RSS
email

Be Open, Be Smart

Seorang teman curhat ke gue. Biasa curhat karyawan yah pasti soal bos dan manajemen yang selalu dianggap ngeselin. Yuk diliat, enjoyyyy...

Awal masuk di kantor baru, sangat tertakjub-takjub akan sistem marketing yang ada. Mengapa? Sangaaat old school!

Maka mulailah gue sebagai orang baru yang memang peduli akan kemajuan perusahaan (ciyeeeeh...) mengusulkan ide-ide segar based on my experience. Berikut percakapan yang coba saya gambarkan:

Gue (G): Bos, sekarang udah eranya online lohh....kita bikin online business yuk....saya dulu pernah bikin di perusahaan-perusahaan terdahulu.. (mulailah gue menjelaskan detail teknis konsep itu).
Bos (B): Ahh..ribet banget sih Pak...bagi saya mah yang penting jualan...omset..omset...kalo online kita punya akun Twitter kok. Dan ada juga website. Udahlah mikirin aja gimana sales kita naik.
G: Nah itu bos...supaya sales naik saran saya begitu. Kita banyakin cara kita menjangkau konsumen. Kita permudah konsumen mendapatkan produk kita. Dan fenomena online+socmednya ini sangat memungkinkan kita berdayakan to the max.
B: Tetep bagi saya ribet Pak. Belum pajaknya, dsb.

Ok. Ide gue ditolak. Gak papa sik. Cuma yang bikin gondok, selang setahun kemudian usul gue itu diambil. Mengapa? HQ minta kita untuk masuk ke online karena trend dunia mengarah ke sana. HQ sudah memberikan kuliah panjang lebar ke manajemen di Indonesia soal itu. Dan lucunya...manajemen di sini menganggap itu adalah pencerahan (ke mana ajeeehhhh???).

Nah demikian curhatan temen gue. Kasus di atas sering kita alamin sik, atau justru kita yang jadi antagonisnya. Untungnya tidak di tim gue. Mantan anggota tim gue tau banget bahwa gue selalu menciptakan suasana tanpa jarak di hubungan komunikasi. "Loe gue" akan sering didengar di ruangan kerja.

Mengapa? Karena gue begok. Karena bego makanya butuh banget yang namanya saran dari anak buah gue. Bisa aja ide gue kurang tepat untuk dilaksanakan, dan gue tidak akan pernah tau jika anak buah gue tidak bilanf kan? Cuma gimana anak buah mau ngasih saran kalo gue bersikap kaya Sumanto belom makan seminggu??

Alasan lainnya, gue percaya banget bahwa melakukan sesuatu karena terpaksa, karena takut dipecat, bahkan karena kewajiban sekalipun, akan kalah ampuh hasilnya jika kita melakukan karena memang kita ingin melakukannya. Jadi dengan manajemen terbuka (bukan manajemen telenji yakk..), dan hubungan persahabatan antara gue sama anak buah, lebih mudah gue meyakinkan mereka pentingnya suatu tugas dilaksanakan dengan baik. Dan thanks God mereka mau melakukannya dengan tersenyum.

Jadi mau jadi pinter? Yuk terbuka.


Bookmark and Share

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Be Open, Be Smart

Seorang teman curhat ke gue. Biasa curhat karyawan yah pasti soal bos dan manajemen yang selalu dianggap ngeselin. Yuk diliat, enjoyyyy...

Awal masuk di kantor baru, sangat tertakjub-takjub akan sistem marketing yang ada. Mengapa? Sangaaat old school!

Maka mulailah gue sebagai orang baru yang memang peduli akan kemajuan perusahaan (ciyeeeeh...) mengusulkan ide-ide segar based on my experience. Berikut percakapan yang coba saya gambarkan:

Gue (G): Bos, sekarang udah eranya online lohh....kita bikin online business yuk....saya dulu pernah bikin di perusahaan-perusahaan terdahulu.. (mulailah gue menjelaskan detail teknis konsep itu).
Bos (B): Ahh..ribet banget sih Pak...bagi saya mah yang penting jualan...omset..omset...kalo online kita punya akun Twitter kok. Dan ada juga website. Udahlah mikirin aja gimana sales kita naik.
G: Nah itu bos...supaya sales naik saran saya begitu. Kita banyakin cara kita menjangkau konsumen. Kita permudah konsumen mendapatkan produk kita. Dan fenomena online+socmednya ini sangat memungkinkan kita berdayakan to the max.
B: Tetep bagi saya ribet Pak. Belum pajaknya, dsb.

Ok. Ide gue ditolak. Gak papa sik. Cuma yang bikin gondok, selang setahun kemudian usul gue itu diambil. Mengapa? HQ minta kita untuk masuk ke online karena trend dunia mengarah ke sana. HQ sudah memberikan kuliah panjang lebar ke manajemen di Indonesia soal itu. Dan lucunya...manajemen di sini menganggap itu adalah pencerahan (ke mana ajeeehhhh???).

Nah demikian curhatan temen gue. Kasus di atas sering kita alamin sik, atau justru kita yang jadi antagonisnya. Untungnya tidak di tim gue. Mantan anggota tim gue tau banget bahwa gue selalu menciptakan suasana tanpa jarak di hubungan komunikasi. "Loe gue" akan sering didengar di ruangan kerja.

Mengapa? Karena gue begok. Karena bego makanya butuh banget yang namanya saran dari anak buah gue. Bisa aja ide gue kurang tepat untuk dilaksanakan, dan gue tidak akan pernah tau jika anak buah gue tidak bilanf kan? Cuma gimana anak buah mau ngasih saran kalo gue bersikap kaya Sumanto belom makan seminggu??

Alasan lainnya, gue percaya banget bahwa melakukan sesuatu karena terpaksa, karena takut dipecat, bahkan karena kewajiban sekalipun, akan kalah ampuh hasilnya jika kita melakukan karena memang kita ingin melakukannya. Jadi dengan manajemen terbuka (bukan manajemen telenji yakk..), dan hubungan persahabatan antara gue sama anak buah, lebih mudah gue meyakinkan mereka pentingnya suatu tugas dilaksanakan dengan baik. Dan thanks God mereka mau melakukannya dengan tersenyum.

Jadi mau jadi pinter? Yuk terbuka.



 

What they said?