RSS
email

Pilih Model Rambut Yang Mana?

Ini masalah serius: Banyak pelanggan yang salah memilih model rambut saat memangkas rambut. Gw sebut ini masalah serius karena 2 hal:
1. Alasan pemilihan model rambut yang mostly un-rational
2. Efek salah memilih model rambut ini: Diputusin pacar, gebetan menjauh, jumlah teman berkurang (karena dianggap mahluk aneh)

Tapi bener deh...umumnya pria yang merapikan rambut di pangkas rambut pasti akan menyaksikan gambar yang +/- seperti di samping. Ganteng-ganteng dong? Nah jadi deh mereka pilih salah satu model rambut berdasarkan gambar itu.
Sumber: Koleksi pribadi

Meskipun bisa saja mereka sudah menyimpan model rambut yang mereka inginkan dalam benak mereka, namun umumnya gambar-gambar model rambut yang terpampang di tiap-tiap pangkas rambut itu cukup update, jadi model rambut yang kita bayangkan sudah tersedia dalam daftar itu. Malah dari segala jaman dan tempat (hahaa..ini gw lebaay).

Saat mereka memilih model rambut berdasarkan gambar-gambar itu, umumnya mereka tertarik karena ke-keceh-an si pria model itu. Mereka langsung mengambil kesimpulan bahwa pria model itu (menjadi) keceh karena model rambutnya. Dan jika pria model itu jadi keceh, tentunya si pelanggan pangkas rambut ini juga akan menjadi keceh karena model rambut itu. Kan model rambutnya sama? :DD

Padahal...biasanya si pria model keceh itu jadi keceh yaaa karena mukanya emang keceh. Rambutnya diapain juga biasanya tetep ajah keceh, apalagi jika ditambah tatanan rambut yang memang sesuai sama garis/cetakan wajahnya. Memang tatanan rambut (yang tepat) akan meningkatkan derajat ke-keceh-an seseorang, tapi tetep ajah cetakan wajah lebih menentukan seseorang layak menerima predikat keceh atau kurang keceh, baru kemudian ditunjang oleh model rambut. Jangan karena melihat model rambut David Beckham terlihat bagus pada Beckham, memilih model rambut sama seperti Beckham, dan menganggap akan ganteng seperti Beckham juga.

Makanya sangat besar kemungkinan, seorang pelanggan pangkas rambut memilih model rambut karena alasan yang sangat un-rational, yang berarti lebih emotional: “Model pria itu jadi ganteng karena model rambut undercut, saya juga pasti jadi ganteng seperti si model pria itu”. Dan potret ini sepertinya juga berlaku untuk kaum Hawa deh. Hehehe...malah kayanya lebih heboh ya? :D

Behaviour ini  merupakan potret umumnya masyarakat Indonesia. Betapa faktor emosional yang satu ini lebih berperan besar bagi seorang manusia Indonesia dalam purchase decision. Khususnya purchase decision yang temanya memperbaiki kualitas gaya hidup. Purchase decision ini tidak hanya berupa membeli barang/jasa ya, bisa juga ‘membeli ide’, ‘membeli pemikiran’.

Di sini gw bingung...apakah harus sedih atau justru gembira (sebagai pencari nafkah di bidang pemasaran)? Cuma yang pasti, ini berarti semua brand penting banget untuk mempertimbangkan area ini sebagai pendekatan kepada konsumen, agar konsumen jatuh cinta kepada brand yang kita usung. Tentu pendekatan ini jangan sekedar lipstick doang, harus proven ya.

Nah balik lagi ke soal pangkas rambut, gw mengambil kesimpulan secara general tanpa mempertimbangkan kedewasaan emosi seseorang, ataupun faktor-faktor lainnya. Jadi bisa aja ada pelanggan pangkas rambut yang tidak seperti di atas. Cuma umumnya..seperti di atas. Jadi jika ada pelanggan pangkas rambut yang tidak salah pilih model rambut, kemungkinannya adalah:
1. Dewasa emosi. Tidak mudah tergiur akan model-model rambut yang baru, jika diyakini tidak sesuai dengan garis wajah.
2. Sudah berulang kali tergiur model-model rambut yang baru, memilih, dan salah pilih. Hehe...jadi belajar dari pengalaman, membuat jadi bijak. 

Nah...model rambut yang oke, yang lagi hype, apa sik?



Bookmark and Share

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pilih Model Rambut Yang Mana?

Ini masalah serius: Banyak pelanggan yang salah memilih model rambut saat memangkas rambut. Gw sebut ini masalah serius karena 2 hal:
1. Alasan pemilihan model rambut yang mostly un-rational
2. Efek salah memilih model rambut ini: Diputusin pacar, gebetan menjauh, jumlah teman berkurang (karena dianggap mahluk aneh)

Tapi bener deh...umumnya pria yang merapikan rambut di pangkas rambut pasti akan menyaksikan gambar yang +/- seperti di samping. Ganteng-ganteng dong? Nah jadi deh mereka pilih salah satu model rambut berdasarkan gambar itu.
Sumber: Koleksi pribadi

Meskipun bisa saja mereka sudah menyimpan model rambut yang mereka inginkan dalam benak mereka, namun umumnya gambar-gambar model rambut yang terpampang di tiap-tiap pangkas rambut itu cukup update, jadi model rambut yang kita bayangkan sudah tersedia dalam daftar itu. Malah dari segala jaman dan tempat (hahaa..ini gw lebaay).

Saat mereka memilih model rambut berdasarkan gambar-gambar itu, umumnya mereka tertarik karena ke-keceh-an si pria model itu. Mereka langsung mengambil kesimpulan bahwa pria model itu (menjadi) keceh karena model rambutnya. Dan jika pria model itu jadi keceh, tentunya si pelanggan pangkas rambut ini juga akan menjadi keceh karena model rambut itu. Kan model rambutnya sama? :DD

Padahal...biasanya si pria model keceh itu jadi keceh yaaa karena mukanya emang keceh. Rambutnya diapain juga biasanya tetep ajah keceh, apalagi jika ditambah tatanan rambut yang memang sesuai sama garis/cetakan wajahnya. Memang tatanan rambut (yang tepat) akan meningkatkan derajat ke-keceh-an seseorang, tapi tetep ajah cetakan wajah lebih menentukan seseorang layak menerima predikat keceh atau kurang keceh, baru kemudian ditunjang oleh model rambut. Jangan karena melihat model rambut David Beckham terlihat bagus pada Beckham, memilih model rambut sama seperti Beckham, dan menganggap akan ganteng seperti Beckham juga.

Makanya sangat besar kemungkinan, seorang pelanggan pangkas rambut memilih model rambut karena alasan yang sangat un-rational, yang berarti lebih emotional: “Model pria itu jadi ganteng karena model rambut undercut, saya juga pasti jadi ganteng seperti si model pria itu”. Dan potret ini sepertinya juga berlaku untuk kaum Hawa deh. Hehehe...malah kayanya lebih heboh ya? :D

Behaviour ini  merupakan potret umumnya masyarakat Indonesia. Betapa faktor emosional yang satu ini lebih berperan besar bagi seorang manusia Indonesia dalam purchase decision. Khususnya purchase decision yang temanya memperbaiki kualitas gaya hidup. Purchase decision ini tidak hanya berupa membeli barang/jasa ya, bisa juga ‘membeli ide’, ‘membeli pemikiran’.

Di sini gw bingung...apakah harus sedih atau justru gembira (sebagai pencari nafkah di bidang pemasaran)? Cuma yang pasti, ini berarti semua brand penting banget untuk mempertimbangkan area ini sebagai pendekatan kepada konsumen, agar konsumen jatuh cinta kepada brand yang kita usung. Tentu pendekatan ini jangan sekedar lipstick doang, harus proven ya.

Nah balik lagi ke soal pangkas rambut, gw mengambil kesimpulan secara general tanpa mempertimbangkan kedewasaan emosi seseorang, ataupun faktor-faktor lainnya. Jadi bisa aja ada pelanggan pangkas rambut yang tidak seperti di atas. Cuma umumnya..seperti di atas. Jadi jika ada pelanggan pangkas rambut yang tidak salah pilih model rambut, kemungkinannya adalah:
1. Dewasa emosi. Tidak mudah tergiur akan model-model rambut yang baru, jika diyakini tidak sesuai dengan garis wajah.
2. Sudah berulang kali tergiur model-model rambut yang baru, memilih, dan salah pilih. Hehe...jadi belajar dari pengalaman, membuat jadi bijak. 

Nah...model rambut yang oke, yang lagi hype, apa sik?




 

What they said?