RSS
email
1

Philantrophy Mindset in Branding Strategy???


Setiap orang memiliki rasio, perasaan, dan juga hasrat/nafsu. Yang secara teori selalu berkembang sesuai pertambahan usia; mencapai puncaknya pada usia 45-an, untuk kemudian menurun lagi. Kembali seperti masa kanak-kanak.

Dengan menyentuh salah satu dari ketiga hal tersebut, maka tindakan pun tercipta. Kalau dalam konteks komunikasi pemasaran, Stimulus yang datang ke Organism (manusia) menghasilkan Response; salah satu teori komunikasi favorit saya yang saya usulkan dalam skripsi saya yang berjudul “Strategi Komunikasi Pemasaran Online CV. Cahaya Abadi Indonesia” adalah teori S-O-R ini namun ditolak oleh dosen pembimbing. :(

Nah sekarang kita mau sentuh yang mana? Kalau pribadi saya, sebenarnya lebih elegan untuk menyentuh perasaannya Target Audience, karena pertimbangan rasio akan dilupakan, bahkan ada kepuasan di hati TA; yang berbeda setelah melakukan anjuran stimulus dari merek yang melancarkannya. Merasa lega, tanpa beban. Berbeda kalau menyentuh titik hasrat/nafsunya, mungkin efektif untuk mendorong terciptanya transaksi, namun biasanya setelah transaksi ada perasaan ‘aneh’ yang timbul : Perasaan bersalah (aduh duit cicilan mobil bulan ini kepake beli Hp baru....gawaaat!!!), dibodohi (wah padahal gak butuh barang ini nih???). Namun jika menyentuh perasaannya, setelah melakukan transaksi bukan tidak mungkin, si TA akan merasa berjasa. Meski memang harus dilihat terlebih dulu karakteristik merek dan produk yang bersangkutan.

Contoh kasus :
Selama ini ‘what to say’ yang diangkat merek-merek operator selular kebanyakan adalah :
“Termurah (karena tarifnya telp/GPRS/sms, gratisannya banyak) dan Terbaik (jangkauan jaringan terluas, mencakup banyak wilayah, sinnyal kuat)”. Lebih banyak menyentuh titik hasrat/nafsu si TA.

Coba kalo saya ‘pelintir’ agar menyentuh titik perasaannya, ‘what to say’ nya menjadi :
“Dengan menggunakan operator selular C, kamu bisa menghemat biaya pemakaian pulsa kamu, sehingga bisa beramal ke korban bencana alam, anak yang putus sekolah, gelandangan, atau pengemis” Rada nge-blend antara pemasaran sosial dan pemasaran komersil. Bisa dikategorikan Filantrophy Marketing kan tuh. Ada nilai tambah dari komunikasi pemasaran yang dilakukan, sehingga bukan tidak mungkin si TA menilai merek operator selular (opsel) C adalah merek yang berbudi, yang karena budinya itu tidak mungkin bermain-main dengan perkataan soal tarif murah dan kualitas hebat. Lugasnya : Opsel C adalah merek yang kredibel dan berintegritas!

Note : Artikel ini tidak akan ditemukan di mana pun kecuali di blog ini! Setidaknya untuk saat ini. :)

Sumber foto : xcavator.net
Read more
0

Ada Cinta di Tahun Baru Cina


Ada cinta di Tahun Baru Cina


Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, di tahun 2010 ini Imlek dan Valentine berbarengan harinya. Kalau tafsiran ‘ngawur’ saya, di tahun ini seharusnya kemakmuran yang diharapkan dan dihasilkan bisa mendukung upaya dan kegiatan kita dalam menyebar cinta kasih. Hehehehe...bisa connect kan?


Meski sebenarnya sih tidak usah menunggu mendapatkan kemakmuran dulu baru menyebar cinta kasih, karena jika demikian, kita tidak akan pernah bisa menyebar cinta kasih. Kecendrungan manusia selalu ingin naik ke level yang lebih tinggi. Jika sudah punya mobil 1, ingin punya 2. Jika sudah pernah ke Bali, bercita-cita ingin ke Singapura. Memang gak salah sih semua cita-cita keinginan itu. Namun kalau menunggu semua itu tercapai niscaya kita tidak akan pernah menyebar cinta kasih.


Banyak cara sebenarnya. Di sekeliling kita banyak orang yang membutuhkan cinta kasih kita. Coba aja naik bis reguler, pasti banyak deh tuh pengemis, pengamen yang mencari uang dari belas kasih pengunjung bis. Meski menurut saya, tidak semuanya pengemis dan pengamen itu layak kita bantu. Karena ada juga yang mengemis, dan mengamen untuk hal-hal yang buruk : Mabuk-mabukan, Narkoba, dsb. Namun memang lebih banyak lagi yang melakukan itu (baca : Mengemis dan Mengamen) untuk menyambung hidup diri dan keluarganya. Di kala pemerintah dan institusi-institusi lainnya tidak berdaya untuk menjangkau mereka.


Atau ke orang terdekat kita namun sering kali kita lupakan. Ibu kita misalnya, seorang wanita yang di tangannya TUHAN mempercayakan diri kita untuk diperlihara, dilindungi, dibimbing sampai seperti saat ini. Sudah seberapa sering kita membahagiakan Ibu kita di rumah? Seminggu sekali? Sebulan sekali? Itu cukup? Dulu pas kita bayi, dia menghabiskan waktunya tiap hari bersama kita lho (menurut cerita Ibu saya).


Kalau di lingkungan kantor kita mungkin OB yang setiap hari senantiasa setia menanti suruhan kita untuk membeli makanan atau sekedar mengambil kertas faks yang masuk. Di kantor saya yang terdahulu, seorang OB merangkap supir, juga cleaning service setiap pagi, dan kalau ada barang masuk si OB ini selain ditugaskan mengangkat barang-barang kiriman plus ditambah tugas melakukan inventory gudang. Coba tebak gajinya? Rp. 500an ribu + Rp. 20 ribu/hari untuk uang makan dan uang transportnya.


Jadi sebenarnya kita tidak perlu menunggu menjadi makmur dahulu baru menyebar cinta kasih, selalu ada orang-orang di sekeliling kita yang TUHAN pertemukan untuk kita menyalurkan energi cinta kasih itu.


Yuk lakukan sekarang!


Sumber foto : xcavator.net

Read more
0

Keburukan sosok Ibu di rumah


Sosok Ibu di rumah mungkin memasak makanan yang kalah lezat daripada resto-resto favorit kita. Namun menikmati makanan Ibu tidak hanya kelezatannya yang kita rasakan, tetapi juga kasih sayang yang melimpah tiada akhir pun turut kita rasakan.


Sosok Ibu di rumah mungkin tidak selalu membuatmu ceria seperti teman-teman kita, namun saat ia berusaha menghibur kita ia melakukannya dengan tulus karena ingin melihat anak kesayangannya melupakan kesedihannya.


Sosok Ibu di rumah seringkali membuat kita kesal akan kecerewetannya, namun kita tahu bahwa kecerewetannya mengandung kebenaran, ia tidak ingin kita melakukan kesalahan dan menyesalinya.


Sosok Ibu di rumah mungkin tidak sesempurna para rohaniwan yang hafal luar dalam dan mematuhi isi Kitab Suci, karena nalurinya hanya menginstruksikan hal ini : “Supaya anakku bahagia dan nyaman” Meski untuk itu ia harus melakukan dosa.


Sosok Ibu di rumah seringkali membuatmu malu akan penampilannya berpakaian, itu karena ia tidak mementingkan dirinya. Baginya asalkan anaknya bahagia, tidak mengapa ia melupakan penampilan dirinya.


Sosok Ibu di rumah selalu berusaha sok kuat walaupun tubuhnya sudah renta. Itu karena ia tidak ingin anaknya khawatir, meski ia mengidap penyakit yang menahun, ia akan berkata, “Ibu tidak apa-apa anakku”. Ia tidak ingin kekhawatiran diri kita akan dirinya menghilangkan keceriaan di wajah kita.


Sosok Ibu di rumah hobi begadang, itu kaena ia selalu berdoa kepada TUHAN Semesta Alam di malam dan dini hari agar diri kita selalu berada dalam penyertaan TUHAN.


Sosok Ibu di rumah selalu saja berbohong kepada tetangga sekitar. Ketika bercerita dengan tetangga sekitar selalu saja kita menjadi nomor satu dalam ceritanya, meski kenyataannya tidak demikian.


Sosok Ibu di rumah selalu saja sok mandiri, meski dirinya sedih, ia tetap tersenyum saat sang anak mengirim Ibu ke panti jompo untuk bertemu bersama dengan orang tua lainnya. Ia malah berkata, “Asyiikkk Ibu bisa dapat banyak teman ngobrol di sini!!!” Itu karena ia tidak ingin anaknya merasa kerepotan harus mengurus dirinya


Well, demikianlah sosok Ibu di mata saya. Mari kita responi keburukan sosok Ibu di rumah dengan benar!!!


Bagaimana di mata rekan-rekan?

Read more
0

Merek Narsis?


Beberapa waktu lalu saya berkunjung ke sebuah Trade Mall di wilayah Jakarta Timur. Berkeliling dari lantai paling atas sampai lantai satu. Di lantai satu ini, kembali saya menyusuri sudut-sudut lantai itu, sampai saya menuju ke sebuah toko sepatu yang menjual sepatu-sepatu merek nasional kelas menengah ke bawah. Berikut percakapan saya dengan SPB di sana :


SPB : Bagus Pak sepatu itu, kuat, dipakai juga keren. Murah lagi…

Erick : Berapa harganya?

SPB : Harga normalnya sekian ratus ribu, lagi promo jadi sekian puluh ribu…

Erick : Ooo…*sambil berjalan melihat-lihat* Lha kalo ini *sambil menunjuk kea ah sepatunya* kok namanya sama kaya nama tokonya?

SPB : Iya Pak ini sepatu bikinan toko…bagus itu Pak…kuat lagi…murah cuma sekian puluh ribu aja…

Erick : Oooh gitu ya….*Lalu melihat sepatu yang lain*

SPB : Nah yang itu juga bagus Pak…merek nya –tiiittt- murah cuma sekian puluh ribu…kuat lagi..mereknya –tiiitt- sih Pak.

Erick : Ooo… (padahal saya baru kali ini mendengar merek itu) Makasih ya Mas…saya muter-muter dulu.


Saya meninggalkan toko itu, meski sempat ada ketertarikan untuk melakukan transaksi, namun melihat narsisnya merek toko sepatu itu yang diperagakan oleh SPB yang bersangkutan, membuat saya mengurungkan niat. Saat itu pikiran saya begini, “Kalo seseorang terlalu getol melebih-lebihkan dirinya pasti ada sesuatu yang gak beres!”


Dalam kasus ini merek toko sepatu itu sudah bertindak narsis yang diwakili melalui SPB nya. Tidak ada yang salah sih dengan narsis, namun mungkin harus melihat karakteristik TA (Target Audience yang bersangkutan). Daripada narsis lebih baik ngelawak kan? TA menjadi tertawa dan tanpa sadar sudah tercipta chemistry yang baik.


Pelajaran yang saya ambil sih gini :


Kalo ketemu klien yang narsis, jangan terima mentah-mentah briefnya. Turba dulu ke TA untuk paham bagaimana persepsi tentang brand klien di mata mereka. Supaya bisa memberikan hasil yang terbaik untuk klien. Usahakan sih sedetail dan objektif mungkin. Sekalian melakukan edukasi brand ke TA juga.


Sumber foto : xcavator.net

Read more
0

Percakapan Erick dan iblis dalam pikiran


Saya pasti dibenci iblis nih, karena mempublish hal ini. :)

Suatu ketika di malam hari yang sejuk, kucuk-kucuk datanglah si iblis lengkap dengan tongkat trisula nya ke pikirannya Erick.

iblis : Rick, gw punya ide bagus n 'baik' nih buat lo pikirin...

Erick : Gak mau!

iblis : Ayo dong...lo pikirin dulu...gak lo lakuin juga gak papa...yang penting lo pikirin dulu....

Erick : Gw gak mau! Bandel nih ya! Kalo gw gak mau emang kenapa? Lo mau ngapain gw???.... *sambil berteriak* PAPA....si iblis gangguin Erick lagi nih....

PAPA : Hmmmm....iblis pergi kau!!!!

Erick : Hajar aja PA...iya PA...jitak aja!!!

iblis : Wadaaaaoowwww....iya ampun!!!!!

Si iblis pun lari ketakutan karena diusir, dihajar n dijitak PAPA nya Erick.

Namun si iblis sempat-sempatnya berkata : i will back!!!

----------------------------------------THE END-----------------------------------------------
Read more
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Philantrophy Mindset in Branding Strategy???


Setiap orang memiliki rasio, perasaan, dan juga hasrat/nafsu. Yang secara teori selalu berkembang sesuai pertambahan usia; mencapai puncaknya pada usia 45-an, untuk kemudian menurun lagi. Kembali seperti masa kanak-kanak.

Dengan menyentuh salah satu dari ketiga hal tersebut, maka tindakan pun tercipta. Kalau dalam konteks komunikasi pemasaran, Stimulus yang datang ke Organism (manusia) menghasilkan Response; salah satu teori komunikasi favorit saya yang saya usulkan dalam skripsi saya yang berjudul “Strategi Komunikasi Pemasaran Online CV. Cahaya Abadi Indonesia” adalah teori S-O-R ini namun ditolak oleh dosen pembimbing. :(

Nah sekarang kita mau sentuh yang mana? Kalau pribadi saya, sebenarnya lebih elegan untuk menyentuh perasaannya Target Audience, karena pertimbangan rasio akan dilupakan, bahkan ada kepuasan di hati TA; yang berbeda setelah melakukan anjuran stimulus dari merek yang melancarkannya. Merasa lega, tanpa beban. Berbeda kalau menyentuh titik hasrat/nafsunya, mungkin efektif untuk mendorong terciptanya transaksi, namun biasanya setelah transaksi ada perasaan ‘aneh’ yang timbul : Perasaan bersalah (aduh duit cicilan mobil bulan ini kepake beli Hp baru....gawaaat!!!), dibodohi (wah padahal gak butuh barang ini nih???). Namun jika menyentuh perasaannya, setelah melakukan transaksi bukan tidak mungkin, si TA akan merasa berjasa. Meski memang harus dilihat terlebih dulu karakteristik merek dan produk yang bersangkutan.

Contoh kasus :
Selama ini ‘what to say’ yang diangkat merek-merek operator selular kebanyakan adalah :
“Termurah (karena tarifnya telp/GPRS/sms, gratisannya banyak) dan Terbaik (jangkauan jaringan terluas, mencakup banyak wilayah, sinnyal kuat)”. Lebih banyak menyentuh titik hasrat/nafsu si TA.

Coba kalo saya ‘pelintir’ agar menyentuh titik perasaannya, ‘what to say’ nya menjadi :
“Dengan menggunakan operator selular C, kamu bisa menghemat biaya pemakaian pulsa kamu, sehingga bisa beramal ke korban bencana alam, anak yang putus sekolah, gelandangan, atau pengemis” Rada nge-blend antara pemasaran sosial dan pemasaran komersil. Bisa dikategorikan Filantrophy Marketing kan tuh. Ada nilai tambah dari komunikasi pemasaran yang dilakukan, sehingga bukan tidak mungkin si TA menilai merek operator selular (opsel) C adalah merek yang berbudi, yang karena budinya itu tidak mungkin bermain-main dengan perkataan soal tarif murah dan kualitas hebat. Lugasnya : Opsel C adalah merek yang kredibel dan berintegritas!

Note : Artikel ini tidak akan ditemukan di mana pun kecuali di blog ini! Setidaknya untuk saat ini. :)

Sumber foto : xcavator.net
Read More......

Ada Cinta di Tahun Baru Cina


Ada cinta di Tahun Baru Cina


Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, di tahun 2010 ini Imlek dan Valentine berbarengan harinya. Kalau tafsiran ‘ngawur’ saya, di tahun ini seharusnya kemakmuran yang diharapkan dan dihasilkan bisa mendukung upaya dan kegiatan kita dalam menyebar cinta kasih. Hehehehe...bisa connect kan?


Meski sebenarnya sih tidak usah menunggu mendapatkan kemakmuran dulu baru menyebar cinta kasih, karena jika demikian, kita tidak akan pernah bisa menyebar cinta kasih. Kecendrungan manusia selalu ingin naik ke level yang lebih tinggi. Jika sudah punya mobil 1, ingin punya 2. Jika sudah pernah ke Bali, bercita-cita ingin ke Singapura. Memang gak salah sih semua cita-cita keinginan itu. Namun kalau menunggu semua itu tercapai niscaya kita tidak akan pernah menyebar cinta kasih.


Banyak cara sebenarnya. Di sekeliling kita banyak orang yang membutuhkan cinta kasih kita. Coba aja naik bis reguler, pasti banyak deh tuh pengemis, pengamen yang mencari uang dari belas kasih pengunjung bis. Meski menurut saya, tidak semuanya pengemis dan pengamen itu layak kita bantu. Karena ada juga yang mengemis, dan mengamen untuk hal-hal yang buruk : Mabuk-mabukan, Narkoba, dsb. Namun memang lebih banyak lagi yang melakukan itu (baca : Mengemis dan Mengamen) untuk menyambung hidup diri dan keluarganya. Di kala pemerintah dan institusi-institusi lainnya tidak berdaya untuk menjangkau mereka.


Atau ke orang terdekat kita namun sering kali kita lupakan. Ibu kita misalnya, seorang wanita yang di tangannya TUHAN mempercayakan diri kita untuk diperlihara, dilindungi, dibimbing sampai seperti saat ini. Sudah seberapa sering kita membahagiakan Ibu kita di rumah? Seminggu sekali? Sebulan sekali? Itu cukup? Dulu pas kita bayi, dia menghabiskan waktunya tiap hari bersama kita lho (menurut cerita Ibu saya).


Kalau di lingkungan kantor kita mungkin OB yang setiap hari senantiasa setia menanti suruhan kita untuk membeli makanan atau sekedar mengambil kertas faks yang masuk. Di kantor saya yang terdahulu, seorang OB merangkap supir, juga cleaning service setiap pagi, dan kalau ada barang masuk si OB ini selain ditugaskan mengangkat barang-barang kiriman plus ditambah tugas melakukan inventory gudang. Coba tebak gajinya? Rp. 500an ribu + Rp. 20 ribu/hari untuk uang makan dan uang transportnya.


Jadi sebenarnya kita tidak perlu menunggu menjadi makmur dahulu baru menyebar cinta kasih, selalu ada orang-orang di sekeliling kita yang TUHAN pertemukan untuk kita menyalurkan energi cinta kasih itu.


Yuk lakukan sekarang!


Sumber foto : xcavator.net

Read More......

Keburukan sosok Ibu di rumah


Sosok Ibu di rumah mungkin memasak makanan yang kalah lezat daripada resto-resto favorit kita. Namun menikmati makanan Ibu tidak hanya kelezatannya yang kita rasakan, tetapi juga kasih sayang yang melimpah tiada akhir pun turut kita rasakan.


Sosok Ibu di rumah mungkin tidak selalu membuatmu ceria seperti teman-teman kita, namun saat ia berusaha menghibur kita ia melakukannya dengan tulus karena ingin melihat anak kesayangannya melupakan kesedihannya.


Sosok Ibu di rumah seringkali membuat kita kesal akan kecerewetannya, namun kita tahu bahwa kecerewetannya mengandung kebenaran, ia tidak ingin kita melakukan kesalahan dan menyesalinya.


Sosok Ibu di rumah mungkin tidak sesempurna para rohaniwan yang hafal luar dalam dan mematuhi isi Kitab Suci, karena nalurinya hanya menginstruksikan hal ini : “Supaya anakku bahagia dan nyaman” Meski untuk itu ia harus melakukan dosa.


Sosok Ibu di rumah seringkali membuatmu malu akan penampilannya berpakaian, itu karena ia tidak mementingkan dirinya. Baginya asalkan anaknya bahagia, tidak mengapa ia melupakan penampilan dirinya.


Sosok Ibu di rumah selalu berusaha sok kuat walaupun tubuhnya sudah renta. Itu karena ia tidak ingin anaknya khawatir, meski ia mengidap penyakit yang menahun, ia akan berkata, “Ibu tidak apa-apa anakku”. Ia tidak ingin kekhawatiran diri kita akan dirinya menghilangkan keceriaan di wajah kita.


Sosok Ibu di rumah hobi begadang, itu kaena ia selalu berdoa kepada TUHAN Semesta Alam di malam dan dini hari agar diri kita selalu berada dalam penyertaan TUHAN.


Sosok Ibu di rumah selalu saja berbohong kepada tetangga sekitar. Ketika bercerita dengan tetangga sekitar selalu saja kita menjadi nomor satu dalam ceritanya, meski kenyataannya tidak demikian.


Sosok Ibu di rumah selalu saja sok mandiri, meski dirinya sedih, ia tetap tersenyum saat sang anak mengirim Ibu ke panti jompo untuk bertemu bersama dengan orang tua lainnya. Ia malah berkata, “Asyiikkk Ibu bisa dapat banyak teman ngobrol di sini!!!” Itu karena ia tidak ingin anaknya merasa kerepotan harus mengurus dirinya


Well, demikianlah sosok Ibu di mata saya. Mari kita responi keburukan sosok Ibu di rumah dengan benar!!!


Bagaimana di mata rekan-rekan?

Read More......

Merek Narsis?


Beberapa waktu lalu saya berkunjung ke sebuah Trade Mall di wilayah Jakarta Timur. Berkeliling dari lantai paling atas sampai lantai satu. Di lantai satu ini, kembali saya menyusuri sudut-sudut lantai itu, sampai saya menuju ke sebuah toko sepatu yang menjual sepatu-sepatu merek nasional kelas menengah ke bawah. Berikut percakapan saya dengan SPB di sana :


SPB : Bagus Pak sepatu itu, kuat, dipakai juga keren. Murah lagi…

Erick : Berapa harganya?

SPB : Harga normalnya sekian ratus ribu, lagi promo jadi sekian puluh ribu…

Erick : Ooo…*sambil berjalan melihat-lihat* Lha kalo ini *sambil menunjuk kea ah sepatunya* kok namanya sama kaya nama tokonya?

SPB : Iya Pak ini sepatu bikinan toko…bagus itu Pak…kuat lagi…murah cuma sekian puluh ribu aja…

Erick : Oooh gitu ya….*Lalu melihat sepatu yang lain*

SPB : Nah yang itu juga bagus Pak…merek nya –tiiittt- murah cuma sekian puluh ribu…kuat lagi..mereknya –tiiitt- sih Pak.

Erick : Ooo… (padahal saya baru kali ini mendengar merek itu) Makasih ya Mas…saya muter-muter dulu.


Saya meninggalkan toko itu, meski sempat ada ketertarikan untuk melakukan transaksi, namun melihat narsisnya merek toko sepatu itu yang diperagakan oleh SPB yang bersangkutan, membuat saya mengurungkan niat. Saat itu pikiran saya begini, “Kalo seseorang terlalu getol melebih-lebihkan dirinya pasti ada sesuatu yang gak beres!”


Dalam kasus ini merek toko sepatu itu sudah bertindak narsis yang diwakili melalui SPB nya. Tidak ada yang salah sih dengan narsis, namun mungkin harus melihat karakteristik TA (Target Audience yang bersangkutan). Daripada narsis lebih baik ngelawak kan? TA menjadi tertawa dan tanpa sadar sudah tercipta chemistry yang baik.


Pelajaran yang saya ambil sih gini :


Kalo ketemu klien yang narsis, jangan terima mentah-mentah briefnya. Turba dulu ke TA untuk paham bagaimana persepsi tentang brand klien di mata mereka. Supaya bisa memberikan hasil yang terbaik untuk klien. Usahakan sih sedetail dan objektif mungkin. Sekalian melakukan edukasi brand ke TA juga.


Sumber foto : xcavator.net

Read More......

Percakapan Erick dan iblis dalam pikiran


Saya pasti dibenci iblis nih, karena mempublish hal ini. :)

Suatu ketika di malam hari yang sejuk, kucuk-kucuk datanglah si iblis lengkap dengan tongkat trisula nya ke pikirannya Erick.

iblis : Rick, gw punya ide bagus n 'baik' nih buat lo pikirin...

Erick : Gak mau!

iblis : Ayo dong...lo pikirin dulu...gak lo lakuin juga gak papa...yang penting lo pikirin dulu....

Erick : Gw gak mau! Bandel nih ya! Kalo gw gak mau emang kenapa? Lo mau ngapain gw???.... *sambil berteriak* PAPA....si iblis gangguin Erick lagi nih....

PAPA : Hmmmm....iblis pergi kau!!!!

Erick : Hajar aja PA...iya PA...jitak aja!!!

iblis : Wadaaaaoowwww....iya ampun!!!!!

Si iblis pun lari ketakutan karena diusir, dihajar n dijitak PAPA nya Erick.

Namun si iblis sempat-sempatnya berkata : i will back!!!

----------------------------------------THE END-----------------------------------------------
Read More......
 

What they said?