![]() |
| Sumber: http://market-my-practice.com |
Kampanye Video Online Yang Chemistry-able
KPI Social Media
![]() |
| Sumber: http://kaushik.net |
Dampak Kecelakaan Ustad Uje Terhadap Merek (Otomotif, Fincoy, Helm, Kopi, Permen Kopi, dan Kafe)
![]() |
| Sumber gambar: http://www.pennsylvaniadealerblog.com |
Mau Mulai Kampanye? Baca Ini Dulu
![]() |
| Sumber gambar: http://zeffrost.blogspot.com |
Kisah Mr. T
![]() |
| Sumber: http://empowernetwork.com |
Tentang (buku) MarComm
![]() |
| Sumber: http://sparksheet.com/open-book-branding-truth-transparency-and-trust-in-marketing/ |
Tahun 2013: Pertempuran Makin Seru
![]() |
| Sumber: http://freemindconfession.wordpress.com |
Mengapa Menulis?
![]() |
| Sumber gambar: http://annida-online.com |
Semakin Banyak, Karena Dibagikan
Dan di tahun 2012 juga gue relatif sedikit membaca, alasannya? Salahkan kesibukan. Tapi apakah memang separah itu kesibukan gue?
Sebenarnya enggak sik. Gue tau banget ada banyak orang yang lebih sibuk dari gue namun tetep bisa memiliki waktu membaca. Di sela menunggu kedatangan pesawat mereka membaca. Di sela menunggu mobil penjemput, mereka membaca. Kala di udara, diisi dengan membaca pula. Mereka sangat lihai memanfaatkan waktu-waktu kosong yang berdurasi singkat itu.
![]() |
| Sumber gambar: http://organisedcastle.wordpress.com |
Menurut gue, memanfaatkan waktu-waktu kosong berdurasi singkat untuk hal yang berguna membutuhkan keahlian. Keahlian datang dari latihan yang dilakukan dengan disiplin. Latihan dengan disiplin datang dari niat atau kemauan. Niat itu sendiri bakalan timbul jika loe menganggap suatu hal sebagai hal yang menggairahkan dan memang loe banget deh.
Coba loe bayangin, ada berapa banyak waktu kosong berdurasi singkat yang bisa loe isi dengan hal berguna? Membaca buku salah satunya. Lainnya, membaca koran, situs berita, mengunjungi situs pemasaran untuk mendapatkan insight dan data terbaru. Yah kebetulan gue maniak buku, contoh-contoh yang gue tampilin seputar membaca ajah. :D
Lalu apa hubungannya dengan sedikit membaca dengan sedikit nge-blog? Jadi gini nih, kalo gue banyak membaca, banyak hal yang bisa gue bagiin, dari literatur-literatur itu gue hubungin sama pengalaman gue, dan artikel bisa tersusun. Dan karena gue orangnya murah hati (najeeeesssssss loe Rick!), ya gue seneng ajah gitu berbagi. Makanya di tahun 2013 ini gue mau memperbaiki diri, be a better man! (aromanyaaah curcolll nih!)
Konon ada suatu hal yang kalau mau menambahnya kita harus membagikannya. Apakah itu? Kasih. Kasih yang dibagikan akan membuat orang yang membaginya semakin besar kasihnya dan sebaliknya. Hmmm...dan menurut gue 'dalil' itu juga berlaku untuk hal-hal positif lainnya seperti: Ilmu, wawasan, senyum, dan hal positif lainnya. Karena kalo loe bersedia berbagi hal yang + pastilah karena loe mau berbagi kasih kan?
Jadi kita mau nambah hal yang + atau justru - nih? Udah tahun 2013, masih jaman gitu nambah yang - ???
Be Open, Be Smart
Seorang teman curhat ke gue. Biasa curhat karyawan yah pasti soal bos dan manajemen yang selalu dianggap ngeselin. Yuk diliat, enjoyyyy...
Awal masuk di kantor baru, sangat tertakjub-takjub akan sistem marketing yang ada. Mengapa? Sangaaat old school!
Maka mulailah gue sebagai orang baru yang memang peduli akan kemajuan perusahaan (ciyeeeeh...) mengusulkan ide-ide segar based on my experience. Berikut percakapan yang coba saya gambarkan:
Gue (G): Bos, sekarang udah eranya online lohh....kita bikin online business yuk....saya dulu pernah bikin di perusahaan-perusahaan terdahulu.. (mulailah gue menjelaskan detail teknis konsep itu).
Bos (B): Ahh..ribet banget sih Pak...bagi saya mah yang penting jualan...omset..omset...kalo online kita punya akun Twitter kok. Dan ada juga website. Udahlah mikirin aja gimana sales kita naik.
G: Nah itu bos...supaya sales naik saran saya begitu. Kita banyakin cara kita menjangkau konsumen. Kita permudah konsumen mendapatkan produk kita. Dan fenomena online+socmednya ini sangat memungkinkan kita berdayakan to the max.
B: Tetep bagi saya ribet Pak. Belum pajaknya, dsb.
Ok. Ide gue ditolak. Gak papa sik. Cuma yang bikin gondok, selang setahun kemudian usul gue itu diambil. Mengapa? HQ minta kita untuk masuk ke online karena trend dunia mengarah ke sana. HQ sudah memberikan kuliah panjang lebar ke manajemen di Indonesia soal itu. Dan lucunya...manajemen di sini menganggap itu adalah pencerahan (ke mana ajeeehhhh???).
Nah demikian curhatan temen gue. Kasus di atas sering kita alamin sik, atau justru kita yang jadi antagonisnya. Untungnya tidak di tim gue. Mantan anggota tim gue tau banget bahwa gue selalu menciptakan suasana tanpa jarak di hubungan komunikasi. "Loe gue" akan sering didengar di ruangan kerja.
Mengapa? Karena gue begok. Karena bego makanya butuh banget yang namanya saran dari anak buah gue. Bisa aja ide gue kurang tepat untuk dilaksanakan, dan gue tidak akan pernah tau jika anak buah gue tidak bilanf kan? Cuma gimana anak buah mau ngasih saran kalo gue bersikap kaya Sumanto belom makan seminggu??
Alasan lainnya, gue percaya banget bahwa melakukan sesuatu karena terpaksa, karena takut dipecat, bahkan karena kewajiban sekalipun, akan kalah ampuh hasilnya jika kita melakukan karena memang kita ingin melakukannya. Jadi dengan manajemen terbuka (bukan manajemen telenji yakk..), dan hubungan persahabatan antara gue sama anak buah, lebih mudah gue meyakinkan mereka pentingnya suatu tugas dilaksanakan dengan baik. Dan thanks God mereka mau melakukannya dengan tersenyum.
Jadi mau jadi pinter? Yuk terbuka.
13 Agustus 2011
13 Agustus 2011, itu saat yang bersejarah lho. Coba dipikir ada kejadian apa di hari itu? Sudah ketemu? Atau nyerah?
Di tanggal tersebut untuk pertama kalinya dalam hidup ini, mendengar denyut jantung janin anak kami yang ada di perut istri saya tercinta. Denyut jantung –yang semoga berjalan lancar- calon anak kami. (Kebetulan ilustrasi foto di samping persis dengan kondisi kehamilan istri saya)
Perasaan deg-deg seeer, haru biru, senang yang tidak bisa digambarkan apapun juga (beneran lho, senangnya mengalahkan saat mengetahui gaji naik 40% dalam tempo 6 bulan sesudah kenaikan pertama). Dan juga kesadaran akan bertambahnya tanggung jawab sebagai seorang ayah.
Memang terkesan norak sih ya, karena sebagian besar manusia di dunia juga pernah merasakan sensasinya menjadi ayah. Namun yah, tetap aja saya bahagia banget bisa merasakan momen itu. Norak-noraknya calon ayah siih…
Btw saya juga bener-bener takjub lho sama proses hadirnya manusia di muka bumi ini, coba bayangin deh: Sperma dan sel telur itu kan berupa cairan yah (CMIIW), yang secara fisik sama seperti ludah, gak ada istimewanya kan? Namun ajaib banget yah pertemuan sperma dan sel telur itu secara perlahan-perlahan menjadi gumpalan daging, terdapat denyut jantung, dan di usia kehamilan 9 bulan siap untuk dilahirkan ke dunia.
Hal itu yang sampai sekarang bikin saya terbengong-bengong dahsyatnya mekanisme prosedur Tuhan dalam menciptakan manusia. Dan setiap manusia itu punya rancangan-Nya masing-masing yang harus ditemukan, dipahami, dan dilakukan.
Sumber foto: http://19ramadhan.blogspot.com/2011/01/unforgetable-moments.html
Matinya Kreativitas

Sebenarnya kenapa sih bisa terjadi sebuah brand dalam berkomunikasi ke khalayaknya kurang tajam, membosankan, sehingga tidak diperhatikan? Gak percaya? Coba deh tengok situasi dalam rumah kita masing-masing, bagaimana respon penghuni rumah saat sedang menonton siaran televisi dan muncul iklan. Biasanya kalimat yang akan keluar, “Ah iklan, pindah (saluran televisi) ah”.
Karena pola komunikasi merek via iklan sedikit macet, maka diliriklah pola komunikasi yang sifatnya non-iklan, sebut saja: PR, event, social media, online, dsb. Tapi sebenarnya sama aja, khalayak tetap tidak memperdulikannya. Kalau demikian bagaimana bisa dicapai komunikasi yang terintegrasi, yang tajam, menyegarkan, memancing orang untuk melihatnya, untuk kemudian meyakini bahwa sebuah merek dengan nilai-nilai yang ditawarkannya adalah yang terbaik?
Ada beberapa faktor, yang sifatnya eksternal dari pelaku komunikasi:
1. Brand owner yang kelewat mendikte, sehingga agensi komunikasi pemasaran, atau tim in-house menjadi seperti tukang yang cukup mengeksekusi saja tanpa boleh berpikir. Ini nyata lho, apalagi untuk perusahaan yang multi brand, bisa dipastikan tim in-house hanya bermain di tataran eksekusi. Karena yang harus didengarkan sebagai panduan adalah brand owner (brand/product manager), memang hal ini bisa saja disebabkan karena brand ownership yang begitu tinggi dari brand/product manager, tapi akibatnya kreativitas pelaku komunikasi menjadi terkikis. Kalau sebuah komunikasi gagal maka kesalahan ada pada tim pelaksana, tapi kalo sukses maka puja-puji bagi brand/product manager. Penting banget ada kesediaan dari brand owner untuk memberikan kepercayaan kepada pelaku komunikasi yang memang lebih piawai dalam mengolah pesan komunikasi merek.
2. Terbatasnya akses untuk mendapatkan referensi-referensi, bahan, tulisan mengenai komunikasi pemasaran. Tapi dengan adanya internet, dan toko buku yang menjamur sebenarnya hal ini relatif dapat ditanggulangi.
3. Kepemimpinan dari user, maksudnya person yang membawahi brand manager, promotion manager, marcomm manager. Bagaimana menerapkan pola kerja yang baik, yang memungkinkan setiap bagian mengeluarkan kemampuan terbaiknya untuk kemajuan perusahaan, menutup celah satu bagian lebih superior dibandingkan yang lain. Kalau hal ini bisa ditata dengan baik, maka satu lubang bisa ditutup. Hal ini berlaku hanya untuk pelaku komunikasi yang berada di tim in-house.
Sementara faktor yang bersifat internal:
1. Mental pelaku komunikasi dalam menyikapi situasi. Meski diposisikan sebagai tukang, bagaimana respon yang tepat? Apakah nrimo saja sehingga kreativitas mati? Atau justru memberontak (resign, memecat klien) karena amarah yang membabi buta? Atau malah mencoba mencari solusi atas macetnya kreativitas dengan mengundang diskusi para stake holder yang terkait? Intinya bagaimana produk-produk komunikasi yang dihasilkan lebih menggigit, seharusnya bisa dibicarakan untuk mencari solusi yang terbaik.
2. Motivasi diri sendiri. Dengan keterbatasan akses, tekanan dari pihak lain, namun kita tetap diwajibkan memiliki output yang baik bukan? Maka harus rajin-rajin memotivasi diri sendiri untuk berkembang, untuk mencari sumber-sumber pengetahuan dan menerapkannya.
Konsistensi Adalah Salah Satu Kunci Branding
Manusia Dan Hewan

Mengapa? Karena hewan tidak mempunyai akal budi seperti manusia. Dengan akal budi yang diberikan TUHAN, seharusnya manusia dapat menundukkan hasrat dagingnya dengan berpikir jernih menggunakan akal budi. Berbeda dengan hewan, karena tidak memiliki akal budi, hewan segera meresponi stimulus hasrat dirinya dengan tindakan; tanpa menundanya atau menahan diri. Karena hewan tidak memiliki akal budi.
Sebenarnya jika kita dalam melakukan suatu tindakan karena bersumber dari stimulus hasrat daging, kita tidak berbeda dengan hewan. Parahnya banyak manusia yang hidupnya setiap hari memuaskan hasrat dagingnya yang tiada habisnya ini tidak sadar dengan keadaan dirinya. Mungkin karena dibalut dengan sederet gelar kehormatan atau bertumpuk-tumpuk deposito dan surat-surat berharga. Atau mungkin juga karena terlalu putus asa akan pemenuhan 3 hal pokok jasmani (sandang, papan, pangan), yang kerap kali sukar didapat, sehingga menjadi pembenaran untuk melakukan apa pun demi hal ini. Nah situasi menghamba pada keinginan daging dan hasrat diri ini jika tidak disadari, maka akan menuju kondisi matinya akal budi.
Jadi, dengan modal yang diberikan TUHAN ini, seharusnya kita menjadi bijaksana dalam menjalani hidup. Masalahnya adalah bagaimana mendayagunakan akal budi ini semaksimal mungkin. Satu-satunya cara agar akal budi kita bekerja maksimal adalah dengan memburu pengenalan dan pemahaman yang benar akan TUHAN, Sang Sumber Kebijaksanaan. Itu hal pertama yang harus menjadi keinginan kita.
Sumber gambar: http://nowpublic.net
Korupsi adalah Mencari Makan?

Hari Kamis (8 April 2010) saya mencukur rambut di tukang cukur dekat rumah. Iseng-iseng saya melakukan tanya jawab dengan beliau :
Saya : Pak pelanggannya siapa aja di sini?
Bapak : Wah banyak mas.
Saya : Petugas pajak ada?
Bapak :
Saya : Oh gitu…wah parah yah yang korupsi pajak itu, padahal gajinya udah gede lho. 12 juta/sebulan. Itu kalo di swasta udah level manajer tuh.
Bapak : Yah meski gaji gede juga, kalo liat ada duit nganggur, siapa yang gak ngiler.
Saya : Iya, namanya juga manusia, gak pernah puas.
Bapak : Iya
Saya : ???? *bengong sambil mengurut dada, betapa mental anak Negeri sudah rusak sampai ke level akar rumput*
Duh korupsi itu bener-bener penyakit lho, berawal dari ketidakmampuan manusia untuk menahan hasrat memuaskan keinginan dagingnya, sehingga segala cara pun dilakukan. Dan repotnya, rakyat di tataran akar rumput yang sebenarnya adalah korban dari korupsi itu justru mempunyai pikiran bahwa korupsi termasuk kegiatan mencari makan, yang artinya wajar-wajar saja untuk dilakukan. Kalau orang seperti ini suatu ketika mendapat jabatan yang strategis, bukankah mungkin saja ia juga melanjutkan tradisi korupsi dan kolusi yang menurutnya adalah kegiatan mencari makan?
Duh
Sumber foto : xcavator.net
Social (moral) campaign

Tahu Campur khas Surabaya

Saat ini saya lagi nunggu warung Tahu Campur Surabaya buka, saat saya datang sekitar 20 menit dari waktu buka.
Warung ini sederhana, terbuat dari bilik kayu di samping jejeran gedung-gedung pertemuan dan showroom mobil-mobil mewah yang berada di boulevard Kelapa Gading. Setiap main ke Kelapa Gading pasti saya mampir ke sini. Memang makanan yang disajikan enak sih. Harganya pun terjangkau, Tahu Campur dan Tahu Tek2 9 ribu. Meski demikian yang ke sini ini biasanya bermobil lho. Dan sepertinya warung ini gak menyasar pekerja-pekerja di lokasi ini, waktu bukanya aja sekitar jam setengah 5 sore sampai jam 10an malam, tergantung stok persediaan hidangan.
Saya membayangkan kalau warung ini berpindah lokasi dan 'packaging' di mall atau trade center, atau di sebuah ruko. Apakah akan tetap saya kunjungi? Kok kayanya males ya...meski pun yang menjual tetap orang yang sama. Mengapa? Saat pertanyaan ini muncul jawaban yang hadir di otak saya sih sebagai berikut :
1. Orisinalitas
Kalo pindah ke mall atau ruko serta berganti packaging, sepertinya kok gak orisinal ya. Karena pas mau makan tahu campur ini bukan sekedar menghilangkan lapar namun juga merasakan hidangan khas Surabaya. Jadi kalo ganti packaging kok jadi seperti kehilangan keasliannya. Dan bisa jadi karena ganti packaging ini, sentuhan yang humanis dari si penjual juga akan berkurang kepada si pembeli.
2. Persepsi
Meski mungkin ada juga pelanggan yang berpikir. "Ah kan bentuk luarnya doang yang beda, rasa hidangannya kan sama aja." Tapi tetap aja ada pelanggan yang merasa kehilangan suasana kaki lima dari sebuah warung Tahu Campur khas Surabaya, sensasinya beda. Memang persepsi sebagian besar masyarakat adalah hidangan Tahu Campur khas Surabaya adalah di kaki lima dan bukan di mall atau ruko.
Saat ini sih itu yang kepikir. Sekedar menuangkan pikiran. Eh iya, ternyata saya sudah menjadi PR bagi si warung ya.... :D
Salam,
Erick Sowong
Ngobrol Soal Copywriting dan Kebaikan Yuk!

Seorang pria berjalan melewati tempat anak ini. Ia mengambil beberapa keping uang dari sakunya dan menjatuhkannya ke dalam topi itu. Lalu ia mengambil papan, membaliknya dan menulis beberapa kata. Pria ini menaruh papan itu kembali sehingga orang yang lalu lalang dapat melihat apa yang ia baru tulis. Segera sesudahnya, topi itu pun terisi penuh. Semakin banyak orang memberi uang ke anak tuna netra ini. Sore itu pria yang telah mengubah kata-kata di papan tersebut datang untuk melihat perkembangan yang terjadi. Anak ini mengenali langkah kakinya dan bertanya, 'Apakah bapak yang telah mengubah tulisan di papanku tadi pagi? Apa yang bapak tulis?'
Pria itu berkata, 'Saya hanya menuliskan sebuah kebenaran. Saya menyampaikan apa yang kamu telah tulis dengan cara yang berbeda.' Apa yang ia telah tulis adalah: 'Hari ini adalah hari yang indah dan saya tidak bisa melihatnya.'
Bukankah tulisan yang pertama dengan yang kedua sebenarnya sama saja?
Tentu arti kedua tulisan itu sama, yaitu bahwa anak itu buta. Tetapi, tulisan yang pertama hanya mengatakan bahwa anak itu buta. Sedangkan, tulisan yang kedua mengatakan kepada orang-orang bahwa mereka sangatlah beruntung bahwa mereka dapat melihat. Apakah kita perlu terkejut melihat tulisan yang kedua lebih efektif?
Moral dari cerita ini:
Ajaklah orang-orang lain menuju hal-hal yang baik dengan hikmat. Jalani hidup ini tanpa dalih dan mengasihi tanpa rasa sesal. Ketika hidup memberi engkau 100 alasan untuk menangis, tunjukkan pada hidup bahwa engkau memiliki 1000 alasan untuk tersenyum.
Hadapi masa lalumu tanpa sesal.
Tangani saat sekarang dengan percaya diri.
Bersiaplah untuk masa depan tanpa rasa takut.
Peganglah iman dan tanggalkan ketakutan.
Orang bijak berkata, 'Hidup harus menjadi sebuah proses perbaikan yang terus berlanjut, membuang kejahatan dan mengembangkan kebaikan... Jika engkau ingin menjalani hidup tanpa rasa takut, engkau harus memiliki hati nurani yang baik sebagai tiketnya.
Hal yang terindah adalah melihat seseorang tersenyum..
Tapi yang terlebih indah adalah mengetahui bahwa engkau adalah alasan di belakangnya! !!
Kampanye Video Online Yang Chemistry-able
![]() |
| Sumber: http://market-my-practice.com |
KPI Social Media
![]() |
| Sumber: http://kaushik.net |
Dampak Kecelakaan Ustad Uje Terhadap Merek (Otomotif, Fincoy, Helm, Kopi, Permen Kopi, dan Kafe)
![]() |
| Sumber gambar: http://www.pennsylvaniadealerblog.com |
Mau Mulai Kampanye? Baca Ini Dulu
![]() |
| Sumber gambar: http://zeffrost.blogspot.com |
Kisah Mr. T
![]() |
| Sumber: http://empowernetwork.com |
Tentang (buku) MarComm
![]() |
| Sumber: http://sparksheet.com/open-book-branding-truth-transparency-and-trust-in-marketing/ |
Tahun 2013: Pertempuran Makin Seru
![]() |
| Sumber: http://freemindconfession.wordpress.com |
Mengapa Menulis?
![]() |
| Sumber gambar: http://annida-online.com |
Semakin Banyak, Karena Dibagikan
Dan di tahun 2012 juga gue relatif sedikit membaca, alasannya? Salahkan kesibukan. Tapi apakah memang separah itu kesibukan gue?
Sebenarnya enggak sik. Gue tau banget ada banyak orang yang lebih sibuk dari gue namun tetep bisa memiliki waktu membaca. Di sela menunggu kedatangan pesawat mereka membaca. Di sela menunggu mobil penjemput, mereka membaca. Kala di udara, diisi dengan membaca pula. Mereka sangat lihai memanfaatkan waktu-waktu kosong yang berdurasi singkat itu.
![]() |
| Sumber gambar: http://organisedcastle.wordpress.com |
Menurut gue, memanfaatkan waktu-waktu kosong berdurasi singkat untuk hal yang berguna membutuhkan keahlian. Keahlian datang dari latihan yang dilakukan dengan disiplin. Latihan dengan disiplin datang dari niat atau kemauan. Niat itu sendiri bakalan timbul jika loe menganggap suatu hal sebagai hal yang menggairahkan dan memang loe banget deh.
Coba loe bayangin, ada berapa banyak waktu kosong berdurasi singkat yang bisa loe isi dengan hal berguna? Membaca buku salah satunya. Lainnya, membaca koran, situs berita, mengunjungi situs pemasaran untuk mendapatkan insight dan data terbaru. Yah kebetulan gue maniak buku, contoh-contoh yang gue tampilin seputar membaca ajah. :D
Lalu apa hubungannya dengan sedikit membaca dengan sedikit nge-blog? Jadi gini nih, kalo gue banyak membaca, banyak hal yang bisa gue bagiin, dari literatur-literatur itu gue hubungin sama pengalaman gue, dan artikel bisa tersusun. Dan karena gue orangnya murah hati (najeeeesssssss loe Rick!), ya gue seneng ajah gitu berbagi. Makanya di tahun 2013 ini gue mau memperbaiki diri, be a better man! (aromanyaaah curcolll nih!)
Konon ada suatu hal yang kalau mau menambahnya kita harus membagikannya. Apakah itu? Kasih. Kasih yang dibagikan akan membuat orang yang membaginya semakin besar kasihnya dan sebaliknya. Hmmm...dan menurut gue 'dalil' itu juga berlaku untuk hal-hal positif lainnya seperti: Ilmu, wawasan, senyum, dan hal positif lainnya. Karena kalo loe bersedia berbagi hal yang + pastilah karena loe mau berbagi kasih kan?
Jadi kita mau nambah hal yang + atau justru - nih? Udah tahun 2013, masih jaman gitu nambah yang - ???
Read More......
Be Open, Be Smart
Seorang teman curhat ke gue. Biasa curhat karyawan yah pasti soal bos dan manajemen yang selalu dianggap ngeselin. Yuk diliat, enjoyyyy...
Awal masuk di kantor baru, sangat tertakjub-takjub akan sistem marketing yang ada. Mengapa? Sangaaat old school!
Maka mulailah gue sebagai orang baru yang memang peduli akan kemajuan perusahaan (ciyeeeeh...) mengusulkan ide-ide segar based on my experience. Berikut percakapan yang coba saya gambarkan:
Gue (G): Bos, sekarang udah eranya online lohh....kita bikin online business yuk....saya dulu pernah bikin di perusahaan-perusahaan terdahulu.. (mulailah gue menjelaskan detail teknis konsep itu).
Bos (B): Ahh..ribet banget sih Pak...bagi saya mah yang penting jualan...omset..omset...kalo online kita punya akun Twitter kok. Dan ada juga website. Udahlah mikirin aja gimana sales kita naik.
G: Nah itu bos...supaya sales naik saran saya begitu. Kita banyakin cara kita menjangkau konsumen. Kita permudah konsumen mendapatkan produk kita. Dan fenomena online+socmednya ini sangat memungkinkan kita berdayakan to the max.
B: Tetep bagi saya ribet Pak. Belum pajaknya, dsb.
Ok. Ide gue ditolak. Gak papa sik. Cuma yang bikin gondok, selang setahun kemudian usul gue itu diambil. Mengapa? HQ minta kita untuk masuk ke online karena trend dunia mengarah ke sana. HQ sudah memberikan kuliah panjang lebar ke manajemen di Indonesia soal itu. Dan lucunya...manajemen di sini menganggap itu adalah pencerahan (ke mana ajeeehhhh???).
Nah demikian curhatan temen gue. Kasus di atas sering kita alamin sik, atau justru kita yang jadi antagonisnya. Untungnya tidak di tim gue. Mantan anggota tim gue tau banget bahwa gue selalu menciptakan suasana tanpa jarak di hubungan komunikasi. "Loe gue" akan sering didengar di ruangan kerja.
Mengapa? Karena gue begok. Karena bego makanya butuh banget yang namanya saran dari anak buah gue. Bisa aja ide gue kurang tepat untuk dilaksanakan, dan gue tidak akan pernah tau jika anak buah gue tidak bilanf kan? Cuma gimana anak buah mau ngasih saran kalo gue bersikap kaya Sumanto belom makan seminggu??
Alasan lainnya, gue percaya banget bahwa melakukan sesuatu karena terpaksa, karena takut dipecat, bahkan karena kewajiban sekalipun, akan kalah ampuh hasilnya jika kita melakukan karena memang kita ingin melakukannya. Jadi dengan manajemen terbuka (bukan manajemen telenji yakk..), dan hubungan persahabatan antara gue sama anak buah, lebih mudah gue meyakinkan mereka pentingnya suatu tugas dilaksanakan dengan baik. Dan thanks God mereka mau melakukannya dengan tersenyum.
Jadi mau jadi pinter? Yuk terbuka.
Read More......13 Agustus 2011
13 Agustus 2011, itu saat yang bersejarah lho. Coba dipikir ada kejadian apa di hari itu? Sudah ketemu? Atau nyerah?
Di tanggal tersebut untuk pertama kalinya dalam hidup ini, mendengar denyut jantung janin anak kami yang ada di perut istri saya tercinta. Denyut jantung –yang semoga berjalan lancar- calon anak kami. (Kebetulan ilustrasi foto di samping persis dengan kondisi kehamilan istri saya)
Perasaan deg-deg seeer, haru biru, senang yang tidak bisa digambarkan apapun juga (beneran lho, senangnya mengalahkan saat mengetahui gaji naik 40% dalam tempo 6 bulan sesudah kenaikan pertama). Dan juga kesadaran akan bertambahnya tanggung jawab sebagai seorang ayah.
Memang terkesan norak sih ya, karena sebagian besar manusia di dunia juga pernah merasakan sensasinya menjadi ayah. Namun yah, tetap aja saya bahagia banget bisa merasakan momen itu. Norak-noraknya calon ayah siih…
Btw saya juga bener-bener takjub lho sama proses hadirnya manusia di muka bumi ini, coba bayangin deh: Sperma dan sel telur itu kan berupa cairan yah (CMIIW), yang secara fisik sama seperti ludah, gak ada istimewanya kan? Namun ajaib banget yah pertemuan sperma dan sel telur itu secara perlahan-perlahan menjadi gumpalan daging, terdapat denyut jantung, dan di usia kehamilan 9 bulan siap untuk dilahirkan ke dunia.
Hal itu yang sampai sekarang bikin saya terbengong-bengong dahsyatnya mekanisme prosedur Tuhan dalam menciptakan manusia. Dan setiap manusia itu punya rancangan-Nya masing-masing yang harus ditemukan, dipahami, dan dilakukan.
Sumber foto: http://19ramadhan.blogspot.com/2011/01/unforgetable-moments.html
Matinya Kreativitas

Sebenarnya kenapa sih bisa terjadi sebuah brand dalam berkomunikasi ke khalayaknya kurang tajam, membosankan, sehingga tidak diperhatikan? Gak percaya? Coba deh tengok situasi dalam rumah kita masing-masing, bagaimana respon penghuni rumah saat sedang menonton siaran televisi dan muncul iklan. Biasanya kalimat yang akan keluar, “Ah iklan, pindah (saluran televisi) ah”.
Karena pola komunikasi merek via iklan sedikit macet, maka diliriklah pola komunikasi yang sifatnya non-iklan, sebut saja: PR, event, social media, online, dsb. Tapi sebenarnya sama aja, khalayak tetap tidak memperdulikannya. Kalau demikian bagaimana bisa dicapai komunikasi yang terintegrasi, yang tajam, menyegarkan, memancing orang untuk melihatnya, untuk kemudian meyakini bahwa sebuah merek dengan nilai-nilai yang ditawarkannya adalah yang terbaik?
Ada beberapa faktor, yang sifatnya eksternal dari pelaku komunikasi:
1. Brand owner yang kelewat mendikte, sehingga agensi komunikasi pemasaran, atau tim in-house menjadi seperti tukang yang cukup mengeksekusi saja tanpa boleh berpikir. Ini nyata lho, apalagi untuk perusahaan yang multi brand, bisa dipastikan tim in-house hanya bermain di tataran eksekusi. Karena yang harus didengarkan sebagai panduan adalah brand owner (brand/product manager), memang hal ini bisa saja disebabkan karena brand ownership yang begitu tinggi dari brand/product manager, tapi akibatnya kreativitas pelaku komunikasi menjadi terkikis. Kalau sebuah komunikasi gagal maka kesalahan ada pada tim pelaksana, tapi kalo sukses maka puja-puji bagi brand/product manager. Penting banget ada kesediaan dari brand owner untuk memberikan kepercayaan kepada pelaku komunikasi yang memang lebih piawai dalam mengolah pesan komunikasi merek.
2. Terbatasnya akses untuk mendapatkan referensi-referensi, bahan, tulisan mengenai komunikasi pemasaran. Tapi dengan adanya internet, dan toko buku yang menjamur sebenarnya hal ini relatif dapat ditanggulangi.
3. Kepemimpinan dari user, maksudnya person yang membawahi brand manager, promotion manager, marcomm manager. Bagaimana menerapkan pola kerja yang baik, yang memungkinkan setiap bagian mengeluarkan kemampuan terbaiknya untuk kemajuan perusahaan, menutup celah satu bagian lebih superior dibandingkan yang lain. Kalau hal ini bisa ditata dengan baik, maka satu lubang bisa ditutup. Hal ini berlaku hanya untuk pelaku komunikasi yang berada di tim in-house.
Sementara faktor yang bersifat internal:
1. Mental pelaku komunikasi dalam menyikapi situasi. Meski diposisikan sebagai tukang, bagaimana respon yang tepat? Apakah nrimo saja sehingga kreativitas mati? Atau justru memberontak (resign, memecat klien) karena amarah yang membabi buta? Atau malah mencoba mencari solusi atas macetnya kreativitas dengan mengundang diskusi para stake holder yang terkait? Intinya bagaimana produk-produk komunikasi yang dihasilkan lebih menggigit, seharusnya bisa dibicarakan untuk mencari solusi yang terbaik.
2. Motivasi diri sendiri. Dengan keterbatasan akses, tekanan dari pihak lain, namun kita tetap diwajibkan memiliki output yang baik bukan? Maka harus rajin-rajin memotivasi diri sendiri untuk berkembang, untuk mencari sumber-sumber pengetahuan dan menerapkannya.
Konsistensi Adalah Salah Satu Kunci Branding
Manusia Dan Hewan

Mengapa? Karena hewan tidak mempunyai akal budi seperti manusia. Dengan akal budi yang diberikan TUHAN, seharusnya manusia dapat menundukkan hasrat dagingnya dengan berpikir jernih menggunakan akal budi. Berbeda dengan hewan, karena tidak memiliki akal budi, hewan segera meresponi stimulus hasrat dirinya dengan tindakan; tanpa menundanya atau menahan diri. Karena hewan tidak memiliki akal budi.
Sebenarnya jika kita dalam melakukan suatu tindakan karena bersumber dari stimulus hasrat daging, kita tidak berbeda dengan hewan. Parahnya banyak manusia yang hidupnya setiap hari memuaskan hasrat dagingnya yang tiada habisnya ini tidak sadar dengan keadaan dirinya. Mungkin karena dibalut dengan sederet gelar kehormatan atau bertumpuk-tumpuk deposito dan surat-surat berharga. Atau mungkin juga karena terlalu putus asa akan pemenuhan 3 hal pokok jasmani (sandang, papan, pangan), yang kerap kali sukar didapat, sehingga menjadi pembenaran untuk melakukan apa pun demi hal ini. Nah situasi menghamba pada keinginan daging dan hasrat diri ini jika tidak disadari, maka akan menuju kondisi matinya akal budi.
Jadi, dengan modal yang diberikan TUHAN ini, seharusnya kita menjadi bijaksana dalam menjalani hidup. Masalahnya adalah bagaimana mendayagunakan akal budi ini semaksimal mungkin. Satu-satunya cara agar akal budi kita bekerja maksimal adalah dengan memburu pengenalan dan pemahaman yang benar akan TUHAN, Sang Sumber Kebijaksanaan. Itu hal pertama yang harus menjadi keinginan kita.
Sumber gambar: http://nowpublic.net
Korupsi adalah Mencari Makan?

Hari Kamis (8 April 2010) saya mencukur rambut di tukang cukur dekat rumah. Iseng-iseng saya melakukan tanya jawab dengan beliau :
Saya : Pak pelanggannya siapa aja di sini?
Bapak : Wah banyak mas.
Saya : Petugas pajak ada?
Bapak :
Saya : Oh gitu…wah parah yah yang korupsi pajak itu, padahal gajinya udah gede lho. 12 juta/sebulan. Itu kalo di swasta udah level manajer tuh.
Bapak : Yah meski gaji gede juga, kalo liat ada duit nganggur, siapa yang gak ngiler.
Saya : Iya, namanya juga manusia, gak pernah puas.
Bapak : Iya
Saya : ???? *bengong sambil mengurut dada, betapa mental anak Negeri sudah rusak sampai ke level akar rumput*
Duh korupsi itu bener-bener penyakit lho, berawal dari ketidakmampuan manusia untuk menahan hasrat memuaskan keinginan dagingnya, sehingga segala cara pun dilakukan. Dan repotnya, rakyat di tataran akar rumput yang sebenarnya adalah korban dari korupsi itu justru mempunyai pikiran bahwa korupsi termasuk kegiatan mencari makan, yang artinya wajar-wajar saja untuk dilakukan. Kalau orang seperti ini suatu ketika mendapat jabatan yang strategis, bukankah mungkin saja ia juga melanjutkan tradisi korupsi dan kolusi yang menurutnya adalah kegiatan mencari makan?
Duh
Sumber foto : xcavator.net
Read More......Social (moral) campaign

Tahu Campur khas Surabaya

Saat ini saya lagi nunggu warung Tahu Campur Surabaya buka, saat saya datang sekitar 20 menit dari waktu buka.
Warung ini sederhana, terbuat dari bilik kayu di samping jejeran gedung-gedung pertemuan dan showroom mobil-mobil mewah yang berada di boulevard Kelapa Gading. Setiap main ke Kelapa Gading pasti saya mampir ke sini. Memang makanan yang disajikan enak sih. Harganya pun terjangkau, Tahu Campur dan Tahu Tek2 9 ribu. Meski demikian yang ke sini ini biasanya bermobil lho. Dan sepertinya warung ini gak menyasar pekerja-pekerja di lokasi ini, waktu bukanya aja sekitar jam setengah 5 sore sampai jam 10an malam, tergantung stok persediaan hidangan.
Saya membayangkan kalau warung ini berpindah lokasi dan 'packaging' di mall atau trade center, atau di sebuah ruko. Apakah akan tetap saya kunjungi? Kok kayanya males ya...meski pun yang menjual tetap orang yang sama. Mengapa? Saat pertanyaan ini muncul jawaban yang hadir di otak saya sih sebagai berikut :
1. Orisinalitas
Kalo pindah ke mall atau ruko serta berganti packaging, sepertinya kok gak orisinal ya. Karena pas mau makan tahu campur ini bukan sekedar menghilangkan lapar namun juga merasakan hidangan khas Surabaya. Jadi kalo ganti packaging kok jadi seperti kehilangan keasliannya. Dan bisa jadi karena ganti packaging ini, sentuhan yang humanis dari si penjual juga akan berkurang kepada si pembeli.
2. Persepsi
Meski mungkin ada juga pelanggan yang berpikir. "Ah kan bentuk luarnya doang yang beda, rasa hidangannya kan sama aja." Tapi tetap aja ada pelanggan yang merasa kehilangan suasana kaki lima dari sebuah warung Tahu Campur khas Surabaya, sensasinya beda. Memang persepsi sebagian besar masyarakat adalah hidangan Tahu Campur khas Surabaya adalah di kaki lima dan bukan di mall atau ruko.
Saat ini sih itu yang kepikir. Sekedar menuangkan pikiran. Eh iya, ternyata saya sudah menjadi PR bagi si warung ya.... :D
Salam,
Erick Sowong
Ngobrol Soal Copywriting dan Kebaikan Yuk!

Seorang pria berjalan melewati tempat anak ini. Ia mengambil beberapa keping uang dari sakunya dan menjatuhkannya ke dalam topi itu. Lalu ia mengambil papan, membaliknya dan menulis beberapa kata. Pria ini menaruh papan itu kembali sehingga orang yang lalu lalang dapat melihat apa yang ia baru tulis. Segera sesudahnya, topi itu pun terisi penuh. Semakin banyak orang memberi uang ke anak tuna netra ini. Sore itu pria yang telah mengubah kata-kata di papan tersebut datang untuk melihat perkembangan yang terjadi. Anak ini mengenali langkah kakinya dan bertanya, 'Apakah bapak yang telah mengubah tulisan di papanku tadi pagi? Apa yang bapak tulis?'
Pria itu berkata, 'Saya hanya menuliskan sebuah kebenaran. Saya menyampaikan apa yang kamu telah tulis dengan cara yang berbeda.' Apa yang ia telah tulis adalah: 'Hari ini adalah hari yang indah dan saya tidak bisa melihatnya.'
Bukankah tulisan yang pertama dengan yang kedua sebenarnya sama saja?
Tentu arti kedua tulisan itu sama, yaitu bahwa anak itu buta. Tetapi, tulisan yang pertama hanya mengatakan bahwa anak itu buta. Sedangkan, tulisan yang kedua mengatakan kepada orang-orang bahwa mereka sangatlah beruntung bahwa mereka dapat melihat. Apakah kita perlu terkejut melihat tulisan yang kedua lebih efektif?
Moral dari cerita ini:
Ajaklah orang-orang lain menuju hal-hal yang baik dengan hikmat. Jalani hidup ini tanpa dalih dan mengasihi tanpa rasa sesal. Ketika hidup memberi engkau 100 alasan untuk menangis, tunjukkan pada hidup bahwa engkau memiliki 1000 alasan untuk tersenyum.
Hadapi masa lalumu tanpa sesal.
Tangani saat sekarang dengan percaya diri.
Bersiaplah untuk masa depan tanpa rasa takut.
Peganglah iman dan tanggalkan ketakutan.
Orang bijak berkata, 'Hidup harus menjadi sebuah proses perbaikan yang terus berlanjut, membuang kejahatan dan mengembangkan kebaikan... Jika engkau ingin menjalani hidup tanpa rasa takut, engkau harus memiliki hati nurani yang baik sebagai tiketnya.
Hal yang terindah adalah melihat seseorang tersenyum..
Tapi yang terlebih indah adalah mengetahui bahwa engkau adalah alasan di belakangnya! !!

Belajar Ngobrol is licensed under a Creative Commons Atribusi-NonKomersial-BerbagiSerupa 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di belajarngobrol.blogspot.com.






















