RSS
email
0

Konsisten untuk Bersikap Kreatif


Karena kebiasaan tidur larut, bahkan menjelang dini hari, maka jam 00.00 pun seakan-akan jam 8 malam. Kebiasaan tidur malam membentuk 'sifat' dalam diri saya menjadi kuat dan hobby begadang. Kalo melihat dari sini seharusnya dapat ditarik hal umum : Kebiasaan membentuk sesuatu!

Menjadi hasrat saya untuk menjadi orang yang kreatif dan inovatif (dari sudut pandang yang positif) dalam menjalankan hidup, termasuk diantaranya bekerja. Maka saya mencoba melakukan teori ini. Jika saya ingin kreatif maka saya harus membiasakan diri untuk bersikap kreatif dan juga inovatif!

Saya hobby menikmati nasi goreng, karena itu saya mencoba untuk bersikap kreatif pada saat membeli nasi goreng. Tidak hanya sekedar membeli, namun juga melihat proses pengerjaan nasi goreng, beragamnya pembeli yang lain, dan juga kebiasaan baik yang dilakukan si penjual pada konsumen. Saya melakukan analisis yang diusahakan menyeluruh kepada si penjual nasi goreng. Nah menurut saya ini termasuk kebiasaan kreatif yang positif, jadi tidak sekedar membeli nasi goreng, menikmatinya lalu selesai. Namun terdapat proses pembelajaran bagi saya ketika membeli nasi goreng itu.

Sedikit tantangannya adalah konsistensi untuk bersikap kreatif. Karena konsistensi membutuhkan penguasaan diri dari rasa malas, jenuh yang acap kali menyerang pikiran kita. Dan penguasaan diri ini diawali dengan mengalahkan keinginan diri yang cenderung mencari hal yang instant, nyaman, mudah, murah, nikmat, berkualitas dan juga dalam kuantitas yang besar.

Wah ngelantur ya? Atau ada benarnya? Hahahaha...namanya juga belajar ngobrol....

Read more
0

Belajar Branding dari Penjual Nasi Goreng (II)


Hari Rabu (13/01) kembali saya presensi ke Bapak untuk membeli nasi goreng. Kebetulan sedang tidak banyak orang yg mengantri. Meskipun giliran pesanan saya adalah yang ketiga untuk dibikin. Nah coba-coba saya ngobrol deh sama Bapak. Panjang lebar dari soal bumbu sampe soal sejarah Mie Surabaya yang ternyata dikenal juga dengan nama "Dog-dog". Sampai pada dialog ini :

Erick : Bapak ada juragannya lagi gak? Maksudnya Bapak masih nyetor lagi sama bozznya?
Bapak : Oh gak Mas, ini punya saya sendiri. Gak nyetor sama siapa-siapa. Paling sama istri (saya : geeerrrr).
Erick :Oooh gitu...berarti bumbu n semua2nya juga siapin sendiri dong Pak
Bapak : Iya Mas.

Nah, si Bapak menjalankan usahanya sendiri. Dia gak punya beban untuk 'nyetor' sama juragannya lagi, selain sama istrinya. Dari sini saya jadi mengambil kesimpulan :
1. Pantes aja si Bapak semangatnya tinggi untuk berjualan, dia harus kreatif dan menyapa pelanggannya dengan konten lokal sang pelanggan karena tanggung jawabnya sama keluarga, dan juga bagi dia menjadi Penjual Nasgor adalah jalan hidupnya. Pilihan profesi yang dia lakoni. (Meski saya tidak tahu apakah si Bapak memiliki usaha lainnya, namun perkiraan saya kalau si Bapak harus mempersiapkan segala kebutuhan berjualan dari siang, makan waktu yang dia miliki untuk menjalankan usaha lainnya sangatlah terbatas)
2. Dengan menjalankan usaha Nasi Goreng itu sendiri, si Bapak mempunyai kebebasan dalam 'berekspresi' menentukan komposisi bumbu, minyak goreng, sampai ukuran porsi yang diberikan sehingga menjadi nasi goreng yang digemari oleh para pelanggan.

Berbeda dengan penjual nasi goreng yang harus 'nyetor' ke juragan, jika si penjual lainnya ini diberikan 1 bakul nasi yang direncanakan oleh si juragan untuk 100 porsi, maka penjual lainnya ini akan berupaya untuk menjadikannya 120 atau 150 porsi. Dengan harapan mendapatkan keuntungan lebih.

Ternyata nilai sebuah brand juga berangkat dari nilai-nilai positif yang kalo diambil dari potret si Bapak tujuannya adalah :
1. Anak istri mendapat nafkah.
2. Pelanggan senang dan puas.

Sekedar berbagi, CMIIW.
Read more
2

Belajar Branding dari Penjual Nasi Goreng (I)

Judul yang panjang bukan? Namun ada hal menarik memang yang saya ingin ceriterakan. Hari Minggu (10/01), di malam hari, perut saya konser minta pemenuhan bahan pangan. Lalu saya bergegas menuju ke depan jalan untuk menjumpai Penjual Nasi Goreng -ala Mie Surabaya- yang kebetulan dia sudah ada di depan jalan yang jaraknya 50 meter dari kediaman saya.

Untuk menuju kesana saya sudah melewati seorang Penjual Nasi Goreng juga, namun karena saya belum pernah mencoba racikan masakannya, saya tetap berjalan menuju tujuan saya semula. Sesampainya disana, sudah terlihat antrian di sekeliling gerobak, belum lagi yang sudah memesan terlebih dahulu untuk kemudian mengambil pesanannya. Namun para penggantri dengan setia tetap berdiri menunggu giliran pesanan mereka diselesaikan. Waktu masih menunjukkan pukul 21.00 namun nasi goreng sudah habis. Setelah mengamati cara si Bapak dalam melayani konsumennya, saya jadi mengerti alasan mengapa Mie Surabaya ini laris manis.

1. Si Bapak ramah dalam melayani pembeli, dia berbahasa Sunda jika pembelinya adalah dari suku Sunda. Berbahasa Jawa (halus) jika pembelinya berasal dari suku Jawa. Dn berlogat Betawi jika pembelinya diketahui berlogat Betawi. Sebagai sebuah brand, si Bapak mampu mengenali siapa pelanggannya (atau calon pelanggannya) dan menyapa mereka dengan ramah berdasarkan latar belakang mereka. Hal ini menimbulkan kedekatan personal antara brand dengan penggemarnya.

2. Porsi yang diberikan lebih banyak dari Penjual Nasi Goreng lainnya. Jika dibandingkan sekitar 1 1/2 berbanding 1. Sebagai brand, si Bapak memberikan lebih dari standar kuantitas kompetitor lainnya. Dan hal ini disukai banget sama konsumen pada umumnya.

3. Rasanya juga mantap. Nah ini berhubungan dengan kualitas produk. Sebagai brand, si Bapak telah berhasil memennuhi atau memuaskan ekspektasi pelanggannya yang datang kepadanya dengan motivasi mencari 'alat' penghilang rasa lapar yang nikmat namun juga terjangkau.

Jadi brand memang tidak hanya sekedar nama, namun juga harus memiliki karakteristik personal yang positif agar dapat merebut hati 'pasangan' yang dituju.
Read more
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Konsisten untuk Bersikap Kreatif


Karena kebiasaan tidur larut, bahkan menjelang dini hari, maka jam 00.00 pun seakan-akan jam 8 malam. Kebiasaan tidur malam membentuk 'sifat' dalam diri saya menjadi kuat dan hobby begadang. Kalo melihat dari sini seharusnya dapat ditarik hal umum : Kebiasaan membentuk sesuatu!

Menjadi hasrat saya untuk menjadi orang yang kreatif dan inovatif (dari sudut pandang yang positif) dalam menjalankan hidup, termasuk diantaranya bekerja. Maka saya mencoba melakukan teori ini. Jika saya ingin kreatif maka saya harus membiasakan diri untuk bersikap kreatif dan juga inovatif!

Saya hobby menikmati nasi goreng, karena itu saya mencoba untuk bersikap kreatif pada saat membeli nasi goreng. Tidak hanya sekedar membeli, namun juga melihat proses pengerjaan nasi goreng, beragamnya pembeli yang lain, dan juga kebiasaan baik yang dilakukan si penjual pada konsumen. Saya melakukan analisis yang diusahakan menyeluruh kepada si penjual nasi goreng. Nah menurut saya ini termasuk kebiasaan kreatif yang positif, jadi tidak sekedar membeli nasi goreng, menikmatinya lalu selesai. Namun terdapat proses pembelajaran bagi saya ketika membeli nasi goreng itu.

Sedikit tantangannya adalah konsistensi untuk bersikap kreatif. Karena konsistensi membutuhkan penguasaan diri dari rasa malas, jenuh yang acap kali menyerang pikiran kita. Dan penguasaan diri ini diawali dengan mengalahkan keinginan diri yang cenderung mencari hal yang instant, nyaman, mudah, murah, nikmat, berkualitas dan juga dalam kuantitas yang besar.

Wah ngelantur ya? Atau ada benarnya? Hahahaha...namanya juga belajar ngobrol....

Read More......

Belajar Branding dari Penjual Nasi Goreng (II)


Hari Rabu (13/01) kembali saya presensi ke Bapak untuk membeli nasi goreng. Kebetulan sedang tidak banyak orang yg mengantri. Meskipun giliran pesanan saya adalah yang ketiga untuk dibikin. Nah coba-coba saya ngobrol deh sama Bapak. Panjang lebar dari soal bumbu sampe soal sejarah Mie Surabaya yang ternyata dikenal juga dengan nama "Dog-dog". Sampai pada dialog ini :

Erick : Bapak ada juragannya lagi gak? Maksudnya Bapak masih nyetor lagi sama bozznya?
Bapak : Oh gak Mas, ini punya saya sendiri. Gak nyetor sama siapa-siapa. Paling sama istri (saya : geeerrrr).
Erick :Oooh gitu...berarti bumbu n semua2nya juga siapin sendiri dong Pak
Bapak : Iya Mas.

Nah, si Bapak menjalankan usahanya sendiri. Dia gak punya beban untuk 'nyetor' sama juragannya lagi, selain sama istrinya. Dari sini saya jadi mengambil kesimpulan :
1. Pantes aja si Bapak semangatnya tinggi untuk berjualan, dia harus kreatif dan menyapa pelanggannya dengan konten lokal sang pelanggan karena tanggung jawabnya sama keluarga, dan juga bagi dia menjadi Penjual Nasgor adalah jalan hidupnya. Pilihan profesi yang dia lakoni. (Meski saya tidak tahu apakah si Bapak memiliki usaha lainnya, namun perkiraan saya kalau si Bapak harus mempersiapkan segala kebutuhan berjualan dari siang, makan waktu yang dia miliki untuk menjalankan usaha lainnya sangatlah terbatas)
2. Dengan menjalankan usaha Nasi Goreng itu sendiri, si Bapak mempunyai kebebasan dalam 'berekspresi' menentukan komposisi bumbu, minyak goreng, sampai ukuran porsi yang diberikan sehingga menjadi nasi goreng yang digemari oleh para pelanggan.

Berbeda dengan penjual nasi goreng yang harus 'nyetor' ke juragan, jika si penjual lainnya ini diberikan 1 bakul nasi yang direncanakan oleh si juragan untuk 100 porsi, maka penjual lainnya ini akan berupaya untuk menjadikannya 120 atau 150 porsi. Dengan harapan mendapatkan keuntungan lebih.

Ternyata nilai sebuah brand juga berangkat dari nilai-nilai positif yang kalo diambil dari potret si Bapak tujuannya adalah :
1. Anak istri mendapat nafkah.
2. Pelanggan senang dan puas.

Sekedar berbagi, CMIIW.
Read More......

Belajar Branding dari Penjual Nasi Goreng (I)

Judul yang panjang bukan? Namun ada hal menarik memang yang saya ingin ceriterakan. Hari Minggu (10/01), di malam hari, perut saya konser minta pemenuhan bahan pangan. Lalu saya bergegas menuju ke depan jalan untuk menjumpai Penjual Nasi Goreng -ala Mie Surabaya- yang kebetulan dia sudah ada di depan jalan yang jaraknya 50 meter dari kediaman saya.

Untuk menuju kesana saya sudah melewati seorang Penjual Nasi Goreng juga, namun karena saya belum pernah mencoba racikan masakannya, saya tetap berjalan menuju tujuan saya semula. Sesampainya disana, sudah terlihat antrian di sekeliling gerobak, belum lagi yang sudah memesan terlebih dahulu untuk kemudian mengambil pesanannya. Namun para penggantri dengan setia tetap berdiri menunggu giliran pesanan mereka diselesaikan. Waktu masih menunjukkan pukul 21.00 namun nasi goreng sudah habis. Setelah mengamati cara si Bapak dalam melayani konsumennya, saya jadi mengerti alasan mengapa Mie Surabaya ini laris manis.

1. Si Bapak ramah dalam melayani pembeli, dia berbahasa Sunda jika pembelinya adalah dari suku Sunda. Berbahasa Jawa (halus) jika pembelinya berasal dari suku Jawa. Dn berlogat Betawi jika pembelinya diketahui berlogat Betawi. Sebagai sebuah brand, si Bapak mampu mengenali siapa pelanggannya (atau calon pelanggannya) dan menyapa mereka dengan ramah berdasarkan latar belakang mereka. Hal ini menimbulkan kedekatan personal antara brand dengan penggemarnya.

2. Porsi yang diberikan lebih banyak dari Penjual Nasi Goreng lainnya. Jika dibandingkan sekitar 1 1/2 berbanding 1. Sebagai brand, si Bapak memberikan lebih dari standar kuantitas kompetitor lainnya. Dan hal ini disukai banget sama konsumen pada umumnya.

3. Rasanya juga mantap. Nah ini berhubungan dengan kualitas produk. Sebagai brand, si Bapak telah berhasil memennuhi atau memuaskan ekspektasi pelanggannya yang datang kepadanya dengan motivasi mencari 'alat' penghilang rasa lapar yang nikmat namun juga terjangkau.

Jadi brand memang tidak hanya sekedar nama, namun juga harus memiliki karakteristik personal yang positif agar dapat merebut hati 'pasangan' yang dituju. Read More......
 

What they said?