RSS
email

Tentang (buku) MarComm


Hari ini (4 April 2013) gw ada janji meeting demi masa depan bangsa dan negara (tsaaaahhh...gayaa gw), karena dari lokasi gw ke tempat meeting lebih dekat dibanding partner meeting, walhasil gw kecepetan nyampenya, masih sempet mampir ke pusat perbelanjaan untuk sekedar cuci mata. Tengok kanan kiri di dalam mal itu, hmmmm ada toko buku Gramedia ternyata...yasudss dengan penuh keyakinan gw melangkah masuk ke sana.

Di sana gw menemukan 2 buku tentang MarComm, bedanya yang satu disusun oleh praktisi MarComm (Advertising based), satunya lagi oleh akademisi (pengajar). Sempet tergiur juga untuk membawa kedua buku itu ke meja kasir, namun setelah ditimbang-timbang akhirnya hanya buku MarComm karangan praktisi yang gw bawa ke meja kasir untuk ‘dieksekusi’ (maksudnya isi dompet gw yang dieksekusi :D) bersama buku tentang marketing plan dan majalah bertema marketing edisi terbaru.
Sumber: http://sparksheet.com/open-book-branding-truth-transparency-and-trust-in-marketing/

Mengapa gw memilih buku MarComm karangan praktisi? Beginiloh pemirsah, meski bertema sama, ternyata sudut pandang MarComm versi praktisi dan akademisi itu beda. MarComm versi akademisi sangat text book sarat dengan teori (yang ada di buku tentunya) sehingga menghasilkan buku MarComm karangan akademisi yang satu dengan yang lainnya kurang lebih sama. Sementara buku-buku MarComm karangan praktisi itu biasanya berasal dari pengalaman penulis saat “running the MarComm”, hal ini menghasilkan buku MarComm antara penulis yang satu dengan yang lainnya memiliki jalannya sendiri dan teknik-teknik MarComm sendiri. Yah namanya juga based on experience yakk. Salah satu contohnya; MarComm versi akademisi adalah promosi dengan pendekatan ke promotion mix, sementara MarComm versi praktisi adalah dialog jujur 2 pihak yang sederajat. See..beda kan? Perbedaan mindset ini jika di lapangan operasional akan menghasilkan 2 versi MarComm, yang pertama MarComm as supporting unit (karena dianggap sama dengan promosi), yang kedua MarComm as main unit (karena bertugas melakukan brand building, merupakan investment unit yang in the end adalah kenaikan nilai saham, market share yang tinggi, dan sebagainya)

Thats why...(sok ngenggresss!) penting banget jika kita membaca banyak buku MarComm karangan praktisi. Wawasan kita semakin diperkaya dan semakin berwarna. Banyak ilmu pasti (karena sudah teruji di lapangan) yang bisa diserap dari mereka. Gw bicara begini bukan berarti buku karangan akademisi haram untuk dibaca, pemikiran para akademisi penting juga untuk kita pahami sebagai landasan berpikir –apalagi jika kita adalah newbie di rimba MarComm-. Cuma IMO, cukup beli satu atau dua buku MarComm karangan akademisi yang paling tebel dan lengkap, karena selebihnya buku MarComm karangan akademisi yang lain +/- sama kok dengan yang kita beli. Kecuaaalii loe adalah mahasiswa yang mendalami MarComm dan beberapa dosen loe adalah juga penulis-penulis buku MarComm, wajib mesti deh loe beli buku-buku mereka.

Itu pendapat gw sebagai pembaca ya. Dan bagaimana jika gw ada di posisi akademisi yang akan menulis buku MarComm? Pastinya gw harus memastikan buku gw bakalan laris diburu orang, tentu dong. Langkahnya?

1. Ada berapa banyak sih buku MarComm di pasaran? Banyak pasti. Namun yang terbit sekitar 3 tahun terakhir ada berapa? Dan berapa judul yang ditulis akademisi serta berapa judul yang ditulis praktisi. Dari sini bisa gw identifikasi berapa judul buku MarComm yang jadi kompetitor langsung gw (karangan akademisi).

2. Pelajari barang dagangan kompetitor gw (isi buku MarComm karangan akademisi lainnya), what to say dan how to say-nya. Seperti gw bilang diatas, umumnya mirip-mirip sik.

3. Ciptakan buku MarComm yang memiliki diferensiasi berbeda dari kompetitor, jika umumnya buku MarComm karangan akademisi membahas: Apa itu MarComm, Promotion Mix, dan contoh-contohnya; maka ciptakan buku MarComm yang juga membahas post-campaign research atau ROI MarComm misalnya. Ciptakan buku MarComm yang berbeda, beda bisa dari isi bahasan (seperti berbedanya sudut pandang akademisi dan praktisi) maupun jumlah bahasan (jika akademisi lain hanya membahas A-M, maka ciptakan yang membahas A-Z), intinya Value Added itu penting mas coy broh!

Buku MarComm penting banget, karena sedikit banyaknya itu yang akan mempengaruhi warna MarComm Indonesia (hahaha...lebaaay). Jadi selektif itu penting, seperti jadi manusia seksi juga genting buat gw yang gendut ini. Halaaah ngaccooo...

Selamat malam Indonesia!

Bookmark and Share

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tentang (buku) MarComm


Hari ini (4 April 2013) gw ada janji meeting demi masa depan bangsa dan negara (tsaaaahhh...gayaa gw), karena dari lokasi gw ke tempat meeting lebih dekat dibanding partner meeting, walhasil gw kecepetan nyampenya, masih sempet mampir ke pusat perbelanjaan untuk sekedar cuci mata. Tengok kanan kiri di dalam mal itu, hmmmm ada toko buku Gramedia ternyata...yasudss dengan penuh keyakinan gw melangkah masuk ke sana.

Di sana gw menemukan 2 buku tentang MarComm, bedanya yang satu disusun oleh praktisi MarComm (Advertising based), satunya lagi oleh akademisi (pengajar). Sempet tergiur juga untuk membawa kedua buku itu ke meja kasir, namun setelah ditimbang-timbang akhirnya hanya buku MarComm karangan praktisi yang gw bawa ke meja kasir untuk ‘dieksekusi’ (maksudnya isi dompet gw yang dieksekusi :D) bersama buku tentang marketing plan dan majalah bertema marketing edisi terbaru.
Sumber: http://sparksheet.com/open-book-branding-truth-transparency-and-trust-in-marketing/

Mengapa gw memilih buku MarComm karangan praktisi? Beginiloh pemirsah, meski bertema sama, ternyata sudut pandang MarComm versi praktisi dan akademisi itu beda. MarComm versi akademisi sangat text book sarat dengan teori (yang ada di buku tentunya) sehingga menghasilkan buku MarComm karangan akademisi yang satu dengan yang lainnya kurang lebih sama. Sementara buku-buku MarComm karangan praktisi itu biasanya berasal dari pengalaman penulis saat “running the MarComm”, hal ini menghasilkan buku MarComm antara penulis yang satu dengan yang lainnya memiliki jalannya sendiri dan teknik-teknik MarComm sendiri. Yah namanya juga based on experience yakk. Salah satu contohnya; MarComm versi akademisi adalah promosi dengan pendekatan ke promotion mix, sementara MarComm versi praktisi adalah dialog jujur 2 pihak yang sederajat. See..beda kan? Perbedaan mindset ini jika di lapangan operasional akan menghasilkan 2 versi MarComm, yang pertama MarComm as supporting unit (karena dianggap sama dengan promosi), yang kedua MarComm as main unit (karena bertugas melakukan brand building, merupakan investment unit yang in the end adalah kenaikan nilai saham, market share yang tinggi, dan sebagainya)

Thats why...(sok ngenggresss!) penting banget jika kita membaca banyak buku MarComm karangan praktisi. Wawasan kita semakin diperkaya dan semakin berwarna. Banyak ilmu pasti (karena sudah teruji di lapangan) yang bisa diserap dari mereka. Gw bicara begini bukan berarti buku karangan akademisi haram untuk dibaca, pemikiran para akademisi penting juga untuk kita pahami sebagai landasan berpikir –apalagi jika kita adalah newbie di rimba MarComm-. Cuma IMO, cukup beli satu atau dua buku MarComm karangan akademisi yang paling tebel dan lengkap, karena selebihnya buku MarComm karangan akademisi yang lain +/- sama kok dengan yang kita beli. Kecuaaalii loe adalah mahasiswa yang mendalami MarComm dan beberapa dosen loe adalah juga penulis-penulis buku MarComm, wajib mesti deh loe beli buku-buku mereka.

Itu pendapat gw sebagai pembaca ya. Dan bagaimana jika gw ada di posisi akademisi yang akan menulis buku MarComm? Pastinya gw harus memastikan buku gw bakalan laris diburu orang, tentu dong. Langkahnya?

1. Ada berapa banyak sih buku MarComm di pasaran? Banyak pasti. Namun yang terbit sekitar 3 tahun terakhir ada berapa? Dan berapa judul yang ditulis akademisi serta berapa judul yang ditulis praktisi. Dari sini bisa gw identifikasi berapa judul buku MarComm yang jadi kompetitor langsung gw (karangan akademisi).

2. Pelajari barang dagangan kompetitor gw (isi buku MarComm karangan akademisi lainnya), what to say dan how to say-nya. Seperti gw bilang diatas, umumnya mirip-mirip sik.

3. Ciptakan buku MarComm yang memiliki diferensiasi berbeda dari kompetitor, jika umumnya buku MarComm karangan akademisi membahas: Apa itu MarComm, Promotion Mix, dan contoh-contohnya; maka ciptakan buku MarComm yang juga membahas post-campaign research atau ROI MarComm misalnya. Ciptakan buku MarComm yang berbeda, beda bisa dari isi bahasan (seperti berbedanya sudut pandang akademisi dan praktisi) maupun jumlah bahasan (jika akademisi lain hanya membahas A-M, maka ciptakan yang membahas A-Z), intinya Value Added itu penting mas coy broh!

Buku MarComm penting banget, karena sedikit banyaknya itu yang akan mempengaruhi warna MarComm Indonesia (hahaha...lebaaay). Jadi selektif itu penting, seperti jadi manusia seksi juga genting buat gw yang gendut ini. Halaaah ngaccooo...

Selamat malam Indonesia!



 

What they said?