RSS
email

Belajar Branding dari Penjual Nasi Goreng (II)


Hari Rabu (13/01) kembali saya presensi ke Bapak untuk membeli nasi goreng. Kebetulan sedang tidak banyak orang yg mengantri. Meskipun giliran pesanan saya adalah yang ketiga untuk dibikin. Nah coba-coba saya ngobrol deh sama Bapak. Panjang lebar dari soal bumbu sampe soal sejarah Mie Surabaya yang ternyata dikenal juga dengan nama "Dog-dog". Sampai pada dialog ini :

Erick : Bapak ada juragannya lagi gak? Maksudnya Bapak masih nyetor lagi sama bozznya?
Bapak : Oh gak Mas, ini punya saya sendiri. Gak nyetor sama siapa-siapa. Paling sama istri (saya : geeerrrr).
Erick :Oooh gitu...berarti bumbu n semua2nya juga siapin sendiri dong Pak
Bapak : Iya Mas.

Nah, si Bapak menjalankan usahanya sendiri. Dia gak punya beban untuk 'nyetor' sama juragannya lagi, selain sama istrinya. Dari sini saya jadi mengambil kesimpulan :
1. Pantes aja si Bapak semangatnya tinggi untuk berjualan, dia harus kreatif dan menyapa pelanggannya dengan konten lokal sang pelanggan karena tanggung jawabnya sama keluarga, dan juga bagi dia menjadi Penjual Nasgor adalah jalan hidupnya. Pilihan profesi yang dia lakoni. (Meski saya tidak tahu apakah si Bapak memiliki usaha lainnya, namun perkiraan saya kalau si Bapak harus mempersiapkan segala kebutuhan berjualan dari siang, makan waktu yang dia miliki untuk menjalankan usaha lainnya sangatlah terbatas)
2. Dengan menjalankan usaha Nasi Goreng itu sendiri, si Bapak mempunyai kebebasan dalam 'berekspresi' menentukan komposisi bumbu, minyak goreng, sampai ukuran porsi yang diberikan sehingga menjadi nasi goreng yang digemari oleh para pelanggan.

Berbeda dengan penjual nasi goreng yang harus 'nyetor' ke juragan, jika si penjual lainnya ini diberikan 1 bakul nasi yang direncanakan oleh si juragan untuk 100 porsi, maka penjual lainnya ini akan berupaya untuk menjadikannya 120 atau 150 porsi. Dengan harapan mendapatkan keuntungan lebih.

Ternyata nilai sebuah brand juga berangkat dari nilai-nilai positif yang kalo diambil dari potret si Bapak tujuannya adalah :
1. Anak istri mendapat nafkah.
2. Pelanggan senang dan puas.

Sekedar berbagi, CMIIW.

Bookmark and Share

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Belajar Branding dari Penjual Nasi Goreng (II)


Hari Rabu (13/01) kembali saya presensi ke Bapak untuk membeli nasi goreng. Kebetulan sedang tidak banyak orang yg mengantri. Meskipun giliran pesanan saya adalah yang ketiga untuk dibikin. Nah coba-coba saya ngobrol deh sama Bapak. Panjang lebar dari soal bumbu sampe soal sejarah Mie Surabaya yang ternyata dikenal juga dengan nama "Dog-dog". Sampai pada dialog ini :

Erick : Bapak ada juragannya lagi gak? Maksudnya Bapak masih nyetor lagi sama bozznya?
Bapak : Oh gak Mas, ini punya saya sendiri. Gak nyetor sama siapa-siapa. Paling sama istri (saya : geeerrrr).
Erick :Oooh gitu...berarti bumbu n semua2nya juga siapin sendiri dong Pak
Bapak : Iya Mas.

Nah, si Bapak menjalankan usahanya sendiri. Dia gak punya beban untuk 'nyetor' sama juragannya lagi, selain sama istrinya. Dari sini saya jadi mengambil kesimpulan :
1. Pantes aja si Bapak semangatnya tinggi untuk berjualan, dia harus kreatif dan menyapa pelanggannya dengan konten lokal sang pelanggan karena tanggung jawabnya sama keluarga, dan juga bagi dia menjadi Penjual Nasgor adalah jalan hidupnya. Pilihan profesi yang dia lakoni. (Meski saya tidak tahu apakah si Bapak memiliki usaha lainnya, namun perkiraan saya kalau si Bapak harus mempersiapkan segala kebutuhan berjualan dari siang, makan waktu yang dia miliki untuk menjalankan usaha lainnya sangatlah terbatas)
2. Dengan menjalankan usaha Nasi Goreng itu sendiri, si Bapak mempunyai kebebasan dalam 'berekspresi' menentukan komposisi bumbu, minyak goreng, sampai ukuran porsi yang diberikan sehingga menjadi nasi goreng yang digemari oleh para pelanggan.

Berbeda dengan penjual nasi goreng yang harus 'nyetor' ke juragan, jika si penjual lainnya ini diberikan 1 bakul nasi yang direncanakan oleh si juragan untuk 100 porsi, maka penjual lainnya ini akan berupaya untuk menjadikannya 120 atau 150 porsi. Dengan harapan mendapatkan keuntungan lebih.

Ternyata nilai sebuah brand juga berangkat dari nilai-nilai positif yang kalo diambil dari potret si Bapak tujuannya adalah :
1. Anak istri mendapat nafkah.
2. Pelanggan senang dan puas.

Sekedar berbagi, CMIIW.



 

What they said?