RSS
email

Belajar Branding dari Penjual Nasi Goreng (I)

Judul yang panjang bukan? Namun ada hal menarik memang yang saya ingin ceriterakan. Hari Minggu (10/01), di malam hari, perut saya konser minta pemenuhan bahan pangan. Lalu saya bergegas menuju ke depan jalan untuk menjumpai Penjual Nasi Goreng -ala Mie Surabaya- yang kebetulan dia sudah ada di depan jalan yang jaraknya 50 meter dari kediaman saya.

Untuk menuju kesana saya sudah melewati seorang Penjual Nasi Goreng juga, namun karena saya belum pernah mencoba racikan masakannya, saya tetap berjalan menuju tujuan saya semula. Sesampainya disana, sudah terlihat antrian di sekeliling gerobak, belum lagi yang sudah memesan terlebih dahulu untuk kemudian mengambil pesanannya. Namun para penggantri dengan setia tetap berdiri menunggu giliran pesanan mereka diselesaikan. Waktu masih menunjukkan pukul 21.00 namun nasi goreng sudah habis. Setelah mengamati cara si Bapak dalam melayani konsumennya, saya jadi mengerti alasan mengapa Mie Surabaya ini laris manis.

1. Si Bapak ramah dalam melayani pembeli, dia berbahasa Sunda jika pembelinya adalah dari suku Sunda. Berbahasa Jawa (halus) jika pembelinya berasal dari suku Jawa. Dn berlogat Betawi jika pembelinya diketahui berlogat Betawi. Sebagai sebuah brand, si Bapak mampu mengenali siapa pelanggannya (atau calon pelanggannya) dan menyapa mereka dengan ramah berdasarkan latar belakang mereka. Hal ini menimbulkan kedekatan personal antara brand dengan penggemarnya.

2. Porsi yang diberikan lebih banyak dari Penjual Nasi Goreng lainnya. Jika dibandingkan sekitar 1 1/2 berbanding 1. Sebagai brand, si Bapak memberikan lebih dari standar kuantitas kompetitor lainnya. Dan hal ini disukai banget sama konsumen pada umumnya.

3. Rasanya juga mantap. Nah ini berhubungan dengan kualitas produk. Sebagai brand, si Bapak telah berhasil memennuhi atau memuaskan ekspektasi pelanggannya yang datang kepadanya dengan motivasi mencari 'alat' penghilang rasa lapar yang nikmat namun juga terjangkau.

Jadi brand memang tidak hanya sekedar nama, namun juga harus memiliki karakteristik personal yang positif agar dapat merebut hati 'pasangan' yang dituju.

Bookmark and Share

2 komentar:

Lionel mengatakan...

wah, artikel bagus mas..
minta ijin mengutip artikelnya boleh?

Erick Sowong mengatakan...

Monggo lho Mas Lionel.. :)

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Belajar Branding dari Penjual Nasi Goreng (I)

Judul yang panjang bukan? Namun ada hal menarik memang yang saya ingin ceriterakan. Hari Minggu (10/01), di malam hari, perut saya konser minta pemenuhan bahan pangan. Lalu saya bergegas menuju ke depan jalan untuk menjumpai Penjual Nasi Goreng -ala Mie Surabaya- yang kebetulan dia sudah ada di depan jalan yang jaraknya 50 meter dari kediaman saya.

Untuk menuju kesana saya sudah melewati seorang Penjual Nasi Goreng juga, namun karena saya belum pernah mencoba racikan masakannya, saya tetap berjalan menuju tujuan saya semula. Sesampainya disana, sudah terlihat antrian di sekeliling gerobak, belum lagi yang sudah memesan terlebih dahulu untuk kemudian mengambil pesanannya. Namun para penggantri dengan setia tetap berdiri menunggu giliran pesanan mereka diselesaikan. Waktu masih menunjukkan pukul 21.00 namun nasi goreng sudah habis. Setelah mengamati cara si Bapak dalam melayani konsumennya, saya jadi mengerti alasan mengapa Mie Surabaya ini laris manis.

1. Si Bapak ramah dalam melayani pembeli, dia berbahasa Sunda jika pembelinya adalah dari suku Sunda. Berbahasa Jawa (halus) jika pembelinya berasal dari suku Jawa. Dn berlogat Betawi jika pembelinya diketahui berlogat Betawi. Sebagai sebuah brand, si Bapak mampu mengenali siapa pelanggannya (atau calon pelanggannya) dan menyapa mereka dengan ramah berdasarkan latar belakang mereka. Hal ini menimbulkan kedekatan personal antara brand dengan penggemarnya.

2. Porsi yang diberikan lebih banyak dari Penjual Nasi Goreng lainnya. Jika dibandingkan sekitar 1 1/2 berbanding 1. Sebagai brand, si Bapak memberikan lebih dari standar kuantitas kompetitor lainnya. Dan hal ini disukai banget sama konsumen pada umumnya.

3. Rasanya juga mantap. Nah ini berhubungan dengan kualitas produk. Sebagai brand, si Bapak telah berhasil memennuhi atau memuaskan ekspektasi pelanggannya yang datang kepadanya dengan motivasi mencari 'alat' penghilang rasa lapar yang nikmat namun juga terjangkau.

Jadi brand memang tidak hanya sekedar nama, namun juga harus memiliki karakteristik personal yang positif agar dapat merebut hati 'pasangan' yang dituju.

2 komentar:

  1. Lionel mengatakan...

    wah, artikel bagus mas..
    minta ijin mengutip artikelnya boleh?

  2. Erick Sowong mengatakan...

    Monggo lho Mas Lionel.. :)

Posting Komentar



 

What they said?