RSS
email

Manusia Dan Hewan


Tahu arti kata hewan? Pernah memperhatikan hewan? Mungkin kucing atau anjing. Kedua hewan ini buang hajat sembarangan, kencing sembarangan, reproduksi di sembarang tempat dan sembarangan lawan jenis. Hewan ini melakukan hal-hal demikian karena menuruti hasrat dagingnya. Kalo lapar ya makan, kalo kebelet buang hajat segera dilakukan.

Mengapa? Karena hewan tidak mempunyai akal budi seperti manusia. Dengan akal budi yang diberikan TUHAN, seharusnya manusia dapat menundukkan hasrat dagingnya dengan berpikir jernih menggunakan akal budi. Berbeda dengan hewan, karena tidak memiliki akal budi, hewan segera meresponi stimulus hasrat dirinya dengan tindakan; tanpa menundanya atau menahan diri. Karena hewan tidak memiliki akal budi.

Sebenarnya jika kita dalam melakukan suatu tindakan karena bersumber dari stimulus hasrat daging, kita tidak berbeda dengan hewan. Parahnya banyak manusia yang hidupnya setiap hari memuaskan hasrat dagingnya yang tiada habisnya ini tidak sadar dengan keadaan dirinya. Mungkin karena dibalut dengan sederet gelar kehormatan atau bertumpuk-tumpuk deposito dan surat-surat berharga. Atau mungkin juga karena terlalu putus asa akan pemenuhan 3 hal pokok jasmani (sandang, papan, pangan), yang kerap kali sukar didapat, sehingga menjadi pembenaran untuk melakukan apa pun demi hal ini. Nah situasi menghamba pada keinginan daging dan hasrat diri ini jika tidak disadari, maka akan menuju kondisi matinya akal budi.

Jadi, dengan modal yang diberikan TUHAN ini, seharusnya kita menjadi bijaksana dalam menjalani hidup. Masalahnya adalah bagaimana mendayagunakan akal budi ini semaksimal mungkin. Satu-satunya cara agar akal budi kita bekerja maksimal adalah dengan memburu pengenalan dan pemahaman yang benar akan TUHAN, Sang Sumber Kebijaksanaan. Itu hal pertama yang harus menjadi keinginan kita.

Sumber gambar: http://nowpublic.net

Bookmark and Share

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Manusia Dan Hewan


Tahu arti kata hewan? Pernah memperhatikan hewan? Mungkin kucing atau anjing. Kedua hewan ini buang hajat sembarangan, kencing sembarangan, reproduksi di sembarang tempat dan sembarangan lawan jenis. Hewan ini melakukan hal-hal demikian karena menuruti hasrat dagingnya. Kalo lapar ya makan, kalo kebelet buang hajat segera dilakukan.

Mengapa? Karena hewan tidak mempunyai akal budi seperti manusia. Dengan akal budi yang diberikan TUHAN, seharusnya manusia dapat menundukkan hasrat dagingnya dengan berpikir jernih menggunakan akal budi. Berbeda dengan hewan, karena tidak memiliki akal budi, hewan segera meresponi stimulus hasrat dirinya dengan tindakan; tanpa menundanya atau menahan diri. Karena hewan tidak memiliki akal budi.

Sebenarnya jika kita dalam melakukan suatu tindakan karena bersumber dari stimulus hasrat daging, kita tidak berbeda dengan hewan. Parahnya banyak manusia yang hidupnya setiap hari memuaskan hasrat dagingnya yang tiada habisnya ini tidak sadar dengan keadaan dirinya. Mungkin karena dibalut dengan sederet gelar kehormatan atau bertumpuk-tumpuk deposito dan surat-surat berharga. Atau mungkin juga karena terlalu putus asa akan pemenuhan 3 hal pokok jasmani (sandang, papan, pangan), yang kerap kali sukar didapat, sehingga menjadi pembenaran untuk melakukan apa pun demi hal ini. Nah situasi menghamba pada keinginan daging dan hasrat diri ini jika tidak disadari, maka akan menuju kondisi matinya akal budi.

Jadi, dengan modal yang diberikan TUHAN ini, seharusnya kita menjadi bijaksana dalam menjalani hidup. Masalahnya adalah bagaimana mendayagunakan akal budi ini semaksimal mungkin. Satu-satunya cara agar akal budi kita bekerja maksimal adalah dengan memburu pengenalan dan pemahaman yang benar akan TUHAN, Sang Sumber Kebijaksanaan. Itu hal pertama yang harus menjadi keinginan kita.

Sumber gambar: http://nowpublic.net



 

What they said?