RSS
email
0

Social (moral) campaign


Bail out Century yang dicurigai terdapat unsur korupsi, penggelapan pajak, makelar kasus adalah kata-kata yang banyak bersliweran di koran terakhir-terakhir ini. Pusing juga karena setiap hari urat-urat di otak dibetot untuk membaca dan merasakan keprihatinan akan keadaan bangsa ini.

Sebenarnya menurut saya, kunci untuk tiadanya korupsi, penggelapan pajak, ataupun makelar kasus adalah setiap manusia kembali kepada TUHAN. Mungkin akan timbul pertanyaan, "Memang saat ini manusia belum kembali pada TUHAN? Belum!" Buktinya berita tentang kejahatan ini masih banyak. Manusia memang melakukan ritual ibadah keagamaannya, namun sepertinya itu hanya sekedar formalitas belaka. Khotbah yang disampaikan pengkhotbah hanya masuk kuping kiri untuk kemudian mental keluar lagi. Ritual keagamaan yang dilakukan menjadi kewajiban (yang mungkin membebani?) saja. Maka tidak heran, kegiatan beragama jalan terus, korupsi juga ogah berhenti.

Lalu ini perbaikan ini tanggung jawab siapa? Pemuka agama? Tanggung jawab kita semua dong! Secara individu, itu adalah tanggung jawab manusia masing-masing. Menjadi tanggung jawab saya, Anda dalam mempergunakan kehendak bebas (free will) -yang dianugerahkan TUHAN kepada kita- untuk memilih melakukan kehendak TUHAN : Menolak kejahatan, melakukan kebaikan.

Namun secara skills, sebagai manusia yang diberikan berkat dari TUHAN untuk mempelajari lingkup komunikasi pemasaran, seperti ada beban kepada saya untuk mengkomunikasi pemasaran-kan nilai-nilai ini kepada sesama manusia melalui saluran massal yang efisien dan efektif. Yup! Sebuah campaign untuk membujuk, mempersuasi, mempengaruhi manusia untuk kembali kepada TUHAN. Melakukan perintah-NYA, menjauhi larangan-NYA. Itulah produk yang akan saya komunikasikan kepada sesama manusia. Semoga banyak yang tertarik dan 'membelinya'. Setidaknya saya mau hidup saya bermakna bagi TUHAN melalui pembelajaran saya selama ini.

Sebagai langkah pertama, saya komunikasikan hal ini kepada Anda. Syukur-syukur ada praktisi Marketing Communications yang juga tertarik untuk membuat
campaign-campaign sejenis.

Read more
0

Tahu Campur khas Surabaya


Saat ini saya lagi nunggu warung Tahu Campur Surabaya buka, saat saya datang sekitar 20 menit dari waktu buka.


Warung ini sederhana, terbuat dari bilik kayu di samping jejeran gedung-gedung pertemuan dan showroom mobil-mobil mewah yang berada di boulevard Kelapa Gading. Setiap main ke Kelapa Gading pasti saya mampir ke sini. Memang makanan yang disajikan enak sih. Harganya pun terjangkau, Tahu Campur dan Tahu Tek2 9 ribu. Meski demikian yang ke sini ini biasanya bermobil lho. Dan sepertinya warung ini gak menyasar pekerja-pekerja di lokasi ini, waktu bukanya aja sekitar jam setengah 5 sore sampai jam 10an malam, tergantung stok persediaan hidangan.


Saya membayangkan kalau warung ini berpindah lokasi dan 'packaging' di mall atau trade center, atau di sebuah ruko. Apakah akan tetap saya kunjungi? Kok kayanya males ya...meski pun yang menjual tetap orang yang sama. Mengapa? Saat pertanyaan ini muncul jawaban yang hadir di otak saya sih sebagai berikut :


1. Orisinalitas

Kalo pindah ke mall atau ruko serta berganti packaging, sepertinya kok gak orisinal ya. Karena pas mau makan tahu campur ini bukan sekedar menghilangkan lapar namun juga merasakan hidangan khas Surabaya. Jadi kalo ganti packaging kok jadi seperti kehilangan keasliannya. Dan bisa jadi karena ganti packaging ini, sentuhan yang humanis dari si penjual juga akan berkurang kepada si pembeli.


2. Persepsi

Meski mungkin ada juga pelanggan yang berpikir. "Ah kan bentuk luarnya doang yang beda, rasa hidangannya kan sama aja." Tapi tetap aja ada pelanggan yang merasa kehilangan suasana kaki lima dari sebuah warung Tahu Campur khas Surabaya, sensasinya beda. Memang persepsi sebagian besar masyarakat adalah hidangan Tahu Campur khas Surabaya adalah di kaki lima dan bukan di mall atau ruko.


Saat ini sih itu yang kepikir. Sekedar menuangkan pikiran. Eh iya, ternyata saya sudah menjadi PR bagi si warung ya.... :D


Salam,

Erick Sowong


Sumber foto : Warung Tahu Campur khas Surabaya daerah boulevard Kelapa Gading.

Read more
0

Ngobrol Soal Copywriting dan Kebaikan Yuk!


Sebuah contoh kekuatan copywriting secara harfiah dicampur dengan moral kebaikan di dalam sebuah artikel.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Seorang anak laki2 tunanetra duduk di tangga sebuah bangunan dengan sebuah topi terletak di dekat kakinya. Ia mengangkat sebuah papan yang bertuliskan: 'Saya buta, tolong saya.' Hanya ada beberapa keping uang di dalam topi itu.

Seorang pria berjalan melewati tempat anak ini. Ia mengambil beberapa keping uang dari sakunya dan menjatuhkannya ke dalam topi itu. Lalu ia mengambil papan, membaliknya dan menulis beberapa kata. Pria ini menaruh papan itu kembali sehingga orang yang lalu lalang dapat melihat apa yang ia baru tulis. Segera sesudahnya, topi itu pun terisi penuh. Semakin banyak orang memberi uang ke anak tuna netra ini. Sore itu pria yang telah mengubah kata-kata di papan tersebut datang untuk melihat perkembangan yang terjadi. Anak ini mengenali langkah kakinya dan bertanya, 'Apakah bapak yang telah mengubah tulisan di papanku tadi pagi? Apa yang bapak tulis?'

Pria itu berkata, 'Saya hanya menuliskan sebuah kebenaran. Saya menyampaikan apa yang kamu telah tulis dengan cara yang berbeda.' Apa yang ia telah tulis adalah: 'Hari ini adalah hari yang indah dan saya tidak bisa melihatnya.'
Bukankah tulisan yang pertama dengan yang kedua sebenarnya sama saja?

Tentu arti kedua tulisan itu sama, yaitu bahwa anak itu buta. Tetapi, tulisan yang pertama hanya mengatakan bahwa anak itu buta. Sedangkan, tulisan yang kedua mengatakan kepada orang-orang bahwa mereka sangatlah beruntung bahwa mereka dapat melihat. Apakah kita perlu terkejut melihat tulisan yang kedua lebih efektif?

Moral dari cerita ini:
Bersyukurlah untuk segala yang kau miliki. Jadilah kreatif. Jadilah innovatif. Berpikirlah dari sudut pandang yang berbeda dan positif.
Ajaklah orang-orang lain menuju hal-hal yang baik dengan hikmat. Jalani hidup ini tanpa dalih dan mengasihi tanpa rasa sesal. Ketika hidup memberi engkau 100 alasan untuk menangis, tunjukkan pada hidup bahwa engkau memiliki 1000 alasan untuk tersenyum.
Hadapi masa lalumu tanpa sesal.
Tangani saat sekarang dengan percaya diri.
Bersiaplah untuk masa depan tanpa rasa takut.
Peganglah iman dan tanggalkan ketakutan.

Orang bijak berkata, 'Hidup harus menjadi sebuah proses perbaikan yang terus berlanjut, membuang kejahatan dan mengembangkan kebaikan... Jika engkau ingin menjalani hidup tanpa rasa takut, engkau harus memiliki hati nurani yang baik sebagai tiketnya.

Hal yang terindah adalah melihat seseorang tersenyum..
Tapi yang terlebih indah adalah mengetahui bahwa engkau adalah alasan di belakangnya! !!

Sumber foto : xcavator.net
Read more
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Social (moral) campaign


Bail out Century yang dicurigai terdapat unsur korupsi, penggelapan pajak, makelar kasus adalah kata-kata yang banyak bersliweran di koran terakhir-terakhir ini. Pusing juga karena setiap hari urat-urat di otak dibetot untuk membaca dan merasakan keprihatinan akan keadaan bangsa ini.

Sebenarnya menurut saya, kunci untuk tiadanya korupsi, penggelapan pajak, ataupun makelar kasus adalah setiap manusia kembali kepada TUHAN. Mungkin akan timbul pertanyaan, "Memang saat ini manusia belum kembali pada TUHAN? Belum!" Buktinya berita tentang kejahatan ini masih banyak. Manusia memang melakukan ritual ibadah keagamaannya, namun sepertinya itu hanya sekedar formalitas belaka. Khotbah yang disampaikan pengkhotbah hanya masuk kuping kiri untuk kemudian mental keluar lagi. Ritual keagamaan yang dilakukan menjadi kewajiban (yang mungkin membebani?) saja. Maka tidak heran, kegiatan beragama jalan terus, korupsi juga ogah berhenti.

Lalu ini perbaikan ini tanggung jawab siapa? Pemuka agama? Tanggung jawab kita semua dong! Secara individu, itu adalah tanggung jawab manusia masing-masing. Menjadi tanggung jawab saya, Anda dalam mempergunakan kehendak bebas (free will) -yang dianugerahkan TUHAN kepada kita- untuk memilih melakukan kehendak TUHAN : Menolak kejahatan, melakukan kebaikan.

Namun secara skills, sebagai manusia yang diberikan berkat dari TUHAN untuk mempelajari lingkup komunikasi pemasaran, seperti ada beban kepada saya untuk mengkomunikasi pemasaran-kan nilai-nilai ini kepada sesama manusia melalui saluran massal yang efisien dan efektif. Yup! Sebuah campaign untuk membujuk, mempersuasi, mempengaruhi manusia untuk kembali kepada TUHAN. Melakukan perintah-NYA, menjauhi larangan-NYA. Itulah produk yang akan saya komunikasikan kepada sesama manusia. Semoga banyak yang tertarik dan 'membelinya'. Setidaknya saya mau hidup saya bermakna bagi TUHAN melalui pembelajaran saya selama ini.

Sebagai langkah pertama, saya komunikasikan hal ini kepada Anda. Syukur-syukur ada praktisi Marketing Communications yang juga tertarik untuk membuat
campaign-campaign sejenis.

Read More......

Tahu Campur khas Surabaya


Saat ini saya lagi nunggu warung Tahu Campur Surabaya buka, saat saya datang sekitar 20 menit dari waktu buka.


Warung ini sederhana, terbuat dari bilik kayu di samping jejeran gedung-gedung pertemuan dan showroom mobil-mobil mewah yang berada di boulevard Kelapa Gading. Setiap main ke Kelapa Gading pasti saya mampir ke sini. Memang makanan yang disajikan enak sih. Harganya pun terjangkau, Tahu Campur dan Tahu Tek2 9 ribu. Meski demikian yang ke sini ini biasanya bermobil lho. Dan sepertinya warung ini gak menyasar pekerja-pekerja di lokasi ini, waktu bukanya aja sekitar jam setengah 5 sore sampai jam 10an malam, tergantung stok persediaan hidangan.


Saya membayangkan kalau warung ini berpindah lokasi dan 'packaging' di mall atau trade center, atau di sebuah ruko. Apakah akan tetap saya kunjungi? Kok kayanya males ya...meski pun yang menjual tetap orang yang sama. Mengapa? Saat pertanyaan ini muncul jawaban yang hadir di otak saya sih sebagai berikut :


1. Orisinalitas

Kalo pindah ke mall atau ruko serta berganti packaging, sepertinya kok gak orisinal ya. Karena pas mau makan tahu campur ini bukan sekedar menghilangkan lapar namun juga merasakan hidangan khas Surabaya. Jadi kalo ganti packaging kok jadi seperti kehilangan keasliannya. Dan bisa jadi karena ganti packaging ini, sentuhan yang humanis dari si penjual juga akan berkurang kepada si pembeli.


2. Persepsi

Meski mungkin ada juga pelanggan yang berpikir. "Ah kan bentuk luarnya doang yang beda, rasa hidangannya kan sama aja." Tapi tetap aja ada pelanggan yang merasa kehilangan suasana kaki lima dari sebuah warung Tahu Campur khas Surabaya, sensasinya beda. Memang persepsi sebagian besar masyarakat adalah hidangan Tahu Campur khas Surabaya adalah di kaki lima dan bukan di mall atau ruko.


Saat ini sih itu yang kepikir. Sekedar menuangkan pikiran. Eh iya, ternyata saya sudah menjadi PR bagi si warung ya.... :D


Salam,

Erick Sowong


Sumber foto : Warung Tahu Campur khas Surabaya daerah boulevard Kelapa Gading.

Read More......

Ngobrol Soal Copywriting dan Kebaikan Yuk!


Sebuah contoh kekuatan copywriting secara harfiah dicampur dengan moral kebaikan di dalam sebuah artikel.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Seorang anak laki2 tunanetra duduk di tangga sebuah bangunan dengan sebuah topi terletak di dekat kakinya. Ia mengangkat sebuah papan yang bertuliskan: 'Saya buta, tolong saya.' Hanya ada beberapa keping uang di dalam topi itu.

Seorang pria berjalan melewati tempat anak ini. Ia mengambil beberapa keping uang dari sakunya dan menjatuhkannya ke dalam topi itu. Lalu ia mengambil papan, membaliknya dan menulis beberapa kata. Pria ini menaruh papan itu kembali sehingga orang yang lalu lalang dapat melihat apa yang ia baru tulis. Segera sesudahnya, topi itu pun terisi penuh. Semakin banyak orang memberi uang ke anak tuna netra ini. Sore itu pria yang telah mengubah kata-kata di papan tersebut datang untuk melihat perkembangan yang terjadi. Anak ini mengenali langkah kakinya dan bertanya, 'Apakah bapak yang telah mengubah tulisan di papanku tadi pagi? Apa yang bapak tulis?'

Pria itu berkata, 'Saya hanya menuliskan sebuah kebenaran. Saya menyampaikan apa yang kamu telah tulis dengan cara yang berbeda.' Apa yang ia telah tulis adalah: 'Hari ini adalah hari yang indah dan saya tidak bisa melihatnya.'
Bukankah tulisan yang pertama dengan yang kedua sebenarnya sama saja?

Tentu arti kedua tulisan itu sama, yaitu bahwa anak itu buta. Tetapi, tulisan yang pertama hanya mengatakan bahwa anak itu buta. Sedangkan, tulisan yang kedua mengatakan kepada orang-orang bahwa mereka sangatlah beruntung bahwa mereka dapat melihat. Apakah kita perlu terkejut melihat tulisan yang kedua lebih efektif?

Moral dari cerita ini:
Bersyukurlah untuk segala yang kau miliki. Jadilah kreatif. Jadilah innovatif. Berpikirlah dari sudut pandang yang berbeda dan positif.
Ajaklah orang-orang lain menuju hal-hal yang baik dengan hikmat. Jalani hidup ini tanpa dalih dan mengasihi tanpa rasa sesal. Ketika hidup memberi engkau 100 alasan untuk menangis, tunjukkan pada hidup bahwa engkau memiliki 1000 alasan untuk tersenyum.
Hadapi masa lalumu tanpa sesal.
Tangani saat sekarang dengan percaya diri.
Bersiaplah untuk masa depan tanpa rasa takut.
Peganglah iman dan tanggalkan ketakutan.

Orang bijak berkata, 'Hidup harus menjadi sebuah proses perbaikan yang terus berlanjut, membuang kejahatan dan mengembangkan kebaikan... Jika engkau ingin menjalani hidup tanpa rasa takut, engkau harus memiliki hati nurani yang baik sebagai tiketnya.

Hal yang terindah adalah melihat seseorang tersenyum..
Tapi yang terlebih indah adalah mengetahui bahwa engkau adalah alasan di belakangnya! !!

Sumber foto : xcavator.net
Read More......
 

What they said?