RSS
email
0

Pilih Model Rambut Yang Mana?

Ini masalah serius: Banyak pelanggan yang salah memilih model rambut saat memangkas rambut. Gw sebut ini masalah serius karena 2 hal:
1. Alasan pemilihan model rambut yang mostly un-rational
2. Efek salah memilih model rambut ini: Diputusin pacar, gebetan menjauh, jumlah teman berkurang (karena dianggap mahluk aneh)

Tapi bener deh...umumnya pria yang merapikan rambut di pangkas rambut pasti akan menyaksikan gambar yang +/- seperti di samping. Ganteng-ganteng dong? Nah jadi deh mereka pilih salah satu model rambut berdasarkan gambar itu.
Sumber: Koleksi pribadi

Meskipun bisa saja mereka sudah menyimpan model rambut yang mereka inginkan dalam benak mereka, namun umumnya gambar-gambar model rambut yang terpampang di tiap-tiap pangkas rambut itu cukup update, jadi model rambut yang kita bayangkan sudah tersedia dalam daftar itu. Malah dari segala jaman dan tempat (hahaa..ini gw lebaay).

Saat mereka memilih model rambut berdasarkan gambar-gambar itu, umumnya mereka tertarik karena ke-keceh-an si pria model itu. Mereka langsung mengambil kesimpulan bahwa pria model itu (menjadi) keceh karena model rambutnya. Dan jika pria model itu jadi keceh, tentunya si pelanggan pangkas rambut ini juga akan menjadi keceh karena model rambut itu. Kan model rambutnya sama? :DD

Padahal...biasanya si pria model keceh itu jadi keceh yaaa karena mukanya emang keceh. Rambutnya diapain juga biasanya tetep ajah keceh, apalagi jika ditambah tatanan rambut yang memang sesuai sama garis/cetakan wajahnya. Memang tatanan rambut (yang tepat) akan meningkatkan derajat ke-keceh-an seseorang, tapi tetep ajah cetakan wajah lebih menentukan seseorang layak menerima predikat keceh atau kurang keceh, baru kemudian ditunjang oleh model rambut. Jangan karena melihat model rambut David Beckham terlihat bagus pada Beckham, memilih model rambut sama seperti Beckham, dan menganggap akan ganteng seperti Beckham juga.

Makanya sangat besar kemungkinan, seorang pelanggan pangkas rambut memilih model rambut karena alasan yang sangat un-rational, yang berarti lebih emotional: “Model pria itu jadi ganteng karena model rambut undercut, saya juga pasti jadi ganteng seperti si model pria itu”. Dan potret ini sepertinya juga berlaku untuk kaum Hawa deh. Hehehe...malah kayanya lebih heboh ya? :D

Behaviour ini  merupakan potret umumnya masyarakat Indonesia. Betapa faktor emosional yang satu ini lebih berperan besar bagi seorang manusia Indonesia dalam purchase decision. Khususnya purchase decision yang temanya memperbaiki kualitas gaya hidup. Purchase decision ini tidak hanya berupa membeli barang/jasa ya, bisa juga ‘membeli ide’, ‘membeli pemikiran’.

Di sini gw bingung...apakah harus sedih atau justru gembira (sebagai pencari nafkah di bidang pemasaran)? Cuma yang pasti, ini berarti semua brand penting banget untuk mempertimbangkan area ini sebagai pendekatan kepada konsumen, agar konsumen jatuh cinta kepada brand yang kita usung. Tentu pendekatan ini jangan sekedar lipstick doang, harus proven ya.

Nah balik lagi ke soal pangkas rambut, gw mengambil kesimpulan secara general tanpa mempertimbangkan kedewasaan emosi seseorang, ataupun faktor-faktor lainnya. Jadi bisa aja ada pelanggan pangkas rambut yang tidak seperti di atas. Cuma umumnya..seperti di atas. Jadi jika ada pelanggan pangkas rambut yang tidak salah pilih model rambut, kemungkinannya adalah:
1. Dewasa emosi. Tidak mudah tergiur akan model-model rambut yang baru, jika diyakini tidak sesuai dengan garis wajah.
2. Sudah berulang kali tergiur model-model rambut yang baru, memilih, dan salah pilih. Hehe...jadi belajar dari pengalaman, membuat jadi bijak. 

Nah...model rambut yang oke, yang lagi hype, apa sik?


Read more
0

Riset Digital Shopper

Ada laporan pemasaran terbaru. Isinya menganalisa lebih dari 168 ribu pembelian produk elektronik konsumer, yang konsumennya menggunakan digital media dalam perjalanan menuju proses pembelian. Laporan itu juga mengungkapkan bahwa digital media dan periklanan sangat-sangat mempengaruhi hampir setengah dari pembelian. Riset ini juga mengidentifikasi 6 tipe digital shopper. Riset ini berpendapat bahwa perjalanan pembelian konsumen lebih dipengaruhi oleh behavioral factors dari pada demografi.
Sumber: http://google.com

Gw dapet reportnya, gw coba ringkas ya. Di bawah ini adalah segmen-segmennya:

Basic Digital Consumers.”
Merupakan porsi terbesar (29%) yang sangat mengandalkan dunia digital. Mereka sangat mempertimbangkan hasil pencarian search engine, juga informasi di website ritel dan merek. Namun cenderung tidak memperdulikan local channels sama seperti portal berita.
Mereka mengingat iklan display lebih baik daripada segmen lainnya, dan 10% diantaranya mengatakan bahwa iklan display telah membujuk mereka untuk melihat informasi tentang pengiklan. Segmen ini akan meresponi penawaran promosi yang ‘terlihat’ menguntungkan, dengan 73% berkata bahwa mereka akan memburu promosi-promosi seperti itu.

Retail Scouts.”
Segmen kedua terbesar (22%), mereka juga mengandalkan search engine dan retail sites, tapi mereka menggunakan mobile device untuk surfing di retail/brand sites, social and local sites, juga portal berita. Mereka memiliki perjalanan menuju pembelian yang paling pendek dibandingkan segmen lainnya.
Grup ini menggunakan mobile device terutama di rumah, dan meresponi dengan cepat terhadap iklan di tablet. Mereka juga seneng banget jika menerima kupon diskon/belanja yang bisa ditukarkan secara online atau offline.  

Brand Scouts.”
Kelompok ini mewakili 20% dari populasi digital shopper, dan menggunakan sedikit gadget dalam perjalanan menuju pembelian, mereka hanya memanfaatkan search engine dan website merek sepanjang perjalanan pembelian mereka.
72% dari konsumen ini memulai perjalanan mereka dengan merek yang sudah mereka incar di kepala mereka, dan mereka sangat meresponi untuk mencari harga rendah. Konsumen ini menunjukkan respon yang baik untuk online video commercials. Mereka juga memiliki preferensi yang lebih tinggi untuk pembelian secara offline dari segmen lain.

Digitally Driven Segment.”
Berjumlah 16% dari populasi, ini adalah pembeli yang bergerak paling digital, menggunakan masing-masing dari 7 alat diidentifikasi: pencarian, situs ritel, situs merek, mobile, sosial, lokal, dan portal berita. Segmen ini adalah yang paling sangat bergantung pada media sosial, dengan 29% dari perjalanan pembelian mereka dipengaruhi oleh percakapan yang dilakukan merek di media sosial. (Sekitar 14% juga mengunjungi laman merek di media sosial pasca pembelian.) Segmen ini juga memiliki rasio tertinggi online untuk pembelian offline, dan menggunakan ponsel lebih dari segmen lain.
30% dari segmen ini meresponi dengan baik pada iklan. Namun, mereka tidak menonton banyak iklan video atau menganggap iklan itu berguna. Sebaliknya, mereka lebih responsif pada iklan pencarian lebih daripada segmen lain.

Calculated Shoppers.”
Kelompok ini menyumbang 11% dari populasi digital shopper, dan menggunakan semua alat digital. Dibandingkan dengan segmen sebelumnya, yang memakan waktu antara 3-6 langkah untuk menyelesaikan pembelian mereka, pembelian yang dilakukan segmen ini lebih dihitung dengan baik, lebih diperhitungkan, memerlukan rata-rata 14 langkah.

Segmen ini sering menggunakan ponsel mereka untuk membandingkan harga ketika mendekati pembelian. Mereka juga menanggapi iklan, dan kedua-paling mungkin untuk menggunakan media sosial. Para peneliti mencatat bahwa ini adalah yang paling matang untuk program loyalitas, karena mereka pembeli berat dan menerima email pemasaran.


Eternal Shoppers.”
Kelompok ini mewakili hanya 2% dari digital shopper. Mereka memiliki 35 langkah selama perjalanan mereka menuju pembelian, sementara memanfaatkan hanya 4 alat: pencarian, situs ritel, situs merek, dan media sosial.
Merka dapat dijangkau melalui email, tapi search engine adalah cara terbaik untuk menjangkau mereka lebih efektif, karena mereka sangat tertarik untuk riset sebelum melakukan pembelian.


Demikian laporan ini dari gw. Selamat merancang strategi.
Read more
0

Hot Stuff: Native Advertising

Kemanakah tren periklanan saat ini? Kemanakah tren komunikasi pemasaran saat ini? Kalo ditanyakan ke gw, jawaban gw adalah eranya interruptive ads sudah berlalu. Khalayak udah males diterpa pesan-pesan pemasaran yang interruptive.
Sumber: http://jontusmedia.com

Sekarang eranya komunikasi pemasaran yang  menghibur dan useful. Eranya komunikasi pemasaran mengubah bentuk menjadi lebih relevan dan menghibur bagi khalayaknya.

Apakah itu berarti advertorial? Hm....kalo perusahaan media pasti menggolongkannya seperti itu karena terkait dengan rate iklan yang harus dibayar. Tapi gw lebih setuju menggunakan istilah native advertising, istilah yang juga sudah populer di dunia bule sana. Native advertising, terjemahan bebas gw, pesan pemasaran yang narrow, disesuaikan dengan audience-nya. Jadi jika audience-nya adalah fans klub bola, merek akan mengemas pesan pemasaran dibalik “tips menjadi suporter yang pasti dikenal pemain klub”. Apa hubungan native advertising dengan content marketing? Memang native advertising ini adalah salah satu perwujudan content marketing.

Memang native advertising akan membuat divisi pemasaran perusahaan pemegang merek seakan menjadi perusahaan media, karena dituntut dapat menghasilkan konten yang baik dan layak untuk dikonsumsi audience-nya. Tapi sekali lagi, ini bukan fenomena baru. Beberapa merek besar sudah melakukannya, sebut saja: Red Bull, AMEX, P & G, Coca cola.

Nah mengapa mereka melakukannya? IMO, karena mereka sudah mulai memahami, bahwa berbicara tentang diri mereka sendiri (merek narsis) dalam setiap konten adalah suatu hal yang sia-sia belaka. Yah..kecuali jika anggaran pemasaran tak berseri dan bisa digunakan seperti tisu :D. Makanya mereka mulai melakukan komunikasi gaya baru, komunikasi yang (diharapkan) membuat audience tertarik untuk engage dengan mereka.


So, do you ready for native advertising? 
Read more
0

Kampanye Video Online Yang Chemistry-able


Gw lagi baca-baca majalah pemasaran, dan ada artikel yang menarik. Menarik bukan berarti gw setuju ya, cuma kayanya ‘gatel’ untuk menganalisis idenya.

Jadi, inti dari artikel itu adalah memprediksikan bahwa ada medium baru yang bisa dimanfaatkan marketer: Video online. Alasan mereka adalah karena saat ini sudah umum brand-brand mempergunakan SocMed untuk tool marketing, alokasi bujetnya juga cenderung meningkat. Dari sisi konsumen, sebelum mereka melakukan pembelian sebuah produk atau jasa, biasanya mereka riset sederhana dengan searching di internet, bisa di Google ataupun FB dan Twitter. Dan disinilah kesempatan video online muncul (biasanya dipasang di Yutub). Konsumen sudah mulai searching info sebuah produk/jasa di Yutub, beberapa brand juga sudah menggunakan video online untuk jangkauan pemasarannya. Itu menurut si majalah itu.
Sumber: http://market-my-practice.com

Sebenarnya tentang pemanfaatan video online untuk tool marketing udah rada basi, di dunia bule sono ini mah makanan sehari-hari mereka. Yah karena kebiasaan konsumen di sana juga terbiasa memanfaatkannya, disamping karena TV internet sudah lebih dulu membumi di sana. Bagaimana di Indonesia? AFAIK, konsumen di Indonesia baru sebagian kecil saja yang melakukan riset produk/jasa di Yutub (sedikit banyak TV internet berpengaruh mendorong konsumen menyaksikan video online, berhubung TV internet belum terlalu memasyarakat, maka belum banyak konsumen di Indonesia yang menyaksikan video online). Itu pun kategori-kategori tertentu, yang biasanya dipengaruhi harga, tingkat kerumitan pemakaian produk/jasa. Selebihnya? Jika melakukan riset online pasti tetap setia dengan Google, FB dan Twitter.

Jadi apakah sekarang waktunya untuk terjun di video online juga? Tergantung jenis produk dan jasa yang kita pasarkan. Jika harga per satuan produk/jasa mahal dan membutuhkan penjelasan yang lebih clear soal produk/jasa (karena rata-rata TVC sekitar 15-30 detik, itu juga udah lumayan keluar duitnya), maka video online layak dipertimbangkan.

Contoh nih, kalo produk yang kita pasarkan adalah jasa pembiayaan kendaraan bermotor. Sudah tentu terdapat nilai uang yang besar per transaksi pelanggan. Dan sebagai calon pelanggan, sebelum memilih merek leasing yang akan digunakan membiayai pembelian motor/mobil idaman, tentu akan search dulu di Google seputar: 
1. Apakah banyak keluhan soal merek leasing? 
2. Bagaimana perilaku debt collector-nya? 
3. Bunganya rendah/tinggi? 
4. Persyaratannya bagaimana? 
5. Apakah ada diskon, gratis cicilan, atau program promosi lainnya?

Untuk nomor 1 dan 2, bisa ditanggulangi dengan PR activities, nah untuk nomor 3-5 bisa kita tuangkan di video online ini. Kita bisa jelaskan sedetail mungkin dan semenarik mungkin, sehingga calon pelanggan sreg untuk memilih merek leasing yang kita usung.

Nah terkait video online ini, supaya kemasan pesannya menarik, coba deh dipikirin konsep story telling yang bergaya mini seri. Jadi tidak satu video stand alone, namun ada kelanjutan dari cerita dalam video tersebut. Jika konsep cerita menarik dan dieksekusi dengan baik, pasti calon pelanggan akan penasaran melihat kelanjutan-kelanjutan dari video online kita. Mereka tidak merasa sedang melihat tool marketing, namun meresapi aliran cerita yang dibangun dalam video online. In the end, chemistry antara brand dengan pelanggan dapat terbangun menjadi suatu cerita cinta yang indah. -The End-        
Read more
0

KPI Social Media


Social Media. Sering disingkat sebagai SocMed. Melanjutkan trend penggunaan SocMed di tahun 2011 dan bertambah semarak di tahun lalu, di tahun ini pastinya SocMed akan kembali menjadi superstar. Hal ini didukung dengan semakin banyaknya tablet dan smartphone yang dimiliki konsumen. Tercatat temuan dari Cisco bahwa di 2012 terdapat 27 juta smartphone, dan 200 ribu tablet yang berkemampuan internet (http://jabar.tribunnews.com/2013/03/14/jumlah-smartphone-melonjak-36-persen-tahun-lalu)

Sumber: http://kaushik.net



Cuma ada yang tau gak KPI buat SocMed itu apa sih? Ok, kali ini gw mau berbagi KPI SocMed versi gw. Silakan dicoba dan sukur-sukur aplicable di perusahaan temen-temen semua.

1. Response Rate
Ini berbicara tentang persentase posting/pertanyaan dari audience yang direspons oleh Admin.

2. Response Time
Ini berbicara mengenai rata-rata waktu yang diperlukan Admin untuk merespons posting/pertanyaan dari audience.

3. Engagement Rate
Jumlah interaksi audience (bisa likes, komen, atau shares) yang ada di satu saluran SocMed.

4. Key Influencer Identification
Siapa sih personal yang paling sering interaksi dengan SocMed kita?

5. User Activity
Identifikasi jam-jam tertentu dalam sehari yang paling ramai interaksi. Dan identifikasi hari-hari tertentu dalam seminggu di mana audience ramai berinteraksi dengan SocMed kita.

Nah itu KPI dari SocMed, sekarang apa alat ukurnya dari KPI di atas tersebut? Business Solutions. Maksudnya bagaimana memanfaatkan SocMed semaksimal mungkin dalam proses bisnis perusahaan.

Kalo versi gw, begini:
1. Social Customer Service
KPI: Response Rate, Response Time, Key Influencer
2. Issue/Crisis Management
KPI: Response Rate, Response Time, Engagement Rate, Key Influencer
3. ROI of Social Promotions
KPI: Engagement Rate, Key Influencer, User Activity
4. Brand Loyalty
KPI: Engagement Rate, Key Influencer (Sentiment)
5. Competitive Insight
KPI: Interaksi.

Sipp. Segitu dulu deh. Makasi sudah membaca. Silakan kalo mau komen lho.
Read more
0

Dampak Kecelakaan Ustad Uje Terhadap Merek (Otomotif, Fincoy, Helm, Kopi, Permen Kopi, dan Kafe)


Indonesia bersedih. Tanggal 26 April 2013 Ustad Jefri Al Buchori atau yang biasa dikenal dengan sebutan Ustad Uje meninggal dunia. Hal ini mengejutkan publik Indonesia, bisa dilihat dari pemberitaan inpohteimen berganti dari semula eyang Subur menjadi seputar kecelakaan sang Ustad, prosesi pemakaman dan keadaan keluarga yang ditinggalkan. Tak ketinggalan media-media cetak, elektronik, internet pun mengabarkan hal yang sama. Berani tebak, tidak ada satupun media Indonesia yang tidak mengangkat kejadian ini.

Beliau meninggal setelah mengalami kecelakaan lalu lintas karena mengantuk (http://www.tempo.co/read/news/2013/04/26/219476012/Kronologi-Kecelakaan-Ustad-Uje), mengendarai motor Kawasaki jenis ER-650 CC dengan mengenakan helm half face, Ustad Uje menabrak pohon di sekitar Pondok Indah. Dengan tidak lupa mengucapkan turut berduka cita kepada keluarga dan kerabat yang ditinggalkan, di sini gw mau coba analisa impact dari kejadian ini kaitannya dengan marketing. Kata-kata yang gw tebelin di atas adalah kata kuncinya.

Mengantuk. Beberapa waktu belakangan ini, banyak banget kejadian kecelakaan lalu lintas, memang beberapa diantaranya ada yang karena hang-over sik, atau party sampai pagi, basian obat atau alkohol bikin ngantuk. Tapi ada juga yang karena kelelahan karena aktivitas, lalu mengantuk.

Nah hal ini sangat bisa menjadi peluang bagi merek kopi, merek permen kopi, dan merek minuman berenergi, untuk memanfaatkan seasonal ini dengan meluncurkan pesan komunikasi baru: “Gunakan merek kami, mengemudi bebas kantuk, keluarga bahagia”. Dengan tidak mengantuk saat mengemudi maka pengemudi bisa selamat sampai di rumah bertemu dengan keluarga tercinta, hal ini tentu saja membahagiakan keluarga bukan? Tentu ada motif mencari keuntungan di baliknya, namun selipkan juga motif kepedulian kepada keluarga saat meluncurkan pesan ini. 

Sumber gambar: http://www.pennsylvaniadealerblog.com
Menyelipkan kata-kata “wajib minum kopi/minuman berenergi untuk pengemudi” di kampanye “Safety Driving” juga bisa dilakukan, untuk kredibilitas, kampanye ini dilakukan kolaborasi dengan pihak ketiga seperti: Kepolisian, Kemenhub, Kemensos, DLLAJR. Untuk efisiensi biaya bisa dilakukan patungan dengan merek otomotif, merek helm, merek ban.  

Kafe di pom bensin, dan  rest area di jalan tol, juga bisa memanfaatkan hal ini. Pasang spanduk yang eye catching di depan gerbang pom bensin atau rest area dan tuliskan: “Tempuh sisa perjalanan Anda dengan terbebas dari ngantuk, ngopi dulu yukk di *nama kafe*”.

Kawasaki jenis ER-650 CC. Kalau yang sebelumnya gw memaparkan peluang yang bisa dimanfaatkan oleh merek. Sekarang gw coba analisa threat yang bisa terjadi bagi merek motor Kawasaki. Loe yang tinggal di Indonesia pasti tahu bahwa pemberitaan mengenai kecelakaan Ustad Uje begitu masif, sampe-sampe Eyang Subur beserta Arya Wiguna nya dilupakan! Hal yang juga sering disorot adalah motor yang digunakan oleh Ustad Uje, Kawaski jenis ER-650 CC. Hal ini bisa mengakibatkan brand image Kawasaki merosot dan berdampak ke penjualan semua line up Kawasaki. Maka penting banget buat pemegang merek melakukan recovery image program yang sistematis dan cepat. Media relation, aktivasi kudu segera dilakukan.

Gw liat, dengan Polisi mengatakan karena mengantuk, dan pemberitaan bahwa “Ustad Uje akhir-akhir ini terlihat lelah” bisa membantu Kawasaki, eksplorasi terus secara maksimal point ini dengan tidak melupakan PR yang memang harus dilakukan.

Skenario terburuknya menurut gw adalah penjualan Kawasaki drop selama 1-2 bulan, maka buat fincoy (financing company) juga bisa mikirin strategi penjualan dan strategi promosi, apakah tetep ngejalanin program promo buat Kawasaki atau dialihin ke merek lain.

Helm half face. Sebenarnya dari dulu juga sebaiknya produsen helm seharusnya menghentikan produksi helm half face, karena setau gw, peraturan juga udah melarang pengemudi memakai helm half face. Tapi mungkin karena demand-nya masih ada (buat penumpang sepeda motor masih dibolehkan menggunakan helm half face), maka helm jenis ini masih diproduksi. Dan karena kejadian ini, prediksi gw, akan mempengaruhi penjualan helm half face. Saran gw buat produsen helm, bisa manfaatin angle “Safety Driving” dan menekankan bahwa helm yang diperuntukkan bagi penumpang adalah helm half face.

Ok, I think enough for Me. Silakan komen di bawah artikel ini, di Twitter atau di FB gw. Thanks!     
Read more
0

Mau Mulai Kampanye? Baca Ini Dulu


Suatu ketika loe melihat seorang Jepang tersesat  kebingungan. Sebagai orang yang bae hati, pastinyah loe tergerak menolongnya. Loe dekati dia, dan loe bilang ke dia: “Halooo juragan.....tersesat yah? Mau ke mana sih gan? Ngomong nih sama abang...abang bantuin cariin dah alamatnya..”

Si turis bengong? Kenapa? Ya iyalah bengong! Orang Jepang loe ajakin berbahasa Indonesia jaman Pitung masih berjaya. Ndak bakalan koneklah sama dia. Akhirnya tuh Jepang bengong karena bingung mau jawab apaan. Loe pun bingung kenapa si Jepang gak mau loe bantuin.
Sumber gambar: http://zeffrost.blogspot.com

Itu sketsa doang sik. Betapa pentingnya yang namanya komunikasi, lebih dalam lagi, how to say yang tepat. Gw gak akan panjang lebar nerangin teori-teori komunikasi ke loe. Karena gw bukan dosen (saat ini), dan males juga kalii yeee terlalu text books. Kalo loe mau memberitakan keunggulan suatu barang/produk/merek, pastinya loe mau orang yang mendengar itu merespon dengan positif kan? Loe mau orang menanyakan lebih lanjut soal berita itu kan? Cuma bagaimana bisa, kalo loe ngomong pakai bahasa planet, sementara doi orang bumi???

Jadi sebelum loe berbagi berita promosi di tempat publik (di kereta, busway, kantin, FB, atau Twitter), pastiin hal ini: siapa audience yang akan mendengarnya? Dan temukan bahasa yang tepat serta mudah dimengerti oleh mereka. Dengan demikian, loe bisa menerapkan how to say yang tepat dan sesuai bagi mereka.

Kampanye untuk mengajak tunawisma hidup sehat dan bersih akan percuma jika bahasa yang dipakai adalah bahasa sekolahan tingkat tinggi. Tapi kalo loe ngobrol di kalangan penggemar mobil modif dan membagikan berita promosi dengan bahasa yang “anak mobil banget” ya ndak masalah toh. Know your audience itu penting ciin, supaya berita yang kita sampaikan tidak terbuang percuma hanya karena keliru how to say.

Memahami audience dan menemukan bahasa yang tepat serta mudah dimengerti, bagi gw, artinya kita menjadi secret agent, agen rahasia. Misi kita adalah bagaimana orang yang jadi target bisa berubah arah, berubah ideologi keyakinan. Menjadi agen rahasia artinya kita harus menyamar, memahami siapa mereka. Dari luar sama, tapi dalamnya beda. Kita tetep berteman dengan siapa pun juga, namun mindset kita soal suatu barang/produk/merek yang kita usung tetap teguh sekokoh batu karang (ngeeekk).

Jadi agen rahasia artinya kita udah pasti harus terlatih, teguh, dan kuat menahan tekanan. Baik tekanan keras maupun tekanan yang memabukkan. Kalo kita gak terlatih, gak teguh, dan gak kuat menahan tekanan, bukan target kita yang berubah ideologi keyakinan, tapi malah kita sendiri yang menjadi pengkhianat.

Deh segitu dulu yak. Makasi perhatiannya. Yukk ahh dikomenkan...       
Read more
0

Kisah Mr. T


Yang akan gw ceritain ini adalah kisah nyata. Bukan rekaan atau pun isapan jempol belaka, karena gw adalah saksi hidupnya.

Sering kita liat di TV program-program acara yang mengisahkan perjalanan hidup seseorang, from nothing become something, apa respon loe pas selesai menyaksikannya? Gw sih seringnya bicara dalam hati: “Ahh teeppuuu loe....mana ada kaya gitu..”

Alkisah...(ciyeehhh kaya di cerita-cerita dongeng :D) suatu hari di tahun 2004 gw n nyokap ketemu temennya nyokap, seorang wanita berprofesi sebagai guru agama. Saat kita lagi ngobrol, temennya si guru agama ini datang, namanya –sebut saja- Mr. T. Berperawakan gemuk, berkulit hitam dan tidak tinggi, Mr. T ini berasal dari Indonesia Timur. Lulusan SMA dan eks drop out dari seminari pastor. Setelah pertemuan itu, kami kembali ke rumah. Biasa saja, tidak ada hal apa pun yang membekas.
Sumber: http://empowernetwork.com

Beberapa hari kemudian, Mr. T ini datang di pagi hari, dengan gaya yang tidak malu-malu lagi Mr. T minta dibikinkan kopi. Sama nyokap dibikinin n ditambahin beberapa potong makanan kecil. Lalu kita ngobrol ngalor ngidul. Mr. T ini jago banget kalo ngobrol soal falsafah hidup, soal bagaimana running life with kindness. Mungkin karena pernah sekolah seminari ya. Demikianlah, dalam seminggu si Mr. T bisa datang di pagi atau sore hari, bahkan bisa di pagi dan sore hari sekaligus. Nyokap maklum aja, namanya juga anak rantau mengadu nasib di ibukota. Nyokap beranggapan, supaya suatu ketika kala anaknya sendiri (gw) ada di rantau juga ada pribadi yang mau memberikan gw kebaikan.

Selang waktu, suatu ketika gw kebagian giliran menerima ibadah pemuda remaja. Rame yang datang...semua pemudi dan remaji (remaja wanita namanya remaji kan ya? :D) datang. Biasaaaa...mereka mau sok-sok akrab sama gw –sebagai cowo favorit dan populer di Gereja- n nyokap (ini kayanya lebih karena gw kege-eran ajah sik). Para cowok juga datang, termasuk Mr. T ini. Ngapain si Mr. T ini datang? Jadi rupanya ada salah satu pemudi yang minta dikenalin cowo sama nyokap, n nyokap langsung kepikiran ke Mr. T itu. Diaturlah agar Mr. T dan pemudi ini bisa bertemu dan berkenalan. Singkat cerita, mereka akhirnya pacaran juga sampai akhirnya menikah. Dan setahu gw Mr. T ini belum punya pekerjaan tetap.

Saat sudah menikah, si Mr. T ini bekerja sebagai debt collector. Mengontrak rumah petakan di pelosok pinggiran Jakarta. Ekonomi mereka sangat kekurangan, sampai-sampai mereka menolak agar rumahnya dijadikan lokasi giliran komsel karena tidak punya uang untuk menyediakan konsumsi. Namun di tengah segala keterbatasan itu, mereka menerima sepasang suami istri yang lebih miskin dan tidak punya uang untuk tinggal seatap di rumah petakan mereka.

Lalu lahir anak pertama pasangan ini, kalau tidak salah di tahun 2009. Beberapa waktu kemudian dari kelahiran anak pertama itu, gw denger istri Mr. T ini kembali ke daerah asalnya. Gw gak tahu sebabnya apa, bisa jadi karena keluarga si istri yang mau anak dan cucunya ke kampung saja daripada kelaparan bersama Mr. T, atau karena si istri gak betah sengsara di Jakarta bersama Mr. T, atau Mr. T sendiri yang gak tega mengajak anak dan istrinya sengsara bersamanya.

Kemudian gw lost contact bertahun-tahun dengan Mr. T, dan gw gak tahu bahwa istri Mr. T sudah melahirkan lagi. Sosok Mr. T perlahan menghilang dari ingatan ditelan berbagai kesibukan kantor dan aktivitas lainnya. Sampai di awal 2013 ini, nyokap telp gw dan bilang dia dikunjungi Mr. T, sama Mr. T nyokap diajak ke rumahnya. Di rumahnya terdapat 4 mobil. Rumahnya sendiri ada 2 yang lokasinya saling berhadapan, satu ditempati Mr. T berserta istri dan anak-anaknya, satunya lagi ditempati adik dan sepupu Mr. T. Wuiihhh hebat tennann!

Minggu lalu, 30 Maret 2013, gw sama nyokap main ke rumah dia. Dan jujur gw bilang ke dia, gw salut sama dia melihat keadaannya sekarang, mengingat gw tahu keadaan susahnya dulu. Dia cerita tanpa bermaksud menyombongkan diri, bahwa sekarang dia memiliki perusahaan sendiri -dengan istrinya sebagai komisaris di akta perusahaan-, sebuah perusahaan properti dengan 7 proyek perumahan yang sudah dijalani, dan ke semua rumah yang ditawarkan itu laku! Di sela cerita suksesnya itu, seakan mengingatkan ke gw, dia juga cerita bahwa beragam pekerjaan sudah dilakoni: Debt collector, surveyor leasing, tukang bangunan, calo tanah, sampai OB perusahaan properti. Jadi ada proses panjang dan pedih yang harus dilakoni Mr. T sampai sekitar tahun 2010 peruntungan hidupnya perlahan mulai berubah.

Mr. T bilang bahwa semua pengalaman hidup dan pekerjaan yang dilakoni itu yang membentuknya sekarang. Saat menjadi calo tanah dia belajar, saat menjadi OB di perusahaan properti pun dia belajar. Lucunya, semua anak buah dia sekarang adalah orang-orang yang dulu jadi ‘bos’nya Mr. T. Jadi kala bekerja sebagai OB, Mr. T suka disuruh beli rokok atau fotokopi, nah jika fotokopi dokumen-dokumen yang terkait pekerjaan, Mr. T fotokopi lebih dari yang diminta, kertas yang lebih itu dibawa pulang dan dipelajari di rumah. Mr. T juga mengamati gaya para bosnya berbicara dan presentasi di depan klien. Diam-diam Mr. T mencuri ilmu para bossnya itu. Mr. T juga cerita bahwa dia pernah dipercaya menjadi direktur perusahaan properti dengan gaji yang lumayan, namun dia mengundurkan diri, semata karena merasa sudah waktunya untuk membuka usaha sendiri, perusahaan properti miliknya sendiri.

Kita ngobrol sampai malam, nyokap gw bertanya ke Mr. T, “besok ke kantor kesiangan gak nih?” Istri Mr. T menjawab, bahwa Mr. T itu selalu datang ke kantor jam 7 pagi. Meskipun tidur jam 3 pagi, tetap saja jam 6 pagi Mr. T bangun dan jam 7 berangkat ke kantor. Gw mempelajari ada nilai konsistensi dan disiplin dalam diri Mr. T. Gw bilang konsistensi, karena sikap Mr. T juga istrinya itu tidak seperti orang kaya kaget yang sombong dan sok. Mereka tetap sama seperti mereka dahulu. Dalam tutur kata mereka, seinget gw, tidak ada kalimat yang diucapkan dengan nada menyombongkan diri.

Malam itu gw pulang bersama nyokap dengan rasa takjub dan kagum ke Mr. T. Dan gw gak bohong kalo memang gw terinspirasi sama Mr. T ini. Mr. T, pria tahan banting dan konsisten ini bisa, gw juga pasti bisa, loe juga pasti bisa!

Read more
0

Tentang (buku) MarComm


Hari ini (4 April 2013) gw ada janji meeting demi masa depan bangsa dan negara (tsaaaahhh...gayaa gw), karena dari lokasi gw ke tempat meeting lebih dekat dibanding partner meeting, walhasil gw kecepetan nyampenya, masih sempet mampir ke pusat perbelanjaan untuk sekedar cuci mata. Tengok kanan kiri di dalam mal itu, hmmmm ada toko buku Gramedia ternyata...yasudss dengan penuh keyakinan gw melangkah masuk ke sana.

Di sana gw menemukan 2 buku tentang MarComm, bedanya yang satu disusun oleh praktisi MarComm (Advertising based), satunya lagi oleh akademisi (pengajar). Sempet tergiur juga untuk membawa kedua buku itu ke meja kasir, namun setelah ditimbang-timbang akhirnya hanya buku MarComm karangan praktisi yang gw bawa ke meja kasir untuk ‘dieksekusi’ (maksudnya isi dompet gw yang dieksekusi :D) bersama buku tentang marketing plan dan majalah bertema marketing edisi terbaru.
Sumber: http://sparksheet.com/open-book-branding-truth-transparency-and-trust-in-marketing/

Mengapa gw memilih buku MarComm karangan praktisi? Beginiloh pemirsah, meski bertema sama, ternyata sudut pandang MarComm versi praktisi dan akademisi itu beda. MarComm versi akademisi sangat text book sarat dengan teori (yang ada di buku tentunya) sehingga menghasilkan buku MarComm karangan akademisi yang satu dengan yang lainnya kurang lebih sama. Sementara buku-buku MarComm karangan praktisi itu biasanya berasal dari pengalaman penulis saat “running the MarComm”, hal ini menghasilkan buku MarComm antara penulis yang satu dengan yang lainnya memiliki jalannya sendiri dan teknik-teknik MarComm sendiri. Yah namanya juga based on experience yakk. Salah satu contohnya; MarComm versi akademisi adalah promosi dengan pendekatan ke promotion mix, sementara MarComm versi praktisi adalah dialog jujur 2 pihak yang sederajat. See..beda kan? Perbedaan mindset ini jika di lapangan operasional akan menghasilkan 2 versi MarComm, yang pertama MarComm as supporting unit (karena dianggap sama dengan promosi), yang kedua MarComm as main unit (karena bertugas melakukan brand building, merupakan investment unit yang in the end adalah kenaikan nilai saham, market share yang tinggi, dan sebagainya)

Thats why...(sok ngenggresss!) penting banget jika kita membaca banyak buku MarComm karangan praktisi. Wawasan kita semakin diperkaya dan semakin berwarna. Banyak ilmu pasti (karena sudah teruji di lapangan) yang bisa diserap dari mereka. Gw bicara begini bukan berarti buku karangan akademisi haram untuk dibaca, pemikiran para akademisi penting juga untuk kita pahami sebagai landasan berpikir –apalagi jika kita adalah newbie di rimba MarComm-. Cuma IMO, cukup beli satu atau dua buku MarComm karangan akademisi yang paling tebel dan lengkap, karena selebihnya buku MarComm karangan akademisi yang lain +/- sama kok dengan yang kita beli. Kecuaaalii loe adalah mahasiswa yang mendalami MarComm dan beberapa dosen loe adalah juga penulis-penulis buku MarComm, wajib mesti deh loe beli buku-buku mereka.

Itu pendapat gw sebagai pembaca ya. Dan bagaimana jika gw ada di posisi akademisi yang akan menulis buku MarComm? Pastinya gw harus memastikan buku gw bakalan laris diburu orang, tentu dong. Langkahnya?

1. Ada berapa banyak sih buku MarComm di pasaran? Banyak pasti. Namun yang terbit sekitar 3 tahun terakhir ada berapa? Dan berapa judul yang ditulis akademisi serta berapa judul yang ditulis praktisi. Dari sini bisa gw identifikasi berapa judul buku MarComm yang jadi kompetitor langsung gw (karangan akademisi).

2. Pelajari barang dagangan kompetitor gw (isi buku MarComm karangan akademisi lainnya), what to say dan how to say-nya. Seperti gw bilang diatas, umumnya mirip-mirip sik.

3. Ciptakan buku MarComm yang memiliki diferensiasi berbeda dari kompetitor, jika umumnya buku MarComm karangan akademisi membahas: Apa itu MarComm, Promotion Mix, dan contoh-contohnya; maka ciptakan buku MarComm yang juga membahas post-campaign research atau ROI MarComm misalnya. Ciptakan buku MarComm yang berbeda, beda bisa dari isi bahasan (seperti berbedanya sudut pandang akademisi dan praktisi) maupun jumlah bahasan (jika akademisi lain hanya membahas A-M, maka ciptakan yang membahas A-Z), intinya Value Added itu penting mas coy broh!

Buku MarComm penting banget, karena sedikit banyaknya itu yang akan mempengaruhi warna MarComm Indonesia (hahaha...lebaaay). Jadi selektif itu penting, seperti jadi manusia seksi juga genting buat gw yang gendut ini. Halaaah ngaccooo...

Selamat malam Indonesia!
Read more
0

Tahun 2013: Pertempuran Makin Seru


Tahun 2012 lalu digadang-gadang sebagai kebangkitan kelas menengah, banyak hal yang dikaitkan dengan hal ini, seperti: Bandara yang semakin penuh, frekuensi penerbangan yang semakin banyak dari tiap maskapai, maraknya sekolah-sekolah internasional bermunculan, mal-mal yang menjamur dan -meskipun sudah banyak jumlahnya- tidak pernah kekurangan pengunjung, produk asuransi dan investasi yang banyak ditawarkan belakangan ini.

Dipercaya oleh banyak pihak hal itu akan berlanjut di tahun 2013 ini, dan pembenaran akan gagasan tersebut semakin kuat tatkala DKI Jakarta memutuskan UMP 2013 ada di angka Rp 2.200.000. UMP yang diperuntukkan bagi lajang yang berpendidikan minimal SMA dan masa kerja kurang dari 1 tahun. 
Sumber: http://freemindconfession.wordpress.com
Sungguh sebuah pasar yang seksi bagi para pemilik merek untuk meraihnya. Dan tahun 2013 ini pula pertempuran antar merek akan semakin sengit. Pasar semakin besar artinya potensi pendapatan semakin besar, mengakibatkan kompetisi antar merek juga semakin keras. Masing-masing akan berlomba menancapkan nama di benak target audience dengan berbagai channel. Dan masalah menancapkan nama di benak audience adalah makanan sehari-hari bagi orang Marcomm.

Nah sekarang bagaimana caranya? Saya sik masih percaya di komunikasi yang dilakukan secara terintegrasi dan jujur. Hal ini yang masih belum dapat dilakukan umumnya korporasi di Indonesia. Memang ada yang bisa melakukannya, namun umumnya merupakan perusahaan besar (dan dana komunikasi mengalir seperti air), mempunyai sistem kerja yang baku dan ketat (sehingga mengakibatkan eksekusi yang lambat), terdaftar di lantai bursa (sehingga diawasi oleh banyak stake holder, dan jujur menjadi keharusan). Sementara untuk perusahaan yang tidak seperti di atas, dijamin bahwa komunikasi merek yang terintegrasi dan jujur merupakan barang langka nan ajaib.

Sebenarnya, lebih menantang berada di perusahaan yang dana komunikasinya tidak besar-besar banget. Kenapa? Otak tim marcomm akan dipaksa untuk berpacu mencari solusi mengefektifkan sumber daya dan dana yang ada namun tetap menembus target yang ditetapkan oleh perusahaan.  Tinggal bagaimana menetapkan sistem kerja yang cermat namun juga cepat, dan tentu saja komit untuk berkomunikasi secara jujur.

Contoh penerapan di social media, saat merek konsisten melakukan komunikasi yang jujur dan tulus maka audience akan lebih mudah memberikan kepercayaan untuk melakukan following. Dan ini merupakan langkah awal yang sangat baik untuk melakukan akusisi pasar, karena di social media berlaku adagium: "kuberikan kepercayaanku dengan memfollow dirimu". Jika kepercayaan sudah diberikan untuk terpapar pesan-pesan komunikasi dari merek, maka tinggal menunggu tahapan berikutnya audience untuk mencoba berjalan bersama merek.  
Read more
0

Mengapa Menulis?


Sumber gambar: http://annida-online.com
Gue punya tekad besar (ciyeeh besaaarrr loohh..), di tahun 2013 ini gue mau lebih sering lagi ngeblog. Kenapa? Ya karena pada dasarnya gue suka menulis, di biro iklan gue sempat berkarir sebagai copywriter sebelum menjadi strategic planner. Setelah bekerja di korporasi, gue tetap punya aktifitas menulis di majalah. Cuma miss-nya gue di tahun 2012 itu adalah: Tidak memperhatikan blog gue. Padahal salah satu blog itu lumayan rame pengunjungnya, karena gue memfungsikan blog itu sebagai renungan harian online.  Tapi ya sudahlah...itu tahun lalu, tahun ini gue mau lebih baikk.

Rencana gue, blog http://virtuenotes.blogspot.com ini akan direpositioning. Menjadi renungan harian online dengan bahasa yang lebih kasual, ber-loe-gue gitu deh. Tanggal pastinya masih gue pikirin, yang pasti di Februari ini. Gue harus siapin diri dulu dongg, mental dan spiritual.. Hehe..

Blog http://maribermakna.blogspot.com ini biasa gue isi sama pemikiran gue tentang hidup dari sudut pandang iman Kristiani yang gue yakini. Memang gue lebih jarang menulis di sini, karena memang membutuhkan kejernihan saat memandang persoalan hidup dan kemudian diambil hikmahnya dari setiap hal yang terjadi. Sementara gue jarang jernih di tahun lalu, seringnya buteeek muluk..hahaha..

Bagaimana dengan blog gue yang ini, yang sedang loe baca ini? Hal yang umum sih, kehidupan pekerjaan, passion gue di Marketing, Komunikasi, Periklanan bakalan loe jumpain di sini. Selebihnya? Obrolan baik dan semoga bermanfaat buat loe yaaa..aminnn.

Semuanya tentang menulis. Karena menurut gue, salah satu profesi pertama di dunia selain berdagang dan bertani adalah menulis. Kalau bukan menulis, gak bakalan tuh kita tau kehidupan manusia jaman pra sejarah. Kalau bukan karena menulis, loe yakin bakalan ada agama di dunia? Karena setiap agama membutuhkan kitab suci untuk mendokumentasikan ajarannya, dan cara mendokumentasikan agar bisa dipelajari turun temurun adalah dengan ditulis!

Menulis juga akan eksis sampai berabad-abad mendatang, bahkan sampai sejarah dunia ini diakhiri. Mengapa? Kebudayaan manusia cenderung bertambah maju, situs media sosial setiap mikro detik menampilkan kicauan ataupun status terbaru penggunanya. Dan itu semua dengan menulis brohh!
Kalo loe suka nonton film, loe pasti tau bahwa setiap film punya alur dan skenario. Dan itu semua tertulis. Kalo loe suka bermusik, setiap lirik dalam sebuah lagu pastilah ditulis. Dengan menulis buah pikiran kita bisa dinikmati oleh orang lain, tidak masalah apakah tulisan kita itu baik ataupun sebaliknya, yang penting tuangkan ajah dulu.

Jadi, doakan gue semoga tidak murtad dari tekad yang satu ini yak! Selamat menulis kawan!   

Read more
0

Semakin Banyak, Karena Dibagikan

Kalo dilihat di daftar posting, bisa terlihat bahwa di tahun 2012, blog ini , ini dan ini jarang diupdate. Apa penyebabnya? Simpel aja sic. Sibuk. Pekerjaan di 2012 menuntut mobilitas yang tinggi. Dalam sebulan bisa tiap minggu harus melakukan perjalanan dinas. Belum persiapannya, lagi ditambah dengan pelaporan hasilnya, dan beragam warna sari yang menyertai perjalanan dinas itu.

Dan di tahun 2012 juga gue relatif sedikit membaca, alasannya? Salahkan kesibukan. Tapi apakah memang separah itu kesibukan gue?

Sebenarnya enggak sik. Gue tau banget ada banyak orang yang lebih sibuk dari gue namun tetep bisa memiliki waktu membaca. Di sela menunggu kedatangan pesawat mereka membaca. Di sela menunggu mobil penjemput, mereka membaca. Kala di udara, diisi dengan membaca pula. Mereka sangat lihai memanfaatkan waktu-waktu kosong yang berdurasi singkat itu.

Sumber gambar: http://organisedcastle.wordpress.com

Menurut gue, memanfaatkan waktu-waktu kosong berdurasi singkat untuk hal yang berguna membutuhkan keahlian. Keahlian datang dari latihan yang dilakukan dengan disiplin. Latihan dengan disiplin datang dari niat atau kemauan. Niat itu sendiri bakalan timbul jika loe menganggap suatu hal sebagai hal yang menggairahkan dan memang loe banget deh.

Coba loe bayangin, ada berapa banyak waktu kosong berdurasi singkat yang bisa loe isi dengan hal berguna? Membaca buku salah satunya. Lainnya, membaca koran, situs berita, mengunjungi situs pemasaran untuk mendapatkan insight dan data terbaru. Yah kebetulan gue maniak buku, contoh-contoh yang gue tampilin seputar membaca ajah. :D

Lalu apa hubungannya dengan sedikit membaca dengan sedikit nge-blog? Jadi gini nih, kalo gue banyak membaca, banyak hal yang bisa gue bagiin, dari literatur-literatur itu gue hubungin sama pengalaman gue, dan artikel bisa tersusun. Dan karena gue orangnya murah hati (najeeeesssssss loe Rick!), ya gue seneng ajah gitu berbagi. Makanya di tahun 2013 ini gue mau memperbaiki diri, be a better man! (aromanyaaah curcolll nih!)

Konon ada suatu hal yang kalau mau menambahnya kita harus membagikannya. Apakah itu? Kasih. Kasih yang dibagikan akan membuat orang yang membaginya semakin besar kasihnya dan sebaliknya. Hmmm...dan menurut gue 'dalil' itu juga berlaku untuk hal-hal positif lainnya seperti: Ilmu, wawasan, senyum, dan hal positif lainnya. Karena kalo loe bersedia berbagi hal yang + pastilah karena loe mau berbagi kasih kan?

Jadi kita mau nambah hal yang + atau justru - nih? Udah tahun 2013, masih jaman gitu nambah yang - ???





Read more
0

Be Open, Be Smart

Seorang teman curhat ke gue. Biasa curhat karyawan yah pasti soal bos dan manajemen yang selalu dianggap ngeselin. Yuk diliat, enjoyyyy...

Awal masuk di kantor baru, sangat tertakjub-takjub akan sistem marketing yang ada. Mengapa? Sangaaat old school!

Maka mulailah gue sebagai orang baru yang memang peduli akan kemajuan perusahaan (ciyeeeeh...) mengusulkan ide-ide segar based on my experience. Berikut percakapan yang coba saya gambarkan:

Gue (G): Bos, sekarang udah eranya online lohh....kita bikin online business yuk....saya dulu pernah bikin di perusahaan-perusahaan terdahulu.. (mulailah gue menjelaskan detail teknis konsep itu).
Bos (B): Ahh..ribet banget sih Pak...bagi saya mah yang penting jualan...omset..omset...kalo online kita punya akun Twitter kok. Dan ada juga website. Udahlah mikirin aja gimana sales kita naik.
G: Nah itu bos...supaya sales naik saran saya begitu. Kita banyakin cara kita menjangkau konsumen. Kita permudah konsumen mendapatkan produk kita. Dan fenomena online+socmednya ini sangat memungkinkan kita berdayakan to the max.
B: Tetep bagi saya ribet Pak. Belum pajaknya, dsb.

Ok. Ide gue ditolak. Gak papa sik. Cuma yang bikin gondok, selang setahun kemudian usul gue itu diambil. Mengapa? HQ minta kita untuk masuk ke online karena trend dunia mengarah ke sana. HQ sudah memberikan kuliah panjang lebar ke manajemen di Indonesia soal itu. Dan lucunya...manajemen di sini menganggap itu adalah pencerahan (ke mana ajeeehhhh???).

Nah demikian curhatan temen gue. Kasus di atas sering kita alamin sik, atau justru kita yang jadi antagonisnya. Untungnya tidak di tim gue. Mantan anggota tim gue tau banget bahwa gue selalu menciptakan suasana tanpa jarak di hubungan komunikasi. "Loe gue" akan sering didengar di ruangan kerja.

Mengapa? Karena gue begok. Karena bego makanya butuh banget yang namanya saran dari anak buah gue. Bisa aja ide gue kurang tepat untuk dilaksanakan, dan gue tidak akan pernah tau jika anak buah gue tidak bilanf kan? Cuma gimana anak buah mau ngasih saran kalo gue bersikap kaya Sumanto belom makan seminggu??

Alasan lainnya, gue percaya banget bahwa melakukan sesuatu karena terpaksa, karena takut dipecat, bahkan karena kewajiban sekalipun, akan kalah ampuh hasilnya jika kita melakukan karena memang kita ingin melakukannya. Jadi dengan manajemen terbuka (bukan manajemen telenji yakk..), dan hubungan persahabatan antara gue sama anak buah, lebih mudah gue meyakinkan mereka pentingnya suatu tugas dilaksanakan dengan baik. Dan thanks God mereka mau melakukannya dengan tersenyum.

Jadi mau jadi pinter? Yuk terbuka.

Read more
0

13 Agustus 2011


13 Agustus 2011, itu saat yang bersejarah lho. Coba dipikir ada kejadian apa di hari itu? Sudah ketemu? Atau nyerah?


Di tanggal tersebut untuk pertama kalinya dalam hidup ini, mendengar denyut jantung janin anak kami yang ada di perut istri saya tercinta. Denyut jantung –yang semoga berjalan lancar- calon anak kami. (Kebetulan ilustrasi foto di samping persis dengan kondisi kehamilan istri saya)


Perasaan deg-deg seeer, haru biru, senang yang tidak bisa digambarkan apapun juga (beneran lho, senangnya mengalahkan saat mengetahui gaji naik 40% dalam tempo 6 bulan sesudah kenaikan pertama). Dan juga kesadaran akan bertambahnya tanggung jawab sebagai seorang ayah.


Memang terkesan norak sih ya, karena sebagian besar manusia di dunia juga pernah merasakan sensasinya menjadi ayah. Namun yah, tetap aja saya bahagia banget bisa merasakan momen itu. Norak-noraknya calon ayah siih…


Btw saya juga bener-bener takjub lho sama proses hadirnya manusia di muka bumi ini, coba bayangin deh: Sperma dan sel telur itu kan berupa cairan yah (CMIIW), yang secara fisik sama seperti ludah, gak ada istimewanya kan? Namun ajaib banget yah pertemuan sperma dan sel telur itu secara perlahan-perlahan menjadi gumpalan daging, terdapat denyut jantung, dan di usia kehamilan 9 bulan siap untuk dilahirkan ke dunia.


Hal itu yang sampai sekarang bikin saya terbengong-bengong dahsyatnya mekanisme prosedur Tuhan dalam menciptakan manusia. Dan setiap manusia itu punya rancangan-Nya masing-masing yang harus ditemukan, dipahami, dan dilakukan.


Sumber foto: http://19ramadhan.blogspot.com/2011/01/unforgetable-moments.html

Read more
0

Matinya Kreativitas


Sebenarnya kenapa sih bisa terjadi sebuah brand dalam berkomunikasi ke khalayaknya kurang tajam, membosankan, sehingga tidak diperhatikan? Gak percaya? Coba deh tengok situasi dalam rumah kita masing-masing, bagaimana respon penghuni rumah saat sedang menonton siaran televisi dan muncul iklan. Biasanya kalimat yang akan keluar, “Ah iklan, pindah (saluran televisi) ah”.


Karena pola komunikasi merek via iklan sedikit macet, maka diliriklah pola komunikasi yang sifatnya non-iklan, sebut saja: PR, event, social media, online, dsb. Tapi sebenarnya sama aja, khalayak tetap tidak memperdulikannya. Kalau demikian bagaimana bisa dicapai komunikasi yang terintegrasi, yang tajam, menyegarkan, memancing orang untuk melihatnya, untuk kemudian meyakini bahwa sebuah merek dengan nilai-nilai yang ditawarkannya adalah yang terbaik?


Ada beberapa faktor, yang sifatnya eksternal dari pelaku komunikasi:


1. Brand owner yang kelewat mendikte, sehingga agensi komunikasi pemasaran, atau tim in-house menjadi seperti tukang yang cukup mengeksekusi saja tanpa boleh berpikir. Ini nyata lho, apalagi untuk perusahaan yang multi brand, bisa dipastikan tim in-house hanya bermain di tataran eksekusi. Karena yang harus didengarkan sebagai panduan adalah brand owner (brand/product manager), memang hal ini bisa saja disebabkan karena brand ownership yang begitu tinggi dari brand/product manager, tapi akibatnya kreativitas pelaku komunikasi menjadi terkikis. Kalau sebuah komunikasi gagal maka kesalahan ada pada tim pelaksana, tapi kalo sukses maka puja-puji bagi brand/product manager. Penting banget ada kesediaan dari brand owner untuk memberikan kepercayaan kepada pelaku komunikasi yang memang lebih piawai dalam mengolah pesan komunikasi merek.


2. Terbatasnya akses untuk mendapatkan referensi-referensi, bahan, tulisan mengenai komunikasi pemasaran. Tapi dengan adanya internet, dan toko buku yang menjamur sebenarnya hal ini relatif dapat ditanggulangi.


3. Kepemimpinan dari user, maksudnya person yang membawahi brand manager, promotion manager, marcomm manager. Bagaimana menerapkan pola kerja yang baik, yang memungkinkan setiap bagian mengeluarkan kemampuan terbaiknya untuk kemajuan perusahaan, menutup celah satu bagian lebih superior dibandingkan yang lain. Kalau hal ini bisa ditata dengan baik, maka satu lubang bisa ditutup. Hal ini berlaku hanya untuk pelaku komunikasi yang berada di tim in-house.


Sementara faktor yang bersifat internal:


1. Mental pelaku komunikasi dalam menyikapi situasi. Meski diposisikan sebagai tukang, bagaimana respon yang tepat? Apakah nrimo saja sehingga kreativitas mati? Atau justru memberontak (resign, memecat klien) karena amarah yang membabi buta? Atau malah mencoba mencari solusi atas macetnya kreativitas dengan mengundang diskusi para stake holder yang terkait? Intinya bagaimana produk-produk komunikasi yang dihasilkan lebih menggigit, seharusnya bisa dibicarakan untuk mencari solusi yang terbaik.


2. Motivasi diri sendiri. Dengan keterbatasan akses, tekanan dari pihak lain, namun kita tetap diwajibkan memiliki output yang baik bukan? Maka harus rajin-rajin memotivasi diri sendiri untuk berkembang, untuk mencari sumber-sumber pengetahuan dan menerapkannya.


Bayangkan jika mental pecundang, dan motivasi pun tidak ada, maka stagnasi adalah hal yang pasti untuk kemudian layu dan mati. Jadi jangan biarkan karakter, kreatitivtas mati, namun sebaliknya mari hasilkan output yang positif bagi merek yang kita usung.


Sumber gambar: www.Google.com
Read more
0

Konsistensi Adalah Salah Satu Kunci Branding


Hari ini lagi ngajak maknyak makan kwetiaw goreng di RM. Surya. RM. Surya ini adalah warung yang menyediakan makanan-makanan umum dengan citarasa China. Ada kwetiaw, bakmi, bihun, nasi, bistik, capcay, fuyunghay, dan sebagainya.

Pas lagi menunggu hidangan disajikan, pikiran melayang memikirkan betapa nama Surya ini sudah lumayan nempel di otak. Dulu pas tinggal di Bekasi ada RM. Surya dengan varian jenis makanan yang serupa, di Pademangan, Jakarta Utara juga ada. Di Jakarta Timur pun ada. Kayanya di setiap lokasi tinggal saya selalu ada RM. Surya terdekat yang bisa disambangi. Jadi secara perspektif pemasaran, bisa dibilang RM. Surya ini strategi place nya cukup oke.

Mengapa saya sampai rela-rela ngebelain nulis tentang RM. Surya ini, well u can call me they biggest fans. Nah saya makan berdua dengan maknyak saya, karena cuma berdua kita hanya pesan 1 porsi kwetiaw goreng. Seperti saya bilang sebelumnya, bahwa 1 porsi ala carte itu sangat banyaaaak. Jadi 1 porsi kwetiaw goreng pun sudah lebih dari cukup untuk kita nikmati berdua dengan total tagihan yang saya bayar sebesar 34 ribu rupiah. Seporsi menu makanan ala carte RM. Surya itu kisarannya dari 10 ribu sampai 50 ribuan, dan bisa dimakan untuk 3 orang. See, jadi secara price pun si RM. Surya ini juga cukup punya "taji" untuk menarik hati sang konsumen.

Meski secara place, sebuah brand eksis di mana-mana, dan memiliki harga yang menarik, namun jika secara kualitas produk itu mengecewakan, pastilah konsumen lari meninggalkan brand. Itu adalah hukum "alam" marketing. Nah RM. Surya ini memiliki keunggulan di kedua faktor (Place dan Price), ditambah lagi rasanya yang gurih dan lezat membuat saya rela memutar rute perjalanan pulang untuk mampir dengan ibu saya. Secara produk pun RM. Surya mampu menggenerate produk yang oke.

Lalu bagaimana dengan promosi? Well, untuk kasus RM. Surya ini sepertinya waktulah yang menjadi ukurannya. Maksudnya karena konsisten untuk menjalankan 3 faktor: Place, Price, dan Product untuk jangka waktu yang lama maka loyal consumen pun rela memberitakan kepada relasinya. Apalagi jaman 3.0 ini, RM. Surya pun goes online. Tidak percaya? Tulisan ini buktinya!


Sumber gambar: www.google.com


Read more
0

Manusia Dan Hewan


Tahu arti kata hewan? Pernah memperhatikan hewan? Mungkin kucing atau anjing. Kedua hewan ini buang hajat sembarangan, kencing sembarangan, reproduksi di sembarang tempat dan sembarangan lawan jenis. Hewan ini melakukan hal-hal demikian karena menuruti hasrat dagingnya. Kalo lapar ya makan, kalo kebelet buang hajat segera dilakukan.

Mengapa? Karena hewan tidak mempunyai akal budi seperti manusia. Dengan akal budi yang diberikan TUHAN, seharusnya manusia dapat menundukkan hasrat dagingnya dengan berpikir jernih menggunakan akal budi. Berbeda dengan hewan, karena tidak memiliki akal budi, hewan segera meresponi stimulus hasrat dirinya dengan tindakan; tanpa menundanya atau menahan diri. Karena hewan tidak memiliki akal budi.

Sebenarnya jika kita dalam melakukan suatu tindakan karena bersumber dari stimulus hasrat daging, kita tidak berbeda dengan hewan. Parahnya banyak manusia yang hidupnya setiap hari memuaskan hasrat dagingnya yang tiada habisnya ini tidak sadar dengan keadaan dirinya. Mungkin karena dibalut dengan sederet gelar kehormatan atau bertumpuk-tumpuk deposito dan surat-surat berharga. Atau mungkin juga karena terlalu putus asa akan pemenuhan 3 hal pokok jasmani (sandang, papan, pangan), yang kerap kali sukar didapat, sehingga menjadi pembenaran untuk melakukan apa pun demi hal ini. Nah situasi menghamba pada keinginan daging dan hasrat diri ini jika tidak disadari, maka akan menuju kondisi matinya akal budi.

Jadi, dengan modal yang diberikan TUHAN ini, seharusnya kita menjadi bijaksana dalam menjalani hidup. Masalahnya adalah bagaimana mendayagunakan akal budi ini semaksimal mungkin. Satu-satunya cara agar akal budi kita bekerja maksimal adalah dengan memburu pengenalan dan pemahaman yang benar akan TUHAN, Sang Sumber Kebijaksanaan. Itu hal pertama yang harus menjadi keinginan kita.

Sumber gambar: http://nowpublic.net
Read more
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pilih Model Rambut Yang Mana?

Ini masalah serius: Banyak pelanggan yang salah memilih model rambut saat memangkas rambut. Gw sebut ini masalah serius karena 2 hal:
1. Alasan pemilihan model rambut yang mostly un-rational
2. Efek salah memilih model rambut ini: Diputusin pacar, gebetan menjauh, jumlah teman berkurang (karena dianggap mahluk aneh)

Tapi bener deh...umumnya pria yang merapikan rambut di pangkas rambut pasti akan menyaksikan gambar yang +/- seperti di samping. Ganteng-ganteng dong? Nah jadi deh mereka pilih salah satu model rambut berdasarkan gambar itu.
Sumber: Koleksi pribadi

Meskipun bisa saja mereka sudah menyimpan model rambut yang mereka inginkan dalam benak mereka, namun umumnya gambar-gambar model rambut yang terpampang di tiap-tiap pangkas rambut itu cukup update, jadi model rambut yang kita bayangkan sudah tersedia dalam daftar itu. Malah dari segala jaman dan tempat (hahaa..ini gw lebaay).

Saat mereka memilih model rambut berdasarkan gambar-gambar itu, umumnya mereka tertarik karena ke-keceh-an si pria model itu. Mereka langsung mengambil kesimpulan bahwa pria model itu (menjadi) keceh karena model rambutnya. Dan jika pria model itu jadi keceh, tentunya si pelanggan pangkas rambut ini juga akan menjadi keceh karena model rambut itu. Kan model rambutnya sama? :DD

Padahal...biasanya si pria model keceh itu jadi keceh yaaa karena mukanya emang keceh. Rambutnya diapain juga biasanya tetep ajah keceh, apalagi jika ditambah tatanan rambut yang memang sesuai sama garis/cetakan wajahnya. Memang tatanan rambut (yang tepat) akan meningkatkan derajat ke-keceh-an seseorang, tapi tetep ajah cetakan wajah lebih menentukan seseorang layak menerima predikat keceh atau kurang keceh, baru kemudian ditunjang oleh model rambut. Jangan karena melihat model rambut David Beckham terlihat bagus pada Beckham, memilih model rambut sama seperti Beckham, dan menganggap akan ganteng seperti Beckham juga.

Makanya sangat besar kemungkinan, seorang pelanggan pangkas rambut memilih model rambut karena alasan yang sangat un-rational, yang berarti lebih emotional: “Model pria itu jadi ganteng karena model rambut undercut, saya juga pasti jadi ganteng seperti si model pria itu”. Dan potret ini sepertinya juga berlaku untuk kaum Hawa deh. Hehehe...malah kayanya lebih heboh ya? :D

Behaviour ini  merupakan potret umumnya masyarakat Indonesia. Betapa faktor emosional yang satu ini lebih berperan besar bagi seorang manusia Indonesia dalam purchase decision. Khususnya purchase decision yang temanya memperbaiki kualitas gaya hidup. Purchase decision ini tidak hanya berupa membeli barang/jasa ya, bisa juga ‘membeli ide’, ‘membeli pemikiran’.

Di sini gw bingung...apakah harus sedih atau justru gembira (sebagai pencari nafkah di bidang pemasaran)? Cuma yang pasti, ini berarti semua brand penting banget untuk mempertimbangkan area ini sebagai pendekatan kepada konsumen, agar konsumen jatuh cinta kepada brand yang kita usung. Tentu pendekatan ini jangan sekedar lipstick doang, harus proven ya.

Nah balik lagi ke soal pangkas rambut, gw mengambil kesimpulan secara general tanpa mempertimbangkan kedewasaan emosi seseorang, ataupun faktor-faktor lainnya. Jadi bisa aja ada pelanggan pangkas rambut yang tidak seperti di atas. Cuma umumnya..seperti di atas. Jadi jika ada pelanggan pangkas rambut yang tidak salah pilih model rambut, kemungkinannya adalah:
1. Dewasa emosi. Tidak mudah tergiur akan model-model rambut yang baru, jika diyakini tidak sesuai dengan garis wajah.
2. Sudah berulang kali tergiur model-model rambut yang baru, memilih, dan salah pilih. Hehe...jadi belajar dari pengalaman, membuat jadi bijak. 

Nah...model rambut yang oke, yang lagi hype, apa sik?


Read More......

Riset Digital Shopper

Ada laporan pemasaran terbaru. Isinya menganalisa lebih dari 168 ribu pembelian produk elektronik konsumer, yang konsumennya menggunakan digital media dalam perjalanan menuju proses pembelian. Laporan itu juga mengungkapkan bahwa digital media dan periklanan sangat-sangat mempengaruhi hampir setengah dari pembelian. Riset ini juga mengidentifikasi 6 tipe digital shopper. Riset ini berpendapat bahwa perjalanan pembelian konsumen lebih dipengaruhi oleh behavioral factors dari pada demografi.
Sumber: http://google.com

Gw dapet reportnya, gw coba ringkas ya. Di bawah ini adalah segmen-segmennya:

Basic Digital Consumers.”
Merupakan porsi terbesar (29%) yang sangat mengandalkan dunia digital. Mereka sangat mempertimbangkan hasil pencarian search engine, juga informasi di website ritel dan merek. Namun cenderung tidak memperdulikan local channels sama seperti portal berita.
Mereka mengingat iklan display lebih baik daripada segmen lainnya, dan 10% diantaranya mengatakan bahwa iklan display telah membujuk mereka untuk melihat informasi tentang pengiklan. Segmen ini akan meresponi penawaran promosi yang ‘terlihat’ menguntungkan, dengan 73% berkata bahwa mereka akan memburu promosi-promosi seperti itu.

Retail Scouts.”
Segmen kedua terbesar (22%), mereka juga mengandalkan search engine dan retail sites, tapi mereka menggunakan mobile device untuk surfing di retail/brand sites, social and local sites, juga portal berita. Mereka memiliki perjalanan menuju pembelian yang paling pendek dibandingkan segmen lainnya.
Grup ini menggunakan mobile device terutama di rumah, dan meresponi dengan cepat terhadap iklan di tablet. Mereka juga seneng banget jika menerima kupon diskon/belanja yang bisa ditukarkan secara online atau offline.  

Brand Scouts.”
Kelompok ini mewakili 20% dari populasi digital shopper, dan menggunakan sedikit gadget dalam perjalanan menuju pembelian, mereka hanya memanfaatkan search engine dan website merek sepanjang perjalanan pembelian mereka.
72% dari konsumen ini memulai perjalanan mereka dengan merek yang sudah mereka incar di kepala mereka, dan mereka sangat meresponi untuk mencari harga rendah. Konsumen ini menunjukkan respon yang baik untuk online video commercials. Mereka juga memiliki preferensi yang lebih tinggi untuk pembelian secara offline dari segmen lain.

Digitally Driven Segment.”
Berjumlah 16% dari populasi, ini adalah pembeli yang bergerak paling digital, menggunakan masing-masing dari 7 alat diidentifikasi: pencarian, situs ritel, situs merek, mobile, sosial, lokal, dan portal berita. Segmen ini adalah yang paling sangat bergantung pada media sosial, dengan 29% dari perjalanan pembelian mereka dipengaruhi oleh percakapan yang dilakukan merek di media sosial. (Sekitar 14% juga mengunjungi laman merek di media sosial pasca pembelian.) Segmen ini juga memiliki rasio tertinggi online untuk pembelian offline, dan menggunakan ponsel lebih dari segmen lain.
30% dari segmen ini meresponi dengan baik pada iklan. Namun, mereka tidak menonton banyak iklan video atau menganggap iklan itu berguna. Sebaliknya, mereka lebih responsif pada iklan pencarian lebih daripada segmen lain.

Calculated Shoppers.”
Kelompok ini menyumbang 11% dari populasi digital shopper, dan menggunakan semua alat digital. Dibandingkan dengan segmen sebelumnya, yang memakan waktu antara 3-6 langkah untuk menyelesaikan pembelian mereka, pembelian yang dilakukan segmen ini lebih dihitung dengan baik, lebih diperhitungkan, memerlukan rata-rata 14 langkah.

Segmen ini sering menggunakan ponsel mereka untuk membandingkan harga ketika mendekati pembelian. Mereka juga menanggapi iklan, dan kedua-paling mungkin untuk menggunakan media sosial. Para peneliti mencatat bahwa ini adalah yang paling matang untuk program loyalitas, karena mereka pembeli berat dan menerima email pemasaran.


Eternal Shoppers.”
Kelompok ini mewakili hanya 2% dari digital shopper. Mereka memiliki 35 langkah selama perjalanan mereka menuju pembelian, sementara memanfaatkan hanya 4 alat: pencarian, situs ritel, situs merek, dan media sosial.
Merka dapat dijangkau melalui email, tapi search engine adalah cara terbaik untuk menjangkau mereka lebih efektif, karena mereka sangat tertarik untuk riset sebelum melakukan pembelian.


Demikian laporan ini dari gw. Selamat merancang strategi.
Read More......

Hot Stuff: Native Advertising

Kemanakah tren periklanan saat ini? Kemanakah tren komunikasi pemasaran saat ini? Kalo ditanyakan ke gw, jawaban gw adalah eranya interruptive ads sudah berlalu. Khalayak udah males diterpa pesan-pesan pemasaran yang interruptive.
Sumber: http://jontusmedia.com

Sekarang eranya komunikasi pemasaran yang  menghibur dan useful. Eranya komunikasi pemasaran mengubah bentuk menjadi lebih relevan dan menghibur bagi khalayaknya.

Apakah itu berarti advertorial? Hm....kalo perusahaan media pasti menggolongkannya seperti itu karena terkait dengan rate iklan yang harus dibayar. Tapi gw lebih setuju menggunakan istilah native advertising, istilah yang juga sudah populer di dunia bule sana. Native advertising, terjemahan bebas gw, pesan pemasaran yang narrow, disesuaikan dengan audience-nya. Jadi jika audience-nya adalah fans klub bola, merek akan mengemas pesan pemasaran dibalik “tips menjadi suporter yang pasti dikenal pemain klub”. Apa hubungan native advertising dengan content marketing? Memang native advertising ini adalah salah satu perwujudan content marketing.

Memang native advertising akan membuat divisi pemasaran perusahaan pemegang merek seakan menjadi perusahaan media, karena dituntut dapat menghasilkan konten yang baik dan layak untuk dikonsumsi audience-nya. Tapi sekali lagi, ini bukan fenomena baru. Beberapa merek besar sudah melakukannya, sebut saja: Red Bull, AMEX, P & G, Coca cola.

Nah mengapa mereka melakukannya? IMO, karena mereka sudah mulai memahami, bahwa berbicara tentang diri mereka sendiri (merek narsis) dalam setiap konten adalah suatu hal yang sia-sia belaka. Yah..kecuali jika anggaran pemasaran tak berseri dan bisa digunakan seperti tisu :D. Makanya mereka mulai melakukan komunikasi gaya baru, komunikasi yang (diharapkan) membuat audience tertarik untuk engage dengan mereka.


So, do you ready for native advertising? 
Read More......

Kampanye Video Online Yang Chemistry-able


Gw lagi baca-baca majalah pemasaran, dan ada artikel yang menarik. Menarik bukan berarti gw setuju ya, cuma kayanya ‘gatel’ untuk menganalisis idenya.

Jadi, inti dari artikel itu adalah memprediksikan bahwa ada medium baru yang bisa dimanfaatkan marketer: Video online. Alasan mereka adalah karena saat ini sudah umum brand-brand mempergunakan SocMed untuk tool marketing, alokasi bujetnya juga cenderung meningkat. Dari sisi konsumen, sebelum mereka melakukan pembelian sebuah produk atau jasa, biasanya mereka riset sederhana dengan searching di internet, bisa di Google ataupun FB dan Twitter. Dan disinilah kesempatan video online muncul (biasanya dipasang di Yutub). Konsumen sudah mulai searching info sebuah produk/jasa di Yutub, beberapa brand juga sudah menggunakan video online untuk jangkauan pemasarannya. Itu menurut si majalah itu.
Sumber: http://market-my-practice.com

Sebenarnya tentang pemanfaatan video online untuk tool marketing udah rada basi, di dunia bule sono ini mah makanan sehari-hari mereka. Yah karena kebiasaan konsumen di sana juga terbiasa memanfaatkannya, disamping karena TV internet sudah lebih dulu membumi di sana. Bagaimana di Indonesia? AFAIK, konsumen di Indonesia baru sebagian kecil saja yang melakukan riset produk/jasa di Yutub (sedikit banyak TV internet berpengaruh mendorong konsumen menyaksikan video online, berhubung TV internet belum terlalu memasyarakat, maka belum banyak konsumen di Indonesia yang menyaksikan video online). Itu pun kategori-kategori tertentu, yang biasanya dipengaruhi harga, tingkat kerumitan pemakaian produk/jasa. Selebihnya? Jika melakukan riset online pasti tetap setia dengan Google, FB dan Twitter.

Jadi apakah sekarang waktunya untuk terjun di video online juga? Tergantung jenis produk dan jasa yang kita pasarkan. Jika harga per satuan produk/jasa mahal dan membutuhkan penjelasan yang lebih clear soal produk/jasa (karena rata-rata TVC sekitar 15-30 detik, itu juga udah lumayan keluar duitnya), maka video online layak dipertimbangkan.

Contoh nih, kalo produk yang kita pasarkan adalah jasa pembiayaan kendaraan bermotor. Sudah tentu terdapat nilai uang yang besar per transaksi pelanggan. Dan sebagai calon pelanggan, sebelum memilih merek leasing yang akan digunakan membiayai pembelian motor/mobil idaman, tentu akan search dulu di Google seputar: 
1. Apakah banyak keluhan soal merek leasing? 
2. Bagaimana perilaku debt collector-nya? 
3. Bunganya rendah/tinggi? 
4. Persyaratannya bagaimana? 
5. Apakah ada diskon, gratis cicilan, atau program promosi lainnya?

Untuk nomor 1 dan 2, bisa ditanggulangi dengan PR activities, nah untuk nomor 3-5 bisa kita tuangkan di video online ini. Kita bisa jelaskan sedetail mungkin dan semenarik mungkin, sehingga calon pelanggan sreg untuk memilih merek leasing yang kita usung.

Nah terkait video online ini, supaya kemasan pesannya menarik, coba deh dipikirin konsep story telling yang bergaya mini seri. Jadi tidak satu video stand alone, namun ada kelanjutan dari cerita dalam video tersebut. Jika konsep cerita menarik dan dieksekusi dengan baik, pasti calon pelanggan akan penasaran melihat kelanjutan-kelanjutan dari video online kita. Mereka tidak merasa sedang melihat tool marketing, namun meresapi aliran cerita yang dibangun dalam video online. In the end, chemistry antara brand dengan pelanggan dapat terbangun menjadi suatu cerita cinta yang indah. -The End-        
Read More......

KPI Social Media


Social Media. Sering disingkat sebagai SocMed. Melanjutkan trend penggunaan SocMed di tahun 2011 dan bertambah semarak di tahun lalu, di tahun ini pastinya SocMed akan kembali menjadi superstar. Hal ini didukung dengan semakin banyaknya tablet dan smartphone yang dimiliki konsumen. Tercatat temuan dari Cisco bahwa di 2012 terdapat 27 juta smartphone, dan 200 ribu tablet yang berkemampuan internet (http://jabar.tribunnews.com/2013/03/14/jumlah-smartphone-melonjak-36-persen-tahun-lalu)

Sumber: http://kaushik.net



Cuma ada yang tau gak KPI buat SocMed itu apa sih? Ok, kali ini gw mau berbagi KPI SocMed versi gw. Silakan dicoba dan sukur-sukur aplicable di perusahaan temen-temen semua.

1. Response Rate
Ini berbicara tentang persentase posting/pertanyaan dari audience yang direspons oleh Admin.

2. Response Time
Ini berbicara mengenai rata-rata waktu yang diperlukan Admin untuk merespons posting/pertanyaan dari audience.

3. Engagement Rate
Jumlah interaksi audience (bisa likes, komen, atau shares) yang ada di satu saluran SocMed.

4. Key Influencer Identification
Siapa sih personal yang paling sering interaksi dengan SocMed kita?

5. User Activity
Identifikasi jam-jam tertentu dalam sehari yang paling ramai interaksi. Dan identifikasi hari-hari tertentu dalam seminggu di mana audience ramai berinteraksi dengan SocMed kita.

Nah itu KPI dari SocMed, sekarang apa alat ukurnya dari KPI di atas tersebut? Business Solutions. Maksudnya bagaimana memanfaatkan SocMed semaksimal mungkin dalam proses bisnis perusahaan.

Kalo versi gw, begini:
1. Social Customer Service
KPI: Response Rate, Response Time, Key Influencer
2. Issue/Crisis Management
KPI: Response Rate, Response Time, Engagement Rate, Key Influencer
3. ROI of Social Promotions
KPI: Engagement Rate, Key Influencer, User Activity
4. Brand Loyalty
KPI: Engagement Rate, Key Influencer (Sentiment)
5. Competitive Insight
KPI: Interaksi.

Sipp. Segitu dulu deh. Makasi sudah membaca. Silakan kalo mau komen lho.
Read More......

Dampak Kecelakaan Ustad Uje Terhadap Merek (Otomotif, Fincoy, Helm, Kopi, Permen Kopi, dan Kafe)


Indonesia bersedih. Tanggal 26 April 2013 Ustad Jefri Al Buchori atau yang biasa dikenal dengan sebutan Ustad Uje meninggal dunia. Hal ini mengejutkan publik Indonesia, bisa dilihat dari pemberitaan inpohteimen berganti dari semula eyang Subur menjadi seputar kecelakaan sang Ustad, prosesi pemakaman dan keadaan keluarga yang ditinggalkan. Tak ketinggalan media-media cetak, elektronik, internet pun mengabarkan hal yang sama. Berani tebak, tidak ada satupun media Indonesia yang tidak mengangkat kejadian ini.

Beliau meninggal setelah mengalami kecelakaan lalu lintas karena mengantuk (http://www.tempo.co/read/news/2013/04/26/219476012/Kronologi-Kecelakaan-Ustad-Uje), mengendarai motor Kawasaki jenis ER-650 CC dengan mengenakan helm half face, Ustad Uje menabrak pohon di sekitar Pondok Indah. Dengan tidak lupa mengucapkan turut berduka cita kepada keluarga dan kerabat yang ditinggalkan, di sini gw mau coba analisa impact dari kejadian ini kaitannya dengan marketing. Kata-kata yang gw tebelin di atas adalah kata kuncinya.

Mengantuk. Beberapa waktu belakangan ini, banyak banget kejadian kecelakaan lalu lintas, memang beberapa diantaranya ada yang karena hang-over sik, atau party sampai pagi, basian obat atau alkohol bikin ngantuk. Tapi ada juga yang karena kelelahan karena aktivitas, lalu mengantuk.

Nah hal ini sangat bisa menjadi peluang bagi merek kopi, merek permen kopi, dan merek minuman berenergi, untuk memanfaatkan seasonal ini dengan meluncurkan pesan komunikasi baru: “Gunakan merek kami, mengemudi bebas kantuk, keluarga bahagia”. Dengan tidak mengantuk saat mengemudi maka pengemudi bisa selamat sampai di rumah bertemu dengan keluarga tercinta, hal ini tentu saja membahagiakan keluarga bukan? Tentu ada motif mencari keuntungan di baliknya, namun selipkan juga motif kepedulian kepada keluarga saat meluncurkan pesan ini. 

Sumber gambar: http://www.pennsylvaniadealerblog.com
Menyelipkan kata-kata “wajib minum kopi/minuman berenergi untuk pengemudi” di kampanye “Safety Driving” juga bisa dilakukan, untuk kredibilitas, kampanye ini dilakukan kolaborasi dengan pihak ketiga seperti: Kepolisian, Kemenhub, Kemensos, DLLAJR. Untuk efisiensi biaya bisa dilakukan patungan dengan merek otomotif, merek helm, merek ban.  

Kafe di pom bensin, dan  rest area di jalan tol, juga bisa memanfaatkan hal ini. Pasang spanduk yang eye catching di depan gerbang pom bensin atau rest area dan tuliskan: “Tempuh sisa perjalanan Anda dengan terbebas dari ngantuk, ngopi dulu yukk di *nama kafe*”.

Kawasaki jenis ER-650 CC. Kalau yang sebelumnya gw memaparkan peluang yang bisa dimanfaatkan oleh merek. Sekarang gw coba analisa threat yang bisa terjadi bagi merek motor Kawasaki. Loe yang tinggal di Indonesia pasti tahu bahwa pemberitaan mengenai kecelakaan Ustad Uje begitu masif, sampe-sampe Eyang Subur beserta Arya Wiguna nya dilupakan! Hal yang juga sering disorot adalah motor yang digunakan oleh Ustad Uje, Kawaski jenis ER-650 CC. Hal ini bisa mengakibatkan brand image Kawasaki merosot dan berdampak ke penjualan semua line up Kawasaki. Maka penting banget buat pemegang merek melakukan recovery image program yang sistematis dan cepat. Media relation, aktivasi kudu segera dilakukan.

Gw liat, dengan Polisi mengatakan karena mengantuk, dan pemberitaan bahwa “Ustad Uje akhir-akhir ini terlihat lelah” bisa membantu Kawasaki, eksplorasi terus secara maksimal point ini dengan tidak melupakan PR yang memang harus dilakukan.

Skenario terburuknya menurut gw adalah penjualan Kawasaki drop selama 1-2 bulan, maka buat fincoy (financing company) juga bisa mikirin strategi penjualan dan strategi promosi, apakah tetep ngejalanin program promo buat Kawasaki atau dialihin ke merek lain.

Helm half face. Sebenarnya dari dulu juga sebaiknya produsen helm seharusnya menghentikan produksi helm half face, karena setau gw, peraturan juga udah melarang pengemudi memakai helm half face. Tapi mungkin karena demand-nya masih ada (buat penumpang sepeda motor masih dibolehkan menggunakan helm half face), maka helm jenis ini masih diproduksi. Dan karena kejadian ini, prediksi gw, akan mempengaruhi penjualan helm half face. Saran gw buat produsen helm, bisa manfaatin angle “Safety Driving” dan menekankan bahwa helm yang diperuntukkan bagi penumpang adalah helm half face.

Ok, I think enough for Me. Silakan komen di bawah artikel ini, di Twitter atau di FB gw. Thanks!     
Read More......

Mau Mulai Kampanye? Baca Ini Dulu


Suatu ketika loe melihat seorang Jepang tersesat  kebingungan. Sebagai orang yang bae hati, pastinyah loe tergerak menolongnya. Loe dekati dia, dan loe bilang ke dia: “Halooo juragan.....tersesat yah? Mau ke mana sih gan? Ngomong nih sama abang...abang bantuin cariin dah alamatnya..”

Si turis bengong? Kenapa? Ya iyalah bengong! Orang Jepang loe ajakin berbahasa Indonesia jaman Pitung masih berjaya. Ndak bakalan koneklah sama dia. Akhirnya tuh Jepang bengong karena bingung mau jawab apaan. Loe pun bingung kenapa si Jepang gak mau loe bantuin.
Sumber gambar: http://zeffrost.blogspot.com

Itu sketsa doang sik. Betapa pentingnya yang namanya komunikasi, lebih dalam lagi, how to say yang tepat. Gw gak akan panjang lebar nerangin teori-teori komunikasi ke loe. Karena gw bukan dosen (saat ini), dan males juga kalii yeee terlalu text books. Kalo loe mau memberitakan keunggulan suatu barang/produk/merek, pastinya loe mau orang yang mendengar itu merespon dengan positif kan? Loe mau orang menanyakan lebih lanjut soal berita itu kan? Cuma bagaimana bisa, kalo loe ngomong pakai bahasa planet, sementara doi orang bumi???

Jadi sebelum loe berbagi berita promosi di tempat publik (di kereta, busway, kantin, FB, atau Twitter), pastiin hal ini: siapa audience yang akan mendengarnya? Dan temukan bahasa yang tepat serta mudah dimengerti oleh mereka. Dengan demikian, loe bisa menerapkan how to say yang tepat dan sesuai bagi mereka.

Kampanye untuk mengajak tunawisma hidup sehat dan bersih akan percuma jika bahasa yang dipakai adalah bahasa sekolahan tingkat tinggi. Tapi kalo loe ngobrol di kalangan penggemar mobil modif dan membagikan berita promosi dengan bahasa yang “anak mobil banget” ya ndak masalah toh. Know your audience itu penting ciin, supaya berita yang kita sampaikan tidak terbuang percuma hanya karena keliru how to say.

Memahami audience dan menemukan bahasa yang tepat serta mudah dimengerti, bagi gw, artinya kita menjadi secret agent, agen rahasia. Misi kita adalah bagaimana orang yang jadi target bisa berubah arah, berubah ideologi keyakinan. Menjadi agen rahasia artinya kita harus menyamar, memahami siapa mereka. Dari luar sama, tapi dalamnya beda. Kita tetep berteman dengan siapa pun juga, namun mindset kita soal suatu barang/produk/merek yang kita usung tetap teguh sekokoh batu karang (ngeeekk).

Jadi agen rahasia artinya kita udah pasti harus terlatih, teguh, dan kuat menahan tekanan. Baik tekanan keras maupun tekanan yang memabukkan. Kalo kita gak terlatih, gak teguh, dan gak kuat menahan tekanan, bukan target kita yang berubah ideologi keyakinan, tapi malah kita sendiri yang menjadi pengkhianat.

Deh segitu dulu yak. Makasi perhatiannya. Yukk ahh dikomenkan...       
Read More......

Kisah Mr. T


Yang akan gw ceritain ini adalah kisah nyata. Bukan rekaan atau pun isapan jempol belaka, karena gw adalah saksi hidupnya.

Sering kita liat di TV program-program acara yang mengisahkan perjalanan hidup seseorang, from nothing become something, apa respon loe pas selesai menyaksikannya? Gw sih seringnya bicara dalam hati: “Ahh teeppuuu loe....mana ada kaya gitu..”

Alkisah...(ciyeehhh kaya di cerita-cerita dongeng :D) suatu hari di tahun 2004 gw n nyokap ketemu temennya nyokap, seorang wanita berprofesi sebagai guru agama. Saat kita lagi ngobrol, temennya si guru agama ini datang, namanya –sebut saja- Mr. T. Berperawakan gemuk, berkulit hitam dan tidak tinggi, Mr. T ini berasal dari Indonesia Timur. Lulusan SMA dan eks drop out dari seminari pastor. Setelah pertemuan itu, kami kembali ke rumah. Biasa saja, tidak ada hal apa pun yang membekas.
Sumber: http://empowernetwork.com

Beberapa hari kemudian, Mr. T ini datang di pagi hari, dengan gaya yang tidak malu-malu lagi Mr. T minta dibikinkan kopi. Sama nyokap dibikinin n ditambahin beberapa potong makanan kecil. Lalu kita ngobrol ngalor ngidul. Mr. T ini jago banget kalo ngobrol soal falsafah hidup, soal bagaimana running life with kindness. Mungkin karena pernah sekolah seminari ya. Demikianlah, dalam seminggu si Mr. T bisa datang di pagi atau sore hari, bahkan bisa di pagi dan sore hari sekaligus. Nyokap maklum aja, namanya juga anak rantau mengadu nasib di ibukota. Nyokap beranggapan, supaya suatu ketika kala anaknya sendiri (gw) ada di rantau juga ada pribadi yang mau memberikan gw kebaikan.

Selang waktu, suatu ketika gw kebagian giliran menerima ibadah pemuda remaja. Rame yang datang...semua pemudi dan remaji (remaja wanita namanya remaji kan ya? :D) datang. Biasaaaa...mereka mau sok-sok akrab sama gw –sebagai cowo favorit dan populer di Gereja- n nyokap (ini kayanya lebih karena gw kege-eran ajah sik). Para cowok juga datang, termasuk Mr. T ini. Ngapain si Mr. T ini datang? Jadi rupanya ada salah satu pemudi yang minta dikenalin cowo sama nyokap, n nyokap langsung kepikiran ke Mr. T itu. Diaturlah agar Mr. T dan pemudi ini bisa bertemu dan berkenalan. Singkat cerita, mereka akhirnya pacaran juga sampai akhirnya menikah. Dan setahu gw Mr. T ini belum punya pekerjaan tetap.

Saat sudah menikah, si Mr. T ini bekerja sebagai debt collector. Mengontrak rumah petakan di pelosok pinggiran Jakarta. Ekonomi mereka sangat kekurangan, sampai-sampai mereka menolak agar rumahnya dijadikan lokasi giliran komsel karena tidak punya uang untuk menyediakan konsumsi. Namun di tengah segala keterbatasan itu, mereka menerima sepasang suami istri yang lebih miskin dan tidak punya uang untuk tinggal seatap di rumah petakan mereka.

Lalu lahir anak pertama pasangan ini, kalau tidak salah di tahun 2009. Beberapa waktu kemudian dari kelahiran anak pertama itu, gw denger istri Mr. T ini kembali ke daerah asalnya. Gw gak tahu sebabnya apa, bisa jadi karena keluarga si istri yang mau anak dan cucunya ke kampung saja daripada kelaparan bersama Mr. T, atau karena si istri gak betah sengsara di Jakarta bersama Mr. T, atau Mr. T sendiri yang gak tega mengajak anak dan istrinya sengsara bersamanya.

Kemudian gw lost contact bertahun-tahun dengan Mr. T, dan gw gak tahu bahwa istri Mr. T sudah melahirkan lagi. Sosok Mr. T perlahan menghilang dari ingatan ditelan berbagai kesibukan kantor dan aktivitas lainnya. Sampai di awal 2013 ini, nyokap telp gw dan bilang dia dikunjungi Mr. T, sama Mr. T nyokap diajak ke rumahnya. Di rumahnya terdapat 4 mobil. Rumahnya sendiri ada 2 yang lokasinya saling berhadapan, satu ditempati Mr. T berserta istri dan anak-anaknya, satunya lagi ditempati adik dan sepupu Mr. T. Wuiihhh hebat tennann!

Minggu lalu, 30 Maret 2013, gw sama nyokap main ke rumah dia. Dan jujur gw bilang ke dia, gw salut sama dia melihat keadaannya sekarang, mengingat gw tahu keadaan susahnya dulu. Dia cerita tanpa bermaksud menyombongkan diri, bahwa sekarang dia memiliki perusahaan sendiri -dengan istrinya sebagai komisaris di akta perusahaan-, sebuah perusahaan properti dengan 7 proyek perumahan yang sudah dijalani, dan ke semua rumah yang ditawarkan itu laku! Di sela cerita suksesnya itu, seakan mengingatkan ke gw, dia juga cerita bahwa beragam pekerjaan sudah dilakoni: Debt collector, surveyor leasing, tukang bangunan, calo tanah, sampai OB perusahaan properti. Jadi ada proses panjang dan pedih yang harus dilakoni Mr. T sampai sekitar tahun 2010 peruntungan hidupnya perlahan mulai berubah.

Mr. T bilang bahwa semua pengalaman hidup dan pekerjaan yang dilakoni itu yang membentuknya sekarang. Saat menjadi calo tanah dia belajar, saat menjadi OB di perusahaan properti pun dia belajar. Lucunya, semua anak buah dia sekarang adalah orang-orang yang dulu jadi ‘bos’nya Mr. T. Jadi kala bekerja sebagai OB, Mr. T suka disuruh beli rokok atau fotokopi, nah jika fotokopi dokumen-dokumen yang terkait pekerjaan, Mr. T fotokopi lebih dari yang diminta, kertas yang lebih itu dibawa pulang dan dipelajari di rumah. Mr. T juga mengamati gaya para bosnya berbicara dan presentasi di depan klien. Diam-diam Mr. T mencuri ilmu para bossnya itu. Mr. T juga cerita bahwa dia pernah dipercaya menjadi direktur perusahaan properti dengan gaji yang lumayan, namun dia mengundurkan diri, semata karena merasa sudah waktunya untuk membuka usaha sendiri, perusahaan properti miliknya sendiri.

Kita ngobrol sampai malam, nyokap gw bertanya ke Mr. T, “besok ke kantor kesiangan gak nih?” Istri Mr. T menjawab, bahwa Mr. T itu selalu datang ke kantor jam 7 pagi. Meskipun tidur jam 3 pagi, tetap saja jam 6 pagi Mr. T bangun dan jam 7 berangkat ke kantor. Gw mempelajari ada nilai konsistensi dan disiplin dalam diri Mr. T. Gw bilang konsistensi, karena sikap Mr. T juga istrinya itu tidak seperti orang kaya kaget yang sombong dan sok. Mereka tetap sama seperti mereka dahulu. Dalam tutur kata mereka, seinget gw, tidak ada kalimat yang diucapkan dengan nada menyombongkan diri.

Malam itu gw pulang bersama nyokap dengan rasa takjub dan kagum ke Mr. T. Dan gw gak bohong kalo memang gw terinspirasi sama Mr. T ini. Mr. T, pria tahan banting dan konsisten ini bisa, gw juga pasti bisa, loe juga pasti bisa!

Read More......

Tentang (buku) MarComm


Hari ini (4 April 2013) gw ada janji meeting demi masa depan bangsa dan negara (tsaaaahhh...gayaa gw), karena dari lokasi gw ke tempat meeting lebih dekat dibanding partner meeting, walhasil gw kecepetan nyampenya, masih sempet mampir ke pusat perbelanjaan untuk sekedar cuci mata. Tengok kanan kiri di dalam mal itu, hmmmm ada toko buku Gramedia ternyata...yasudss dengan penuh keyakinan gw melangkah masuk ke sana.

Di sana gw menemukan 2 buku tentang MarComm, bedanya yang satu disusun oleh praktisi MarComm (Advertising based), satunya lagi oleh akademisi (pengajar). Sempet tergiur juga untuk membawa kedua buku itu ke meja kasir, namun setelah ditimbang-timbang akhirnya hanya buku MarComm karangan praktisi yang gw bawa ke meja kasir untuk ‘dieksekusi’ (maksudnya isi dompet gw yang dieksekusi :D) bersama buku tentang marketing plan dan majalah bertema marketing edisi terbaru.
Sumber: http://sparksheet.com/open-book-branding-truth-transparency-and-trust-in-marketing/

Mengapa gw memilih buku MarComm karangan praktisi? Beginiloh pemirsah, meski bertema sama, ternyata sudut pandang MarComm versi praktisi dan akademisi itu beda. MarComm versi akademisi sangat text book sarat dengan teori (yang ada di buku tentunya) sehingga menghasilkan buku MarComm karangan akademisi yang satu dengan yang lainnya kurang lebih sama. Sementara buku-buku MarComm karangan praktisi itu biasanya berasal dari pengalaman penulis saat “running the MarComm”, hal ini menghasilkan buku MarComm antara penulis yang satu dengan yang lainnya memiliki jalannya sendiri dan teknik-teknik MarComm sendiri. Yah namanya juga based on experience yakk. Salah satu contohnya; MarComm versi akademisi adalah promosi dengan pendekatan ke promotion mix, sementara MarComm versi praktisi adalah dialog jujur 2 pihak yang sederajat. See..beda kan? Perbedaan mindset ini jika di lapangan operasional akan menghasilkan 2 versi MarComm, yang pertama MarComm as supporting unit (karena dianggap sama dengan promosi), yang kedua MarComm as main unit (karena bertugas melakukan brand building, merupakan investment unit yang in the end adalah kenaikan nilai saham, market share yang tinggi, dan sebagainya)

Thats why...(sok ngenggresss!) penting banget jika kita membaca banyak buku MarComm karangan praktisi. Wawasan kita semakin diperkaya dan semakin berwarna. Banyak ilmu pasti (karena sudah teruji di lapangan) yang bisa diserap dari mereka. Gw bicara begini bukan berarti buku karangan akademisi haram untuk dibaca, pemikiran para akademisi penting juga untuk kita pahami sebagai landasan berpikir –apalagi jika kita adalah newbie di rimba MarComm-. Cuma IMO, cukup beli satu atau dua buku MarComm karangan akademisi yang paling tebel dan lengkap, karena selebihnya buku MarComm karangan akademisi yang lain +/- sama kok dengan yang kita beli. Kecuaaalii loe adalah mahasiswa yang mendalami MarComm dan beberapa dosen loe adalah juga penulis-penulis buku MarComm, wajib mesti deh loe beli buku-buku mereka.

Itu pendapat gw sebagai pembaca ya. Dan bagaimana jika gw ada di posisi akademisi yang akan menulis buku MarComm? Pastinya gw harus memastikan buku gw bakalan laris diburu orang, tentu dong. Langkahnya?

1. Ada berapa banyak sih buku MarComm di pasaran? Banyak pasti. Namun yang terbit sekitar 3 tahun terakhir ada berapa? Dan berapa judul yang ditulis akademisi serta berapa judul yang ditulis praktisi. Dari sini bisa gw identifikasi berapa judul buku MarComm yang jadi kompetitor langsung gw (karangan akademisi).

2. Pelajari barang dagangan kompetitor gw (isi buku MarComm karangan akademisi lainnya), what to say dan how to say-nya. Seperti gw bilang diatas, umumnya mirip-mirip sik.

3. Ciptakan buku MarComm yang memiliki diferensiasi berbeda dari kompetitor, jika umumnya buku MarComm karangan akademisi membahas: Apa itu MarComm, Promotion Mix, dan contoh-contohnya; maka ciptakan buku MarComm yang juga membahas post-campaign research atau ROI MarComm misalnya. Ciptakan buku MarComm yang berbeda, beda bisa dari isi bahasan (seperti berbedanya sudut pandang akademisi dan praktisi) maupun jumlah bahasan (jika akademisi lain hanya membahas A-M, maka ciptakan yang membahas A-Z), intinya Value Added itu penting mas coy broh!

Buku MarComm penting banget, karena sedikit banyaknya itu yang akan mempengaruhi warna MarComm Indonesia (hahaha...lebaaay). Jadi selektif itu penting, seperti jadi manusia seksi juga genting buat gw yang gendut ini. Halaaah ngaccooo...

Selamat malam Indonesia!
Read More......

Tahun 2013: Pertempuran Makin Seru


Tahun 2012 lalu digadang-gadang sebagai kebangkitan kelas menengah, banyak hal yang dikaitkan dengan hal ini, seperti: Bandara yang semakin penuh, frekuensi penerbangan yang semakin banyak dari tiap maskapai, maraknya sekolah-sekolah internasional bermunculan, mal-mal yang menjamur dan -meskipun sudah banyak jumlahnya- tidak pernah kekurangan pengunjung, produk asuransi dan investasi yang banyak ditawarkan belakangan ini.

Dipercaya oleh banyak pihak hal itu akan berlanjut di tahun 2013 ini, dan pembenaran akan gagasan tersebut semakin kuat tatkala DKI Jakarta memutuskan UMP 2013 ada di angka Rp 2.200.000. UMP yang diperuntukkan bagi lajang yang berpendidikan minimal SMA dan masa kerja kurang dari 1 tahun. 
Sumber: http://freemindconfession.wordpress.com
Sungguh sebuah pasar yang seksi bagi para pemilik merek untuk meraihnya. Dan tahun 2013 ini pula pertempuran antar merek akan semakin sengit. Pasar semakin besar artinya potensi pendapatan semakin besar, mengakibatkan kompetisi antar merek juga semakin keras. Masing-masing akan berlomba menancapkan nama di benak target audience dengan berbagai channel. Dan masalah menancapkan nama di benak audience adalah makanan sehari-hari bagi orang Marcomm.

Nah sekarang bagaimana caranya? Saya sik masih percaya di komunikasi yang dilakukan secara terintegrasi dan jujur. Hal ini yang masih belum dapat dilakukan umumnya korporasi di Indonesia. Memang ada yang bisa melakukannya, namun umumnya merupakan perusahaan besar (dan dana komunikasi mengalir seperti air), mempunyai sistem kerja yang baku dan ketat (sehingga mengakibatkan eksekusi yang lambat), terdaftar di lantai bursa (sehingga diawasi oleh banyak stake holder, dan jujur menjadi keharusan). Sementara untuk perusahaan yang tidak seperti di atas, dijamin bahwa komunikasi merek yang terintegrasi dan jujur merupakan barang langka nan ajaib.

Sebenarnya, lebih menantang berada di perusahaan yang dana komunikasinya tidak besar-besar banget. Kenapa? Otak tim marcomm akan dipaksa untuk berpacu mencari solusi mengefektifkan sumber daya dan dana yang ada namun tetap menembus target yang ditetapkan oleh perusahaan.  Tinggal bagaimana menetapkan sistem kerja yang cermat namun juga cepat, dan tentu saja komit untuk berkomunikasi secara jujur.

Contoh penerapan di social media, saat merek konsisten melakukan komunikasi yang jujur dan tulus maka audience akan lebih mudah memberikan kepercayaan untuk melakukan following. Dan ini merupakan langkah awal yang sangat baik untuk melakukan akusisi pasar, karena di social media berlaku adagium: "kuberikan kepercayaanku dengan memfollow dirimu". Jika kepercayaan sudah diberikan untuk terpapar pesan-pesan komunikasi dari merek, maka tinggal menunggu tahapan berikutnya audience untuk mencoba berjalan bersama merek.  
Read More......

Mengapa Menulis?


Sumber gambar: http://annida-online.com
Gue punya tekad besar (ciyeeh besaaarrr loohh..), di tahun 2013 ini gue mau lebih sering lagi ngeblog. Kenapa? Ya karena pada dasarnya gue suka menulis, di biro iklan gue sempat berkarir sebagai copywriter sebelum menjadi strategic planner. Setelah bekerja di korporasi, gue tetap punya aktifitas menulis di majalah. Cuma miss-nya gue di tahun 2012 itu adalah: Tidak memperhatikan blog gue. Padahal salah satu blog itu lumayan rame pengunjungnya, karena gue memfungsikan blog itu sebagai renungan harian online.  Tapi ya sudahlah...itu tahun lalu, tahun ini gue mau lebih baikk.

Rencana gue, blog http://virtuenotes.blogspot.com ini akan direpositioning. Menjadi renungan harian online dengan bahasa yang lebih kasual, ber-loe-gue gitu deh. Tanggal pastinya masih gue pikirin, yang pasti di Februari ini. Gue harus siapin diri dulu dongg, mental dan spiritual.. Hehe..

Blog http://maribermakna.blogspot.com ini biasa gue isi sama pemikiran gue tentang hidup dari sudut pandang iman Kristiani yang gue yakini. Memang gue lebih jarang menulis di sini, karena memang membutuhkan kejernihan saat memandang persoalan hidup dan kemudian diambil hikmahnya dari setiap hal yang terjadi. Sementara gue jarang jernih di tahun lalu, seringnya buteeek muluk..hahaha..

Bagaimana dengan blog gue yang ini, yang sedang loe baca ini? Hal yang umum sih, kehidupan pekerjaan, passion gue di Marketing, Komunikasi, Periklanan bakalan loe jumpain di sini. Selebihnya? Obrolan baik dan semoga bermanfaat buat loe yaaa..aminnn.

Semuanya tentang menulis. Karena menurut gue, salah satu profesi pertama di dunia selain berdagang dan bertani adalah menulis. Kalau bukan menulis, gak bakalan tuh kita tau kehidupan manusia jaman pra sejarah. Kalau bukan karena menulis, loe yakin bakalan ada agama di dunia? Karena setiap agama membutuhkan kitab suci untuk mendokumentasikan ajarannya, dan cara mendokumentasikan agar bisa dipelajari turun temurun adalah dengan ditulis!

Menulis juga akan eksis sampai berabad-abad mendatang, bahkan sampai sejarah dunia ini diakhiri. Mengapa? Kebudayaan manusia cenderung bertambah maju, situs media sosial setiap mikro detik menampilkan kicauan ataupun status terbaru penggunanya. Dan itu semua dengan menulis brohh!
Kalo loe suka nonton film, loe pasti tau bahwa setiap film punya alur dan skenario. Dan itu semua tertulis. Kalo loe suka bermusik, setiap lirik dalam sebuah lagu pastilah ditulis. Dengan menulis buah pikiran kita bisa dinikmati oleh orang lain, tidak masalah apakah tulisan kita itu baik ataupun sebaliknya, yang penting tuangkan ajah dulu.

Jadi, doakan gue semoga tidak murtad dari tekad yang satu ini yak! Selamat menulis kawan!   

Read More......

Semakin Banyak, Karena Dibagikan

Kalo dilihat di daftar posting, bisa terlihat bahwa di tahun 2012, blog ini , ini dan ini jarang diupdate. Apa penyebabnya? Simpel aja sic. Sibuk. Pekerjaan di 2012 menuntut mobilitas yang tinggi. Dalam sebulan bisa tiap minggu harus melakukan perjalanan dinas. Belum persiapannya, lagi ditambah dengan pelaporan hasilnya, dan beragam warna sari yang menyertai perjalanan dinas itu.

Dan di tahun 2012 juga gue relatif sedikit membaca, alasannya? Salahkan kesibukan. Tapi apakah memang separah itu kesibukan gue?

Sebenarnya enggak sik. Gue tau banget ada banyak orang yang lebih sibuk dari gue namun tetep bisa memiliki waktu membaca. Di sela menunggu kedatangan pesawat mereka membaca. Di sela menunggu mobil penjemput, mereka membaca. Kala di udara, diisi dengan membaca pula. Mereka sangat lihai memanfaatkan waktu-waktu kosong yang berdurasi singkat itu.

Sumber gambar: http://organisedcastle.wordpress.com

Menurut gue, memanfaatkan waktu-waktu kosong berdurasi singkat untuk hal yang berguna membutuhkan keahlian. Keahlian datang dari latihan yang dilakukan dengan disiplin. Latihan dengan disiplin datang dari niat atau kemauan. Niat itu sendiri bakalan timbul jika loe menganggap suatu hal sebagai hal yang menggairahkan dan memang loe banget deh.

Coba loe bayangin, ada berapa banyak waktu kosong berdurasi singkat yang bisa loe isi dengan hal berguna? Membaca buku salah satunya. Lainnya, membaca koran, situs berita, mengunjungi situs pemasaran untuk mendapatkan insight dan data terbaru. Yah kebetulan gue maniak buku, contoh-contoh yang gue tampilin seputar membaca ajah. :D

Lalu apa hubungannya dengan sedikit membaca dengan sedikit nge-blog? Jadi gini nih, kalo gue banyak membaca, banyak hal yang bisa gue bagiin, dari literatur-literatur itu gue hubungin sama pengalaman gue, dan artikel bisa tersusun. Dan karena gue orangnya murah hati (najeeeesssssss loe Rick!), ya gue seneng ajah gitu berbagi. Makanya di tahun 2013 ini gue mau memperbaiki diri, be a better man! (aromanyaaah curcolll nih!)

Konon ada suatu hal yang kalau mau menambahnya kita harus membagikannya. Apakah itu? Kasih. Kasih yang dibagikan akan membuat orang yang membaginya semakin besar kasihnya dan sebaliknya. Hmmm...dan menurut gue 'dalil' itu juga berlaku untuk hal-hal positif lainnya seperti: Ilmu, wawasan, senyum, dan hal positif lainnya. Karena kalo loe bersedia berbagi hal yang + pastilah karena loe mau berbagi kasih kan?

Jadi kita mau nambah hal yang + atau justru - nih? Udah tahun 2013, masih jaman gitu nambah yang - ???





Read More......

Be Open, Be Smart

Seorang teman curhat ke gue. Biasa curhat karyawan yah pasti soal bos dan manajemen yang selalu dianggap ngeselin. Yuk diliat, enjoyyyy...

Awal masuk di kantor baru, sangat tertakjub-takjub akan sistem marketing yang ada. Mengapa? Sangaaat old school!

Maka mulailah gue sebagai orang baru yang memang peduli akan kemajuan perusahaan (ciyeeeeh...) mengusulkan ide-ide segar based on my experience. Berikut percakapan yang coba saya gambarkan:

Gue (G): Bos, sekarang udah eranya online lohh....kita bikin online business yuk....saya dulu pernah bikin di perusahaan-perusahaan terdahulu.. (mulailah gue menjelaskan detail teknis konsep itu).
Bos (B): Ahh..ribet banget sih Pak...bagi saya mah yang penting jualan...omset..omset...kalo online kita punya akun Twitter kok. Dan ada juga website. Udahlah mikirin aja gimana sales kita naik.
G: Nah itu bos...supaya sales naik saran saya begitu. Kita banyakin cara kita menjangkau konsumen. Kita permudah konsumen mendapatkan produk kita. Dan fenomena online+socmednya ini sangat memungkinkan kita berdayakan to the max.
B: Tetep bagi saya ribet Pak. Belum pajaknya, dsb.

Ok. Ide gue ditolak. Gak papa sik. Cuma yang bikin gondok, selang setahun kemudian usul gue itu diambil. Mengapa? HQ minta kita untuk masuk ke online karena trend dunia mengarah ke sana. HQ sudah memberikan kuliah panjang lebar ke manajemen di Indonesia soal itu. Dan lucunya...manajemen di sini menganggap itu adalah pencerahan (ke mana ajeeehhhh???).

Nah demikian curhatan temen gue. Kasus di atas sering kita alamin sik, atau justru kita yang jadi antagonisnya. Untungnya tidak di tim gue. Mantan anggota tim gue tau banget bahwa gue selalu menciptakan suasana tanpa jarak di hubungan komunikasi. "Loe gue" akan sering didengar di ruangan kerja.

Mengapa? Karena gue begok. Karena bego makanya butuh banget yang namanya saran dari anak buah gue. Bisa aja ide gue kurang tepat untuk dilaksanakan, dan gue tidak akan pernah tau jika anak buah gue tidak bilanf kan? Cuma gimana anak buah mau ngasih saran kalo gue bersikap kaya Sumanto belom makan seminggu??

Alasan lainnya, gue percaya banget bahwa melakukan sesuatu karena terpaksa, karena takut dipecat, bahkan karena kewajiban sekalipun, akan kalah ampuh hasilnya jika kita melakukan karena memang kita ingin melakukannya. Jadi dengan manajemen terbuka (bukan manajemen telenji yakk..), dan hubungan persahabatan antara gue sama anak buah, lebih mudah gue meyakinkan mereka pentingnya suatu tugas dilaksanakan dengan baik. Dan thanks God mereka mau melakukannya dengan tersenyum.

Jadi mau jadi pinter? Yuk terbuka.

Read More......

13 Agustus 2011


13 Agustus 2011, itu saat yang bersejarah lho. Coba dipikir ada kejadian apa di hari itu? Sudah ketemu? Atau nyerah?


Di tanggal tersebut untuk pertama kalinya dalam hidup ini, mendengar denyut jantung janin anak kami yang ada di perut istri saya tercinta. Denyut jantung –yang semoga berjalan lancar- calon anak kami. (Kebetulan ilustrasi foto di samping persis dengan kondisi kehamilan istri saya)


Perasaan deg-deg seeer, haru biru, senang yang tidak bisa digambarkan apapun juga (beneran lho, senangnya mengalahkan saat mengetahui gaji naik 40% dalam tempo 6 bulan sesudah kenaikan pertama). Dan juga kesadaran akan bertambahnya tanggung jawab sebagai seorang ayah.


Memang terkesan norak sih ya, karena sebagian besar manusia di dunia juga pernah merasakan sensasinya menjadi ayah. Namun yah, tetap aja saya bahagia banget bisa merasakan momen itu. Norak-noraknya calon ayah siih…


Btw saya juga bener-bener takjub lho sama proses hadirnya manusia di muka bumi ini, coba bayangin deh: Sperma dan sel telur itu kan berupa cairan yah (CMIIW), yang secara fisik sama seperti ludah, gak ada istimewanya kan? Namun ajaib banget yah pertemuan sperma dan sel telur itu secara perlahan-perlahan menjadi gumpalan daging, terdapat denyut jantung, dan di usia kehamilan 9 bulan siap untuk dilahirkan ke dunia.


Hal itu yang sampai sekarang bikin saya terbengong-bengong dahsyatnya mekanisme prosedur Tuhan dalam menciptakan manusia. Dan setiap manusia itu punya rancangan-Nya masing-masing yang harus ditemukan, dipahami, dan dilakukan.


Sumber foto: http://19ramadhan.blogspot.com/2011/01/unforgetable-moments.html

Read More......

Matinya Kreativitas


Sebenarnya kenapa sih bisa terjadi sebuah brand dalam berkomunikasi ke khalayaknya kurang tajam, membosankan, sehingga tidak diperhatikan? Gak percaya? Coba deh tengok situasi dalam rumah kita masing-masing, bagaimana respon penghuni rumah saat sedang menonton siaran televisi dan muncul iklan. Biasanya kalimat yang akan keluar, “Ah iklan, pindah (saluran televisi) ah”.


Karena pola komunikasi merek via iklan sedikit macet, maka diliriklah pola komunikasi yang sifatnya non-iklan, sebut saja: PR, event, social media, online, dsb. Tapi sebenarnya sama aja, khalayak tetap tidak memperdulikannya. Kalau demikian bagaimana bisa dicapai komunikasi yang terintegrasi, yang tajam, menyegarkan, memancing orang untuk melihatnya, untuk kemudian meyakini bahwa sebuah merek dengan nilai-nilai yang ditawarkannya adalah yang terbaik?


Ada beberapa faktor, yang sifatnya eksternal dari pelaku komunikasi:


1. Brand owner yang kelewat mendikte, sehingga agensi komunikasi pemasaran, atau tim in-house menjadi seperti tukang yang cukup mengeksekusi saja tanpa boleh berpikir. Ini nyata lho, apalagi untuk perusahaan yang multi brand, bisa dipastikan tim in-house hanya bermain di tataran eksekusi. Karena yang harus didengarkan sebagai panduan adalah brand owner (brand/product manager), memang hal ini bisa saja disebabkan karena brand ownership yang begitu tinggi dari brand/product manager, tapi akibatnya kreativitas pelaku komunikasi menjadi terkikis. Kalau sebuah komunikasi gagal maka kesalahan ada pada tim pelaksana, tapi kalo sukses maka puja-puji bagi brand/product manager. Penting banget ada kesediaan dari brand owner untuk memberikan kepercayaan kepada pelaku komunikasi yang memang lebih piawai dalam mengolah pesan komunikasi merek.


2. Terbatasnya akses untuk mendapatkan referensi-referensi, bahan, tulisan mengenai komunikasi pemasaran. Tapi dengan adanya internet, dan toko buku yang menjamur sebenarnya hal ini relatif dapat ditanggulangi.


3. Kepemimpinan dari user, maksudnya person yang membawahi brand manager, promotion manager, marcomm manager. Bagaimana menerapkan pola kerja yang baik, yang memungkinkan setiap bagian mengeluarkan kemampuan terbaiknya untuk kemajuan perusahaan, menutup celah satu bagian lebih superior dibandingkan yang lain. Kalau hal ini bisa ditata dengan baik, maka satu lubang bisa ditutup. Hal ini berlaku hanya untuk pelaku komunikasi yang berada di tim in-house.


Sementara faktor yang bersifat internal:


1. Mental pelaku komunikasi dalam menyikapi situasi. Meski diposisikan sebagai tukang, bagaimana respon yang tepat? Apakah nrimo saja sehingga kreativitas mati? Atau justru memberontak (resign, memecat klien) karena amarah yang membabi buta? Atau malah mencoba mencari solusi atas macetnya kreativitas dengan mengundang diskusi para stake holder yang terkait? Intinya bagaimana produk-produk komunikasi yang dihasilkan lebih menggigit, seharusnya bisa dibicarakan untuk mencari solusi yang terbaik.


2. Motivasi diri sendiri. Dengan keterbatasan akses, tekanan dari pihak lain, namun kita tetap diwajibkan memiliki output yang baik bukan? Maka harus rajin-rajin memotivasi diri sendiri untuk berkembang, untuk mencari sumber-sumber pengetahuan dan menerapkannya.


Bayangkan jika mental pecundang, dan motivasi pun tidak ada, maka stagnasi adalah hal yang pasti untuk kemudian layu dan mati. Jadi jangan biarkan karakter, kreatitivtas mati, namun sebaliknya mari hasilkan output yang positif bagi merek yang kita usung.


Sumber gambar: www.Google.com
Read More......

Konsistensi Adalah Salah Satu Kunci Branding


Hari ini lagi ngajak maknyak makan kwetiaw goreng di RM. Surya. RM. Surya ini adalah warung yang menyediakan makanan-makanan umum dengan citarasa China. Ada kwetiaw, bakmi, bihun, nasi, bistik, capcay, fuyunghay, dan sebagainya.

Pas lagi menunggu hidangan disajikan, pikiran melayang memikirkan betapa nama Surya ini sudah lumayan nempel di otak. Dulu pas tinggal di Bekasi ada RM. Surya dengan varian jenis makanan yang serupa, di Pademangan, Jakarta Utara juga ada. Di Jakarta Timur pun ada. Kayanya di setiap lokasi tinggal saya selalu ada RM. Surya terdekat yang bisa disambangi. Jadi secara perspektif pemasaran, bisa dibilang RM. Surya ini strategi place nya cukup oke.

Mengapa saya sampai rela-rela ngebelain nulis tentang RM. Surya ini, well u can call me they biggest fans. Nah saya makan berdua dengan maknyak saya, karena cuma berdua kita hanya pesan 1 porsi kwetiaw goreng. Seperti saya bilang sebelumnya, bahwa 1 porsi ala carte itu sangat banyaaaak. Jadi 1 porsi kwetiaw goreng pun sudah lebih dari cukup untuk kita nikmati berdua dengan total tagihan yang saya bayar sebesar 34 ribu rupiah. Seporsi menu makanan ala carte RM. Surya itu kisarannya dari 10 ribu sampai 50 ribuan, dan bisa dimakan untuk 3 orang. See, jadi secara price pun si RM. Surya ini juga cukup punya "taji" untuk menarik hati sang konsumen.

Meski secara place, sebuah brand eksis di mana-mana, dan memiliki harga yang menarik, namun jika secara kualitas produk itu mengecewakan, pastilah konsumen lari meninggalkan brand. Itu adalah hukum "alam" marketing. Nah RM. Surya ini memiliki keunggulan di kedua faktor (Place dan Price), ditambah lagi rasanya yang gurih dan lezat membuat saya rela memutar rute perjalanan pulang untuk mampir dengan ibu saya. Secara produk pun RM. Surya mampu menggenerate produk yang oke.

Lalu bagaimana dengan promosi? Well, untuk kasus RM. Surya ini sepertinya waktulah yang menjadi ukurannya. Maksudnya karena konsisten untuk menjalankan 3 faktor: Place, Price, dan Product untuk jangka waktu yang lama maka loyal consumen pun rela memberitakan kepada relasinya. Apalagi jaman 3.0 ini, RM. Surya pun goes online. Tidak percaya? Tulisan ini buktinya!


Sumber gambar: www.google.com


Read More......

Manusia Dan Hewan


Tahu arti kata hewan? Pernah memperhatikan hewan? Mungkin kucing atau anjing. Kedua hewan ini buang hajat sembarangan, kencing sembarangan, reproduksi di sembarang tempat dan sembarangan lawan jenis. Hewan ini melakukan hal-hal demikian karena menuruti hasrat dagingnya. Kalo lapar ya makan, kalo kebelet buang hajat segera dilakukan.

Mengapa? Karena hewan tidak mempunyai akal budi seperti manusia. Dengan akal budi yang diberikan TUHAN, seharusnya manusia dapat menundukkan hasrat dagingnya dengan berpikir jernih menggunakan akal budi. Berbeda dengan hewan, karena tidak memiliki akal budi, hewan segera meresponi stimulus hasrat dirinya dengan tindakan; tanpa menundanya atau menahan diri. Karena hewan tidak memiliki akal budi.

Sebenarnya jika kita dalam melakukan suatu tindakan karena bersumber dari stimulus hasrat daging, kita tidak berbeda dengan hewan. Parahnya banyak manusia yang hidupnya setiap hari memuaskan hasrat dagingnya yang tiada habisnya ini tidak sadar dengan keadaan dirinya. Mungkin karena dibalut dengan sederet gelar kehormatan atau bertumpuk-tumpuk deposito dan surat-surat berharga. Atau mungkin juga karena terlalu putus asa akan pemenuhan 3 hal pokok jasmani (sandang, papan, pangan), yang kerap kali sukar didapat, sehingga menjadi pembenaran untuk melakukan apa pun demi hal ini. Nah situasi menghamba pada keinginan daging dan hasrat diri ini jika tidak disadari, maka akan menuju kondisi matinya akal budi.

Jadi, dengan modal yang diberikan TUHAN ini, seharusnya kita menjadi bijaksana dalam menjalani hidup. Masalahnya adalah bagaimana mendayagunakan akal budi ini semaksimal mungkin. Satu-satunya cara agar akal budi kita bekerja maksimal adalah dengan memburu pengenalan dan pemahaman yang benar akan TUHAN, Sang Sumber Kebijaksanaan. Itu hal pertama yang harus menjadi keinginan kita.

Sumber gambar: http://nowpublic.net
Read More......
 

What they said?