RSS
email
0

Riset Digital Shopper

Ada laporan pemasaran terbaru. Isinya menganalisa lebih dari 168 ribu pembelian produk elektronik konsumer, yang konsumennya menggunakan digital media dalam perjalanan menuju proses pembelian. Laporan itu juga mengungkapkan bahwa digital media dan periklanan sangat-sangat mempengaruhi hampir setengah dari pembelian. Riset ini juga mengidentifikasi 6 tipe digital shopper. Riset ini berpendapat bahwa perjalanan pembelian konsumen lebih dipengaruhi oleh behavioral factors dari pada demografi.
Sumber: http://google.com

Gw dapet reportnya, gw coba ringkas ya. Di bawah ini adalah segmen-segmennya:

Basic Digital Consumers.”
Merupakan porsi terbesar (29%) yang sangat mengandalkan dunia digital. Mereka sangat mempertimbangkan hasil pencarian search engine, juga informasi di website ritel dan merek. Namun cenderung tidak memperdulikan local channels sama seperti portal berita.
Mereka mengingat iklan display lebih baik daripada segmen lainnya, dan 10% diantaranya mengatakan bahwa iklan display telah membujuk mereka untuk melihat informasi tentang pengiklan. Segmen ini akan meresponi penawaran promosi yang ‘terlihat’ menguntungkan, dengan 73% berkata bahwa mereka akan memburu promosi-promosi seperti itu.

Retail Scouts.”
Segmen kedua terbesar (22%), mereka juga mengandalkan search engine dan retail sites, tapi mereka menggunakan mobile device untuk surfing di retail/brand sites, social and local sites, juga portal berita. Mereka memiliki perjalanan menuju pembelian yang paling pendek dibandingkan segmen lainnya.
Grup ini menggunakan mobile device terutama di rumah, dan meresponi dengan cepat terhadap iklan di tablet. Mereka juga seneng banget jika menerima kupon diskon/belanja yang bisa ditukarkan secara online atau offline.  

Brand Scouts.”
Kelompok ini mewakili 20% dari populasi digital shopper, dan menggunakan sedikit gadget dalam perjalanan menuju pembelian, mereka hanya memanfaatkan search engine dan website merek sepanjang perjalanan pembelian mereka.
72% dari konsumen ini memulai perjalanan mereka dengan merek yang sudah mereka incar di kepala mereka, dan mereka sangat meresponi untuk mencari harga rendah. Konsumen ini menunjukkan respon yang baik untuk online video commercials. Mereka juga memiliki preferensi yang lebih tinggi untuk pembelian secara offline dari segmen lain.

Digitally Driven Segment.”
Berjumlah 16% dari populasi, ini adalah pembeli yang bergerak paling digital, menggunakan masing-masing dari 7 alat diidentifikasi: pencarian, situs ritel, situs merek, mobile, sosial, lokal, dan portal berita. Segmen ini adalah yang paling sangat bergantung pada media sosial, dengan 29% dari perjalanan pembelian mereka dipengaruhi oleh percakapan yang dilakukan merek di media sosial. (Sekitar 14% juga mengunjungi laman merek di media sosial pasca pembelian.) Segmen ini juga memiliki rasio tertinggi online untuk pembelian offline, dan menggunakan ponsel lebih dari segmen lain.
30% dari segmen ini meresponi dengan baik pada iklan. Namun, mereka tidak menonton banyak iklan video atau menganggap iklan itu berguna. Sebaliknya, mereka lebih responsif pada iklan pencarian lebih daripada segmen lain.

Calculated Shoppers.”
Kelompok ini menyumbang 11% dari populasi digital shopper, dan menggunakan semua alat digital. Dibandingkan dengan segmen sebelumnya, yang memakan waktu antara 3-6 langkah untuk menyelesaikan pembelian mereka, pembelian yang dilakukan segmen ini lebih dihitung dengan baik, lebih diperhitungkan, memerlukan rata-rata 14 langkah.

Segmen ini sering menggunakan ponsel mereka untuk membandingkan harga ketika mendekati pembelian. Mereka juga menanggapi iklan, dan kedua-paling mungkin untuk menggunakan media sosial. Para peneliti mencatat bahwa ini adalah yang paling matang untuk program loyalitas, karena mereka pembeli berat dan menerima email pemasaran.


Eternal Shoppers.”
Kelompok ini mewakili hanya 2% dari digital shopper. Mereka memiliki 35 langkah selama perjalanan mereka menuju pembelian, sementara memanfaatkan hanya 4 alat: pencarian, situs ritel, situs merek, dan media sosial.
Merka dapat dijangkau melalui email, tapi search engine adalah cara terbaik untuk menjangkau mereka lebih efektif, karena mereka sangat tertarik untuk riset sebelum melakukan pembelian.


Demikian laporan ini dari gw. Selamat merancang strategi.
Read more
0

Hot Stuff: Native Advertising

Kemanakah tren periklanan saat ini? Kemanakah tren komunikasi pemasaran saat ini? Kalo ditanyakan ke gw, jawaban gw adalah eranya interruptive ads sudah berlalu. Khalayak udah males diterpa pesan-pesan pemasaran yang interruptive.
Sumber: http://jontusmedia.com

Sekarang eranya komunikasi pemasaran yang  menghibur dan useful. Eranya komunikasi pemasaran mengubah bentuk menjadi lebih relevan dan menghibur bagi khalayaknya.

Apakah itu berarti advertorial? Hm....kalo perusahaan media pasti menggolongkannya seperti itu karena terkait dengan rate iklan yang harus dibayar. Tapi gw lebih setuju menggunakan istilah native advertising, istilah yang juga sudah populer di dunia bule sana. Native advertising, terjemahan bebas gw, pesan pemasaran yang narrow, disesuaikan dengan audience-nya. Jadi jika audience-nya adalah fans klub bola, merek akan mengemas pesan pemasaran dibalik “tips menjadi suporter yang pasti dikenal pemain klub”. Apa hubungan native advertising dengan content marketing? Memang native advertising ini adalah salah satu perwujudan content marketing.

Memang native advertising akan membuat divisi pemasaran perusahaan pemegang merek seakan menjadi perusahaan media, karena dituntut dapat menghasilkan konten yang baik dan layak untuk dikonsumsi audience-nya. Tapi sekali lagi, ini bukan fenomena baru. Beberapa merek besar sudah melakukannya, sebut saja: Red Bull, AMEX, P & G, Coca cola.

Nah mengapa mereka melakukannya? IMO, karena mereka sudah mulai memahami, bahwa berbicara tentang diri mereka sendiri (merek narsis) dalam setiap konten adalah suatu hal yang sia-sia belaka. Yah..kecuali jika anggaran pemasaran tak berseri dan bisa digunakan seperti tisu :D. Makanya mereka mulai melakukan komunikasi gaya baru, komunikasi yang (diharapkan) membuat audience tertarik untuk engage dengan mereka.


So, do you ready for native advertising? 
Read more
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Riset Digital Shopper

Ada laporan pemasaran terbaru. Isinya menganalisa lebih dari 168 ribu pembelian produk elektronik konsumer, yang konsumennya menggunakan digital media dalam perjalanan menuju proses pembelian. Laporan itu juga mengungkapkan bahwa digital media dan periklanan sangat-sangat mempengaruhi hampir setengah dari pembelian. Riset ini juga mengidentifikasi 6 tipe digital shopper. Riset ini berpendapat bahwa perjalanan pembelian konsumen lebih dipengaruhi oleh behavioral factors dari pada demografi.
Sumber: http://google.com

Gw dapet reportnya, gw coba ringkas ya. Di bawah ini adalah segmen-segmennya:

Basic Digital Consumers.”
Merupakan porsi terbesar (29%) yang sangat mengandalkan dunia digital. Mereka sangat mempertimbangkan hasil pencarian search engine, juga informasi di website ritel dan merek. Namun cenderung tidak memperdulikan local channels sama seperti portal berita.
Mereka mengingat iklan display lebih baik daripada segmen lainnya, dan 10% diantaranya mengatakan bahwa iklan display telah membujuk mereka untuk melihat informasi tentang pengiklan. Segmen ini akan meresponi penawaran promosi yang ‘terlihat’ menguntungkan, dengan 73% berkata bahwa mereka akan memburu promosi-promosi seperti itu.

Retail Scouts.”
Segmen kedua terbesar (22%), mereka juga mengandalkan search engine dan retail sites, tapi mereka menggunakan mobile device untuk surfing di retail/brand sites, social and local sites, juga portal berita. Mereka memiliki perjalanan menuju pembelian yang paling pendek dibandingkan segmen lainnya.
Grup ini menggunakan mobile device terutama di rumah, dan meresponi dengan cepat terhadap iklan di tablet. Mereka juga seneng banget jika menerima kupon diskon/belanja yang bisa ditukarkan secara online atau offline.  

Brand Scouts.”
Kelompok ini mewakili 20% dari populasi digital shopper, dan menggunakan sedikit gadget dalam perjalanan menuju pembelian, mereka hanya memanfaatkan search engine dan website merek sepanjang perjalanan pembelian mereka.
72% dari konsumen ini memulai perjalanan mereka dengan merek yang sudah mereka incar di kepala mereka, dan mereka sangat meresponi untuk mencari harga rendah. Konsumen ini menunjukkan respon yang baik untuk online video commercials. Mereka juga memiliki preferensi yang lebih tinggi untuk pembelian secara offline dari segmen lain.

Digitally Driven Segment.”
Berjumlah 16% dari populasi, ini adalah pembeli yang bergerak paling digital, menggunakan masing-masing dari 7 alat diidentifikasi: pencarian, situs ritel, situs merek, mobile, sosial, lokal, dan portal berita. Segmen ini adalah yang paling sangat bergantung pada media sosial, dengan 29% dari perjalanan pembelian mereka dipengaruhi oleh percakapan yang dilakukan merek di media sosial. (Sekitar 14% juga mengunjungi laman merek di media sosial pasca pembelian.) Segmen ini juga memiliki rasio tertinggi online untuk pembelian offline, dan menggunakan ponsel lebih dari segmen lain.
30% dari segmen ini meresponi dengan baik pada iklan. Namun, mereka tidak menonton banyak iklan video atau menganggap iklan itu berguna. Sebaliknya, mereka lebih responsif pada iklan pencarian lebih daripada segmen lain.

Calculated Shoppers.”
Kelompok ini menyumbang 11% dari populasi digital shopper, dan menggunakan semua alat digital. Dibandingkan dengan segmen sebelumnya, yang memakan waktu antara 3-6 langkah untuk menyelesaikan pembelian mereka, pembelian yang dilakukan segmen ini lebih dihitung dengan baik, lebih diperhitungkan, memerlukan rata-rata 14 langkah.

Segmen ini sering menggunakan ponsel mereka untuk membandingkan harga ketika mendekati pembelian. Mereka juga menanggapi iklan, dan kedua-paling mungkin untuk menggunakan media sosial. Para peneliti mencatat bahwa ini adalah yang paling matang untuk program loyalitas, karena mereka pembeli berat dan menerima email pemasaran.


Eternal Shoppers.”
Kelompok ini mewakili hanya 2% dari digital shopper. Mereka memiliki 35 langkah selama perjalanan mereka menuju pembelian, sementara memanfaatkan hanya 4 alat: pencarian, situs ritel, situs merek, dan media sosial.
Merka dapat dijangkau melalui email, tapi search engine adalah cara terbaik untuk menjangkau mereka lebih efektif, karena mereka sangat tertarik untuk riset sebelum melakukan pembelian.


Demikian laporan ini dari gw. Selamat merancang strategi.
Read More......

Hot Stuff: Native Advertising

Kemanakah tren periklanan saat ini? Kemanakah tren komunikasi pemasaran saat ini? Kalo ditanyakan ke gw, jawaban gw adalah eranya interruptive ads sudah berlalu. Khalayak udah males diterpa pesan-pesan pemasaran yang interruptive.
Sumber: http://jontusmedia.com

Sekarang eranya komunikasi pemasaran yang  menghibur dan useful. Eranya komunikasi pemasaran mengubah bentuk menjadi lebih relevan dan menghibur bagi khalayaknya.

Apakah itu berarti advertorial? Hm....kalo perusahaan media pasti menggolongkannya seperti itu karena terkait dengan rate iklan yang harus dibayar. Tapi gw lebih setuju menggunakan istilah native advertising, istilah yang juga sudah populer di dunia bule sana. Native advertising, terjemahan bebas gw, pesan pemasaran yang narrow, disesuaikan dengan audience-nya. Jadi jika audience-nya adalah fans klub bola, merek akan mengemas pesan pemasaran dibalik “tips menjadi suporter yang pasti dikenal pemain klub”. Apa hubungan native advertising dengan content marketing? Memang native advertising ini adalah salah satu perwujudan content marketing.

Memang native advertising akan membuat divisi pemasaran perusahaan pemegang merek seakan menjadi perusahaan media, karena dituntut dapat menghasilkan konten yang baik dan layak untuk dikonsumsi audience-nya. Tapi sekali lagi, ini bukan fenomena baru. Beberapa merek besar sudah melakukannya, sebut saja: Red Bull, AMEX, P & G, Coca cola.

Nah mengapa mereka melakukannya? IMO, karena mereka sudah mulai memahami, bahwa berbicara tentang diri mereka sendiri (merek narsis) dalam setiap konten adalah suatu hal yang sia-sia belaka. Yah..kecuali jika anggaran pemasaran tak berseri dan bisa digunakan seperti tisu :D. Makanya mereka mulai melakukan komunikasi gaya baru, komunikasi yang (diharapkan) membuat audience tertarik untuk engage dengan mereka.


So, do you ready for native advertising? 
Read More......
 

What they said?