adalah korban dari korupsi itu justru mempunyai pikiran bahwa korupsi termasuk kegiatan mencari makan, yang artinya wajar-wajar saja untuk dilakukan. Kalau orang seperti ini suatu ketika mendapat jabatan yang strategis, bukankah mungkin saja ia juga melanjutkan tradisi korupsi dan kolusi yang menurutnya adalah kegiatan mencari makan?


Duh Indonesia, kita bisa ngapain ya?


Sumber foto : xcavator.net

Read More......

Social (moral) campaign


Bail out Century yang dicurigai terdapat unsur korupsi, penggelapan pajak, makelar kasus adalah kata-kata yang banyak bersliweran di koran terakhir-terakhir ini. Pusing juga karena setiap hari urat-urat di otak dibetot untuk membaca dan merasakan keprihatinan akan keadaan bangsa ini.

Sebenarnya menurut saya, kunci untuk tiadanya korupsi, penggelapan pajak, ataupun makelar kasus adalah setiap manusia kembali kepada TUHAN. Mungkin akan timbul pertanyaan, "Memang saat ini manusia belum kembali pada TUHAN? Belum!" Buktinya berita tentang kejahatan ini masih banyak. Manusia memang melakukan ritual ibadah keagamaannya, namun sepertinya itu hanya sekedar formalitas belaka. Khotbah yang disampaikan pengkhotbah hanya masuk kuping kiri untuk kemudian mental keluar lagi. Ritual keagamaan yang dilakukan menjadi kewajiban (yang mungkin membebani?) saja. Maka tidak heran, kegiatan beragama jalan terus, korupsi juga ogah berhenti.

Lalu ini perbaikan ini tanggung jawab siapa? Pemuka agama? Tanggung jawab kita semua dong! Secara individu, itu adalah tanggung jawab manusia masing-masing. Menjadi tanggung jawab saya, Anda dalam mempergunakan kehendak bebas (free will) -yang dianugerahkan TUHAN kepada kita- untuk memilih melakukan kehendak TUHAN : Menolak kejahatan, melakukan kebaikan.

Namun secara skills, sebagai manusia yang diberikan berkat dari TUHAN untuk mempelajari lingkup komunikasi pemasaran, seperti ada beban kepada saya untuk mengkomunikasi pemasaran-kan nilai-nilai ini kepada sesama manusia melalui saluran massal yang efisien dan efektif. Yup! Sebuah campaign untuk membujuk, mempersuasi, mempengaruhi manusia untuk kembali kepada TUHAN. Melakukan perintah-NYA, menjauhi larangan-NYA. Itulah produk yang akan saya komunikasikan kepada sesama manusia. Semoga banyak yang tertarik dan 'membelinya'. Setidaknya saya mau hidup saya bermakna bagi TUHAN melalui pembelajaran saya selama ini.

Sebagai langkah pertama, saya komunikasikan hal ini kepada Anda. Syukur-syukur ada praktisi Marketing Communications yang juga tertarik untuk membuat
campaign-campaign sejenis.

Read More......

Tahu Campur khas Surabaya


Saat ini saya lagi nunggu warung Tahu Campur Surabaya buka, saat saya datang sekitar 20 menit dari waktu buka.


Warung ini sederhana, terbuat dari bilik kayu di samping jejeran gedung-gedung pertemuan dan showroom mobil-mobil mewah yang berada di boulevard Kelapa Gading. Setiap main ke Kelapa Gading pasti saya mampir ke sini. Memang makanan yang disajikan enak sih. Harganya pun terjangkau, Tahu Campur dan Tahu Tek2 9 ribu. Meski demikian yang ke sini ini biasanya bermobil lho. Dan sepertinya warung ini gak menyasar pekerja-pekerja di lokasi ini, waktu bukanya aja sekitar jam setengah 5 sore sampai jam 10an malam, tergantung stok persediaan hidangan.


Saya membayangkan kalau warung ini berpindah lokasi dan 'packaging' di mall atau trade center, atau di sebuah ruko. Apakah akan tetap saya kunjungi? Kok kayanya males ya...meski pun yang menjual tetap orang yang sama. Mengapa? Saat pertanyaan ini muncul jawaban yang hadir di otak saya sih sebagai berikut :


1. Orisinalitas

Kalo pindah ke mall atau ruko serta berganti packaging, sepertinya kok gak orisinal ya. Karena pas mau makan tahu campur ini bukan sekedar menghilangkan lapar namun juga merasakan hidangan khas Surabaya. Jadi kalo ganti packaging kok jadi seperti kehilangan keasliannya. Dan bisa jadi karena ganti packaging ini, sentuhan yang humanis dari si penjual juga akan berkurang kepada si pembeli.


2. Persepsi

Meski mungkin ada juga pelanggan yang berpikir. "Ah kan bentuk luarnya doang yang beda, rasa hidangannya kan sama aja." Tapi tetap aja ada pelanggan yang merasa kehilangan suasana kaki lima dari sebuah warung Tahu Campur khas Surabaya, sensasinya beda. Memang persepsi sebagian besar masyarakat adalah hidangan Tahu Campur khas Surabaya adalah di kaki lima dan bukan di mall atau ruko.


Saat ini sih itu yang kepikir. Sekedar menuangkan pikiran. Eh iya, ternyata saya sudah menjadi PR bagi si warung ya.... :D


Salam,

Erick Sowong


Sumber foto : Warung Tahu Campur khas Surabaya daerah boulevard Kelapa Gading.

Read More......

Ngobrol Soal Copywriting dan Kebaikan Yuk!


Sebuah contoh kekuatan copywriting secara harfiah dicampur dengan moral kebaikan di dalam sebuah artikel.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Seorang anak laki2 tunanetra duduk di tangga sebuah bangunan dengan sebuah topi terletak di dekat kakinya. Ia mengangkat sebuah papan yang bertuliskan: 'Saya buta, tolong saya.' Hanya ada beberapa keping uang di dalam topi itu.

Seorang pria berjalan melewati tempat anak ini. Ia mengambil beberapa keping uang dari sakunya dan menjatuhkannya ke dalam topi itu. Lalu ia mengambil papan, membaliknya dan menulis beberapa kata. Pria ini menaruh papan itu kembali sehingga orang yang lalu lalang dapat melihat apa yang ia baru tulis. Segera sesudahnya, topi itu pun terisi penuh. Semakin banyak orang memberi uang ke anak tuna netra ini. Sore itu pria yang telah mengubah kata-kata di papan tersebut datang untuk melihat perkembangan yang terjadi. Anak ini mengenali langkah kakinya dan bertanya, 'Apakah bapak yang telah mengubah tulisan di papanku tadi pagi? Apa yang bapak tulis?'

Pria itu berkata, 'Saya hanya menuliskan sebuah kebenaran. Saya menyampaikan apa yang kamu telah tulis dengan cara yang berbeda.' Apa yang ia telah tulis adalah: 'Hari ini adalah hari yang indah dan saya tidak bisa melihatnya.'
Bukankah tulisan yang pertama dengan yang kedua sebenarnya sama saja?

Tentu arti kedua tulisan itu sama, yaitu bahwa anak itu buta. Tetapi, tulisan yang pertama hanya mengatakan bahwa anak itu buta. Sedangkan, tulisan yang kedua mengatakan kepada orang-orang bahwa mereka sangatlah beruntung bahwa mereka dapat melihat. Apakah kita perlu terkejut melihat tulisan yang kedua lebih efektif?

Moral dari cerita ini:
Bersyukurlah untuk segala yang kau miliki. Jadilah kreatif. Jadilah innovatif. Berpikirlah dari sudut pandang yang berbeda dan positif.
Ajaklah orang-orang lain menuju hal-hal yang baik dengan hikmat. Jalani hidup ini tanpa dalih dan mengasihi tanpa rasa sesal. Ketika hidup memberi engkau 100 alasan untuk menangis, tunjukkan pada hidup bahwa engkau memiliki 1000 alasan untuk tersenyum.
Hadapi masa lalumu tanpa sesal.
Tangani saat sekarang dengan percaya diri.
Bersiaplah untuk masa depan tanpa rasa takut.
Peganglah iman dan tanggalkan ketakutan.

Orang bijak berkata, 'Hidup harus menjadi sebuah proses perbaikan yang terus berlanjut, membuang kejahatan dan mengembangkan kebaikan... Jika engkau ingin menjalani hidup tanpa rasa takut, engkau harus memiliki hati nurani yang baik sebagai tiketnya.

Hal yang terindah adalah melihat seseorang tersenyum..
Tapi yang terlebih indah adalah mengetahui bahwa engkau adalah alasan di belakangnya! !!

Sumber foto : xcavator.net
Read More......

Philantrophy Mindset in Branding Strategy???


Setiap orang memiliki rasio, perasaan, dan juga hasrat/nafsu. Yang secara teori selalu berkembang sesuai pertambahan usia; mencapai puncaknya pada usia 45-an, untuk kemudian menurun lagi. Kembali seperti masa kanak-kanak.

Dengan menyentuh salah satu dari ketiga hal tersebut, maka tindakan pun tercipta. Kalau dalam konteks komunikasi pemasaran, Stimulus yang datang ke Organism (manusia) menghasilkan Response; salah satu teori komunikasi favorit saya yang saya usulkan dalam skripsi saya yang berjudul “Strategi Komunikasi Pemasaran Online CV. Cahaya Abadi Indonesia” adalah teori S-O-R ini namun ditolak oleh dosen pembimbing. :(

Nah sekarang kita mau sentuh yang mana? Kalau pribadi saya, sebenarnya lebih elegan untuk menyentuh perasaannya Target Audience, karena pertimbangan rasio akan dilupakan, bahkan ada kepuasan di hati TA; yang berbeda setelah melakukan anjuran stimulus dari merek yang melancarkannya. Merasa lega, tanpa beban. Berbeda kalau menyentuh titik hasrat/nafsunya, mungkin efektif untuk mendorong terciptanya transaksi, namun biasanya setelah transaksi ada perasaan ‘aneh’ yang timbul : Perasaan bersalah (aduh duit cicilan mobil bulan ini kepake beli Hp baru....gawaaat!!!), dibodohi (wah padahal gak butuh barang ini nih???). Namun jika menyentuh perasaannya, setelah melakukan transaksi bukan tidak mungkin, si TA akan merasa berjasa. Meski memang harus dilihat terlebih dulu karakteristik merek dan produk yang bersangkutan.

Contoh kasus :
Selama ini ‘what to say’ yang diangkat merek-merek operator selular kebanyakan adalah :
“Termurah (karena tarifnya telp/GPRS/sms, gratisannya banyak) dan Terbaik (jangkauan jaringan terluas, mencakup banyak wilayah, sinnyal kuat)”. Lebih banyak menyentuh titik hasrat/nafsu si TA.

Coba kalo saya ‘pelintir’ agar menyentuh titik perasaannya, ‘what to say’ nya menjadi :
“Dengan menggunakan operator selular C, kamu bisa menghemat biaya pemakaian pulsa kamu, sehingga bisa beramal ke korban bencana alam, anak yang putus sekolah, gelandangan, atau pengemis” Rada nge-blend antara pemasaran sosial dan pemasaran komersil. Bisa dikategorikan Filantrophy Marketing kan tuh. Ada nilai tambah dari komunikasi pemasaran yang dilakukan, sehingga bukan tidak mungkin si TA menilai merek operator selular (opsel) C adalah merek yang berbudi, yang karena budinya itu tidak mungkin bermain-main dengan perkataan soal tarif murah dan kualitas hebat. Lugasnya : Opsel C adalah merek yang kredibel dan berintegritas!

Note : Artikel ini tidak akan ditemukan di mana pun kecuali di blog ini! Setidaknya untuk saat ini. :)

Sumber foto : xcavator.net
Read More......

Ada Cinta di Tahun Baru Cina


Ada cinta di Tahun Baru Cina


Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, di tahun 2010 ini Imlek dan Valentine berbarengan harinya. Kalau tafsiran ‘ngawur’ saya, di tahun ini seharusnya kemakmuran yang diharapkan dan dihasilkan bisa mendukung upaya dan kegiatan kita dalam menyebar cinta kasih. Hehehehe...bisa connect kan?


Meski sebenarnya sih tidak usah menunggu mendapatkan kemakmuran dulu baru menyebar cinta kasih, karena jika demikian, kita tidak akan pernah bisa menyebar cinta kasih. Kecendrungan manusia selalu ingin naik ke level yang lebih tinggi. Jika sudah punya mobil 1, ingin punya 2. Jika sudah pernah ke Bali, bercita-cita ingin ke Singapura. Memang gak salah sih semua cita-cita keinginan itu. Namun kalau menunggu semua itu tercapai niscaya kita tidak akan pernah menyebar cinta kasih.


Banyak cara sebenarnya. Di sekeliling kita banyak orang yang membutuhkan cinta kasih kita. Coba aja naik bis reguler, pasti banyak deh tuh pengemis, pengamen yang mencari uang dari belas kasih pengunjung bis. Meski menurut saya, tidak semuanya pengemis dan pengamen itu layak kita bantu. Karena ada juga yang mengemis, dan mengamen untuk hal-hal yang buruk : Mabuk-mabukan, Narkoba, dsb. Namun memang lebih banyak lagi yang melakukan itu (baca : Mengemis dan Mengamen) untuk menyambung hidup diri dan keluarganya. Di kala pemerintah dan institusi-institusi lainnya tidak berdaya untuk menjangkau mereka.


Atau ke orang terdekat kita namun sering kali kita lupakan. Ibu kita misalnya, seorang wanita yang di tangannya TUHAN mempercayakan diri kita untuk diperlihara, dilindungi, dibimbing sampai seperti saat ini. Sudah seberapa sering kita membahagiakan Ibu kita di rumah? Seminggu sekali? Sebulan sekali? Itu cukup? Dulu pas kita bayi, dia menghabiskan waktunya tiap hari bersama kita lho (menurut cerita Ibu saya).


Kalau di lingkungan kantor kita mungkin OB yang setiap hari senantiasa setia menanti suruhan kita untuk membeli makanan atau sekedar mengambil kertas faks yang masuk. Di kantor saya yang terdahulu, seorang OB merangkap supir, juga cleaning service setiap pagi, dan kalau ada barang masuk si OB ini selain ditugaskan mengangkat barang-barang kiriman plus ditambah tugas melakukan inventory gudang. Coba tebak gajinya? Rp. 500an ribu + Rp. 20 ribu/hari untuk uang makan dan uang transportnya.


Jadi sebenarnya kita tidak perlu menunggu menjadi makmur dahulu baru menyebar cinta kasih, selalu ada orang-orang di sekeliling kita yang TUHAN pertemukan untuk kita menyalurkan energi cinta kasih itu.


Yuk lakukan sekarang!


Sumber foto : xcavator.net

Read More......

Keburukan sosok Ibu di rumah


Sosok Ibu di rumah mungkin memasak makanan yang kalah lezat daripada resto-resto favorit kita. Namun menikmati makanan Ibu tidak hanya kelezatannya yang kita rasakan, tetapi juga kasih sayang yang melimpah tiada akhir pun turut kita rasakan.


Sosok Ibu di rumah mungkin tidak selalu membuatmu ceria seperti teman-teman kita, namun saat ia berusaha menghibur kita ia melakukannya dengan tulus karena ingin melihat anak kesayangannya melupakan kesedihannya.


Sosok Ibu di rumah seringkali membuat kita kesal akan kecerewetannya, namun kita tahu bahwa kecerewetannya mengandung kebenaran, ia tidak ingin kita melakukan kesalahan dan menyesalinya.


Sosok Ibu di rumah mungkin tidak sesempurna para rohaniwan yang hafal luar dalam dan mematuhi isi Kitab Suci, karena nalurinya hanya menginstruksikan hal ini : “Supaya anakku bahagia dan nyaman” Meski untuk itu ia harus melakukan dosa.


Sosok Ibu di rumah seringkali membuatmu malu akan penampilannya berpakaian, itu karena ia tidak mementingkan dirinya. Baginya asalkan anaknya bahagia, tidak mengapa ia melupakan penampilan dirinya.


Sosok Ibu di rumah selalu berusaha sok kuat walaupun tubuhnya sudah renta. Itu karena ia tidak ingin anaknya khawatir, meski ia mengidap penyakit yang menahun, ia akan berkata, “Ibu tidak apa-apa anakku”. Ia tidak ingin kekhawatiran diri kita akan dirinya menghilangkan keceriaan di wajah kita.


Sosok Ibu di rumah hobi begadang, itu kaena ia selalu berdoa kepada TUHAN Semesta Alam di malam dan dini hari agar diri kita selalu berada dalam penyertaan TUHAN.


Sosok Ibu di rumah selalu saja berbohong kepada tetangga sekitar. Ketika bercerita dengan tetangga sekitar selalu saja kita menjadi nomor satu dalam ceritanya, meski kenyataannya tidak demikian.


Sosok Ibu di rumah selalu saja sok mandiri, meski dirinya sedih, ia tetap tersenyum saat sang anak mengirim Ibu ke panti jompo untuk bertemu bersama dengan orang tua lainnya. Ia malah berkata, “Asyiikkk Ibu bisa dapat banyak teman ngobrol di sini!!!” Itu karena ia tidak ingin anaknya merasa kerepotan harus mengurus dirinya


Well, demikianlah sosok Ibu di mata saya. Mari kita responi keburukan sosok Ibu di rumah dengan benar!!!


Bagaimana di mata rekan-rekan?

Read More......

Merek Narsis?


Beberapa waktu lalu saya berkunjung ke sebuah Trade Mall di wilayah Jakarta Timur. Berkeliling dari lantai paling atas sampai lantai satu. Di lantai satu ini, kembali saya menyusuri sudut-sudut lantai itu, sampai saya menuju ke sebuah toko sepatu yang menjual sepatu-sepatu merek nasional kelas menengah ke bawah. Berikut percakapan saya dengan SPB di sana :


SPB : Bagus Pak sepatu itu, kuat, dipakai juga keren. Murah lagi…

Erick : Berapa harganya?

SPB : Harga normalnya sekian ratus ribu, lagi promo jadi sekian puluh ribu…

Erick : Ooo…*sambil berjalan melihat-lihat* Lha kalo ini *sambil menunjuk kea ah sepatunya* kok namanya sama kaya nama tokonya?

SPB : Iya Pak ini sepatu bikinan toko…bagus itu Pak…kuat lagi…murah cuma sekian puluh ribu aja…

Erick : Oooh gitu ya….*Lalu melihat sepatu yang lain*

SPB : Nah yang itu juga bagus Pak…merek nya –tiiittt- murah cuma sekian puluh ribu…kuat lagi..mereknya –tiiitt- sih Pak.

Erick : Ooo… (padahal saya baru kali ini mendengar merek itu) Makasih ya Mas…saya muter-muter dulu.


Saya meninggalkan toko itu, meski sempat ada ketertarikan untuk melakukan transaksi, namun melihat narsisnya merek toko sepatu itu yang diperagakan oleh SPB yang bersangkutan, membuat saya mengurungkan niat. Saat itu pikiran saya begini, “Kalo seseorang terlalu getol melebih-lebihkan dirinya pasti ada sesuatu yang gak beres!”


Dalam kasus ini merek toko sepatu itu sudah bertindak narsis yang diwakili melalui SPB nya. Tidak ada yang salah sih dengan narsis, namun mungkin harus melihat karakteristik TA (Target Audience yang bersangkutan). Daripada narsis lebih baik ngelawak kan? TA menjadi tertawa dan tanpa sadar sudah tercipta chemistry yang baik.


Pelajaran yang saya ambil sih gini :


Kalo ketemu klien yang narsis, jangan terima mentah-mentah briefnya. Turba dulu ke TA untuk paham bagaimana persepsi tentang brand klien di mata mereka. Supaya bisa memberikan hasil yang terbaik untuk klien. Usahakan sih sedetail dan objektif mungkin. Sekalian melakukan edukasi brand ke TA juga.


Sumber foto : xcavator.net

Read More......

Percakapan Erick dan iblis dalam pikiran


Saya pasti dibenci iblis nih, karena mempublish hal ini. :)

Suatu ketika di malam hari yang sejuk, kucuk-kucuk datanglah si iblis lengkap dengan tongkat trisula nya ke pikirannya Erick.

iblis : Rick, gw punya ide bagus n 'baik' nih buat lo pikirin...

Erick : Gak mau!

iblis : Ayo dong...lo pikirin dulu...gak lo lakuin juga gak papa...yang penting lo pikirin dulu....

Erick : Gw gak mau! Bandel nih ya! Kalo gw gak mau emang kenapa? Lo mau ngapain gw???.... *sambil berteriak* PAPA....si iblis gangguin Erick lagi nih....

PAPA : Hmmmm....iblis pergi kau!!!!

Erick : Hajar aja PA...iya PA...jitak aja!!!

iblis : Wadaaaaoowwww....iya ampun!!!!!

Si iblis pun lari ketakutan karena diusir, dihajar n dijitak PAPA nya Erick.

Namun si iblis sempat-sempatnya berkata : i will back!!!

----------------------------------------THE END-----------------------------------------------
Read More......

Konsisten untuk Bersikap Kreatif


Karena kebiasaan tidur larut, bahkan menjelang dini hari, maka jam 00.00 pun seakan-akan jam 8 malam. Kebiasaan tidur malam membentuk 'sifat' dalam diri saya menjadi kuat dan hobby begadang. Kalo melihat dari sini seharusnya dapat ditarik hal umum : Kebiasaan membentuk sesuatu!

Menjadi hasrat saya untuk menjadi orang yang kreatif dan inovatif (dari sudut pandang yang positif) dalam menjalankan hidup, termasuk diantaranya bekerja. Maka saya mencoba melakukan teori ini. Jika saya ingin kreatif maka saya harus membiasakan diri untuk bersikap kreatif dan juga inovatif!

Saya hobby menikmati nasi goreng, karena itu saya mencoba untuk bersikap kreatif pada saat membeli nasi goreng. Tidak hanya sekedar membeli, namun juga melihat proses pengerjaan nasi goreng, beragamnya pembeli yang lain, dan juga kebiasaan baik yang dilakukan si penjual pada konsumen. Saya melakukan analisis yang diusahakan menyeluruh kepada si penjual nasi goreng. Nah menurut saya ini termasuk kebiasaan kreatif yang positif, jadi tidak sekedar membeli nasi goreng, menikmatinya lalu selesai. Namun terdapat proses pembelajaran bagi saya ketika membeli nasi goreng itu.

Sedikit tantangannya adalah konsistensi untuk bersikap kreatif. Karena konsistensi membutuhkan penguasaan diri dari rasa malas, jenuh yang acap kali menyerang pikiran kita. Dan penguasaan diri ini diawali dengan mengalahkan keinginan diri yang cenderung mencari hal yang instant, nyaman, mudah, murah, nikmat, berkualitas dan juga dalam kuantitas yang besar.

Wah ngelantur ya? Atau ada benarnya? Hahahaha...namanya juga belajar ngobrol....

Read More......

Belajar Branding dari Penjual Nasi Goreng (II)


Hari Rabu (13/01) kembali saya presensi ke Bapak untuk membeli nasi goreng. Kebetulan sedang tidak banyak orang yg mengantri. Meskipun giliran pesanan saya adalah yang ketiga untuk dibikin. Nah coba-coba saya ngobrol deh sama Bapak. Panjang lebar dari soal bumbu sampe soal sejarah Mie Surabaya yang ternyata dikenal juga dengan nama "Dog-dog". Sampai pada dialog ini :

Erick : Bapak ada juragannya lagi gak? Maksudnya Bapak masih nyetor lagi sama bozznya?
Bapak : Oh gak Mas, ini punya saya sendiri. Gak nyetor sama siapa-siapa. Paling sama istri (saya : geeerrrr).
Erick :Oooh gitu...berarti bumbu n semua2nya juga siapin sendiri dong Pak
Bapak : Iya Mas.

Nah, si Bapak menjalankan usahanya sendiri. Dia gak punya beban untuk 'nyetor' sama juragannya lagi, selain sama istrinya. Dari sini saya jadi mengambil kesimpulan :
1. Pantes aja si Bapak semangatnya tinggi untuk berjualan, dia harus kreatif dan menyapa pelanggannya dengan konten lokal sang pelanggan karena tanggung jawabnya sama keluarga, dan juga bagi dia menjadi Penjual Nasgor adalah jalan hidupnya. Pilihan profesi yang dia lakoni. (Meski saya tidak tahu apakah si Bapak memiliki usaha lainnya, namun perkiraan saya kalau si Bapak harus mempersiapkan segala kebutuhan berjualan dari siang, makan waktu yang dia miliki untuk menjalankan usaha lainnya sangatlah terbatas)
2. Dengan menjalankan usaha Nasi Goreng itu sendiri, si Bapak mempunyai kebebasan dalam 'berekspresi' menentukan komposisi bumbu, minyak goreng, sampai ukuran porsi yang diberikan sehingga menjadi nasi goreng yang digemari oleh para pelanggan.

Berbeda dengan penjual nasi goreng yang harus 'nyetor' ke juragan, jika si penjual lainnya ini diberikan 1 bakul nasi yang direncanakan oleh si juragan untuk 100 porsi, maka penjual lainnya ini akan berupaya untuk menjadikannya 120 atau 150 porsi. Dengan harapan mendapatkan keuntungan lebih.

Ternyata nilai sebuah brand juga berangkat dari nilai-nilai positif yang kalo diambil dari potret si Bapak tujuannya adalah :
1. Anak istri mendapat nafkah.
2. Pelanggan senang dan puas.

Sekedar berbagi, CMIIW.
Read More......

Belajar Branding dari Penjual Nasi Goreng (I)

Judul yang panjang bukan? Namun ada hal menarik memang yang saya ingin ceriterakan. Hari Minggu (10/01), di malam hari, perut saya konser minta pemenuhan bahan pangan. Lalu saya bergegas menuju ke depan jalan untuk menjumpai Penjual Nasi Goreng -ala Mie Surabaya- yang kebetulan dia sudah ada di depan jalan yang jaraknya 50 meter dari kediaman saya.

Untuk menuju kesana saya sudah melewati seorang Penjual Nasi Goreng juga, namun karena saya belum pernah mencoba racikan masakannya, saya tetap berjalan menuju tujuan saya semula. Sesampainya disana, sudah terlihat antrian di sekeliling gerobak, belum lagi yang sudah memesan terlebih dahulu untuk kemudian mengambil pesanannya. Namun para penggantri dengan setia tetap berdiri menunggu giliran pesanan mereka diselesaikan. Waktu masih menunjukkan pukul 21.00 namun nasi goreng sudah habis. Setelah mengamati cara si Bapak dalam melayani konsumennya, saya jadi mengerti alasan mengapa Mie Surabaya ini laris manis.

1. Si Bapak ramah dalam melayani pembeli, dia berbahasa Sunda jika pembelinya adalah dari suku Sunda. Berbahasa Jawa (halus) jika pembelinya berasal dari suku Jawa. Dn berlogat Betawi jika pembelinya diketahui berlogat Betawi. Sebagai sebuah brand, si Bapak mampu mengenali siapa pelanggannya (atau calon pelanggannya) dan menyapa mereka dengan ramah berdasarkan latar belakang mereka. Hal ini menimbulkan kedekatan personal antara brand dengan penggemarnya.

2. Porsi yang diberikan lebih banyak dari Penjual Nasi Goreng lainnya. Jika dibandingkan sekitar 1 1/2 berbanding 1. Sebagai brand, si Bapak memberikan lebih dari standar kuantitas kompetitor lainnya. Dan hal ini disukai banget sama konsumen pada umumnya.

3. Rasanya juga mantap. Nah ini berhubungan dengan kualitas produk. Sebagai brand, si Bapak telah berhasil memennuhi atau memuaskan ekspektasi pelanggannya yang datang kepadanya dengan motivasi mencari 'alat' penghilang rasa lapar yang nikmat namun juga terjangkau.

Jadi brand memang tidak hanya sekedar nama, namun juga harus memiliki karakteristik personal yang positif agar dapat merebut hati 'pasangan' yang dituju. Read More......
 

What they said?