RSS
email

Merek Narsis?


Beberapa waktu lalu saya berkunjung ke sebuah Trade Mall di wilayah Jakarta Timur. Berkeliling dari lantai paling atas sampai lantai satu. Di lantai satu ini, kembali saya menyusuri sudut-sudut lantai itu, sampai saya menuju ke sebuah toko sepatu yang menjual sepatu-sepatu merek nasional kelas menengah ke bawah. Berikut percakapan saya dengan SPB di sana :


SPB : Bagus Pak sepatu itu, kuat, dipakai juga keren. Murah lagi…

Erick : Berapa harganya?

SPB : Harga normalnya sekian ratus ribu, lagi promo jadi sekian puluh ribu…

Erick : Ooo…*sambil berjalan melihat-lihat* Lha kalo ini *sambil menunjuk kea ah sepatunya* kok namanya sama kaya nama tokonya?

SPB : Iya Pak ini sepatu bikinan toko…bagus itu Pak…kuat lagi…murah cuma sekian puluh ribu aja…

Erick : Oooh gitu ya….*Lalu melihat sepatu yang lain*

SPB : Nah yang itu juga bagus Pak…merek nya –tiiittt- murah cuma sekian puluh ribu…kuat lagi..mereknya –tiiitt- sih Pak.

Erick : Ooo… (padahal saya baru kali ini mendengar merek itu) Makasih ya Mas…saya muter-muter dulu.


Saya meninggalkan toko itu, meski sempat ada ketertarikan untuk melakukan transaksi, namun melihat narsisnya merek toko sepatu itu yang diperagakan oleh SPB yang bersangkutan, membuat saya mengurungkan niat. Saat itu pikiran saya begini, “Kalo seseorang terlalu getol melebih-lebihkan dirinya pasti ada sesuatu yang gak beres!”


Dalam kasus ini merek toko sepatu itu sudah bertindak narsis yang diwakili melalui SPB nya. Tidak ada yang salah sih dengan narsis, namun mungkin harus melihat karakteristik TA (Target Audience yang bersangkutan). Daripada narsis lebih baik ngelawak kan? TA menjadi tertawa dan tanpa sadar sudah tercipta chemistry yang baik.


Pelajaran yang saya ambil sih gini :


Kalo ketemu klien yang narsis, jangan terima mentah-mentah briefnya. Turba dulu ke TA untuk paham bagaimana persepsi tentang brand klien di mata mereka. Supaya bisa memberikan hasil yang terbaik untuk klien. Usahakan sih sedetail dan objektif mungkin. Sekalian melakukan edukasi brand ke TA juga.


Sumber foto : xcavator.net


Bookmark and Share

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Merek Narsis?


Beberapa waktu lalu saya berkunjung ke sebuah Trade Mall di wilayah Jakarta Timur. Berkeliling dari lantai paling atas sampai lantai satu. Di lantai satu ini, kembali saya menyusuri sudut-sudut lantai itu, sampai saya menuju ke sebuah toko sepatu yang menjual sepatu-sepatu merek nasional kelas menengah ke bawah. Berikut percakapan saya dengan SPB di sana :


SPB : Bagus Pak sepatu itu, kuat, dipakai juga keren. Murah lagi…

Erick : Berapa harganya?

SPB : Harga normalnya sekian ratus ribu, lagi promo jadi sekian puluh ribu…

Erick : Ooo…*sambil berjalan melihat-lihat* Lha kalo ini *sambil menunjuk kea ah sepatunya* kok namanya sama kaya nama tokonya?

SPB : Iya Pak ini sepatu bikinan toko…bagus itu Pak…kuat lagi…murah cuma sekian puluh ribu aja…

Erick : Oooh gitu ya….*Lalu melihat sepatu yang lain*

SPB : Nah yang itu juga bagus Pak…merek nya –tiiittt- murah cuma sekian puluh ribu…kuat lagi..mereknya –tiiitt- sih Pak.

Erick : Ooo… (padahal saya baru kali ini mendengar merek itu) Makasih ya Mas…saya muter-muter dulu.


Saya meninggalkan toko itu, meski sempat ada ketertarikan untuk melakukan transaksi, namun melihat narsisnya merek toko sepatu itu yang diperagakan oleh SPB yang bersangkutan, membuat saya mengurungkan niat. Saat itu pikiran saya begini, “Kalo seseorang terlalu getol melebih-lebihkan dirinya pasti ada sesuatu yang gak beres!”


Dalam kasus ini merek toko sepatu itu sudah bertindak narsis yang diwakili melalui SPB nya. Tidak ada yang salah sih dengan narsis, namun mungkin harus melihat karakteristik TA (Target Audience yang bersangkutan). Daripada narsis lebih baik ngelawak kan? TA menjadi tertawa dan tanpa sadar sudah tercipta chemistry yang baik.


Pelajaran yang saya ambil sih gini :


Kalo ketemu klien yang narsis, jangan terima mentah-mentah briefnya. Turba dulu ke TA untuk paham bagaimana persepsi tentang brand klien di mata mereka. Supaya bisa memberikan hasil yang terbaik untuk klien. Usahakan sih sedetail dan objektif mungkin. Sekalian melakukan edukasi brand ke TA juga.


Sumber foto : xcavator.net



 

What they said?