RSS
email

Philantrophy Mindset in Branding Strategy???


Setiap orang memiliki rasio, perasaan, dan juga hasrat/nafsu. Yang secara teori selalu berkembang sesuai pertambahan usia; mencapai puncaknya pada usia 45-an, untuk kemudian menurun lagi. Kembali seperti masa kanak-kanak.

Dengan menyentuh salah satu dari ketiga hal tersebut, maka tindakan pun tercipta. Kalau dalam konteks komunikasi pemasaran, Stimulus yang datang ke Organism (manusia) menghasilkan Response; salah satu teori komunikasi favorit saya yang saya usulkan dalam skripsi saya yang berjudul “Strategi Komunikasi Pemasaran Online CV. Cahaya Abadi Indonesia” adalah teori S-O-R ini namun ditolak oleh dosen pembimbing. :(

Nah sekarang kita mau sentuh yang mana? Kalau pribadi saya, sebenarnya lebih elegan untuk menyentuh perasaannya Target Audience, karena pertimbangan rasio akan dilupakan, bahkan ada kepuasan di hati TA; yang berbeda setelah melakukan anjuran stimulus dari merek yang melancarkannya. Merasa lega, tanpa beban. Berbeda kalau menyentuh titik hasrat/nafsunya, mungkin efektif untuk mendorong terciptanya transaksi, namun biasanya setelah transaksi ada perasaan ‘aneh’ yang timbul : Perasaan bersalah (aduh duit cicilan mobil bulan ini kepake beli Hp baru....gawaaat!!!), dibodohi (wah padahal gak butuh barang ini nih???). Namun jika menyentuh perasaannya, setelah melakukan transaksi bukan tidak mungkin, si TA akan merasa berjasa. Meski memang harus dilihat terlebih dulu karakteristik merek dan produk yang bersangkutan.

Contoh kasus :
Selama ini ‘what to say’ yang diangkat merek-merek operator selular kebanyakan adalah :
“Termurah (karena tarifnya telp/GPRS/sms, gratisannya banyak) dan Terbaik (jangkauan jaringan terluas, mencakup banyak wilayah, sinnyal kuat)”. Lebih banyak menyentuh titik hasrat/nafsu si TA.

Coba kalo saya ‘pelintir’ agar menyentuh titik perasaannya, ‘what to say’ nya menjadi :
“Dengan menggunakan operator selular C, kamu bisa menghemat biaya pemakaian pulsa kamu, sehingga bisa beramal ke korban bencana alam, anak yang putus sekolah, gelandangan, atau pengemis” Rada nge-blend antara pemasaran sosial dan pemasaran komersil. Bisa dikategorikan Filantrophy Marketing kan tuh. Ada nilai tambah dari komunikasi pemasaran yang dilakukan, sehingga bukan tidak mungkin si TA menilai merek operator selular (opsel) C adalah merek yang berbudi, yang karena budinya itu tidak mungkin bermain-main dengan perkataan soal tarif murah dan kualitas hebat. Lugasnya : Opsel C adalah merek yang kredibel dan berintegritas!

Note : Artikel ini tidak akan ditemukan di mana pun kecuali di blog ini! Setidaknya untuk saat ini. :)

Sumber foto : xcavator.net

Bookmark and Share

1 komentar:

Anonim mengatakan...

mungkin karena penggunaan keywordnya, bos: "Philanthropy"

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Philantrophy Mindset in Branding Strategy???


Setiap orang memiliki rasio, perasaan, dan juga hasrat/nafsu. Yang secara teori selalu berkembang sesuai pertambahan usia; mencapai puncaknya pada usia 45-an, untuk kemudian menurun lagi. Kembali seperti masa kanak-kanak.

Dengan menyentuh salah satu dari ketiga hal tersebut, maka tindakan pun tercipta. Kalau dalam konteks komunikasi pemasaran, Stimulus yang datang ke Organism (manusia) menghasilkan Response; salah satu teori komunikasi favorit saya yang saya usulkan dalam skripsi saya yang berjudul “Strategi Komunikasi Pemasaran Online CV. Cahaya Abadi Indonesia” adalah teori S-O-R ini namun ditolak oleh dosen pembimbing. :(

Nah sekarang kita mau sentuh yang mana? Kalau pribadi saya, sebenarnya lebih elegan untuk menyentuh perasaannya Target Audience, karena pertimbangan rasio akan dilupakan, bahkan ada kepuasan di hati TA; yang berbeda setelah melakukan anjuran stimulus dari merek yang melancarkannya. Merasa lega, tanpa beban. Berbeda kalau menyentuh titik hasrat/nafsunya, mungkin efektif untuk mendorong terciptanya transaksi, namun biasanya setelah transaksi ada perasaan ‘aneh’ yang timbul : Perasaan bersalah (aduh duit cicilan mobil bulan ini kepake beli Hp baru....gawaaat!!!), dibodohi (wah padahal gak butuh barang ini nih???). Namun jika menyentuh perasaannya, setelah melakukan transaksi bukan tidak mungkin, si TA akan merasa berjasa. Meski memang harus dilihat terlebih dulu karakteristik merek dan produk yang bersangkutan.

Contoh kasus :
Selama ini ‘what to say’ yang diangkat merek-merek operator selular kebanyakan adalah :
“Termurah (karena tarifnya telp/GPRS/sms, gratisannya banyak) dan Terbaik (jangkauan jaringan terluas, mencakup banyak wilayah, sinnyal kuat)”. Lebih banyak menyentuh titik hasrat/nafsu si TA.

Coba kalo saya ‘pelintir’ agar menyentuh titik perasaannya, ‘what to say’ nya menjadi :
“Dengan menggunakan operator selular C, kamu bisa menghemat biaya pemakaian pulsa kamu, sehingga bisa beramal ke korban bencana alam, anak yang putus sekolah, gelandangan, atau pengemis” Rada nge-blend antara pemasaran sosial dan pemasaran komersil. Bisa dikategorikan Filantrophy Marketing kan tuh. Ada nilai tambah dari komunikasi pemasaran yang dilakukan, sehingga bukan tidak mungkin si TA menilai merek operator selular (opsel) C adalah merek yang berbudi, yang karena budinya itu tidak mungkin bermain-main dengan perkataan soal tarif murah dan kualitas hebat. Lugasnya : Opsel C adalah merek yang kredibel dan berintegritas!

Note : Artikel ini tidak akan ditemukan di mana pun kecuali di blog ini! Setidaknya untuk saat ini. :)

Sumber foto : xcavator.net

1 komentar:

  1. Anonim mengatakan...

    mungkin karena penggunaan keywordnya, bos: "Philanthropy"

Posting Komentar



 

What they said?